
"Petarung jalanan apaan?" selagi menyusuri gang sempit Gabriela terus saja mengulang pertanyaan itu.
"Berisik sialan, apa kau tahu suaramu bisa membunuh seseorang?"
"Mangkanya cepat beritahu aku sialan... aku malah ikut-ikutan dengan gaya bicaramu."
Luis mendecapkan lidahnya lalu menjawab.
"Petarung jalanan adalah profesi dimana seseorang berkelahi dan mendapatkan uang."
Gabriela menghantam kepala Luis dengan besi yang dia ambil dari tempat sampah tentu saja besi itu langsung melengkung.
"Kepalamu juga sangat kuat."
Luis segera mencengkeram kerah Gabriela dengan tatapan mengancam.
"Hah? Dari tadi kau ini ngajak gelut, sudah gue jelasin, lu malah pukul gue seenak jidat."
"Maaf, maaf, aku hanya penasaran saja, bagaimana manusia memiliki tubuh sekuat ini?"
Luis melepaskan cengkeramannya lalu mendecapkan lidahnya sebelum kembali melanjutkan langkahnya, tentu saja Gabriela terus mengikutinya dari belakang sampai ujian kandidat itu dimulai dia akan terus mengikuti Luis kemanapun berada.
Saat tiba di ujung gang banyak kerumunan orang yang berteriak selagi mengacungkan uang di tangan mereka sementara dua orang yang mereka semangati tampak bertarung layaknya sebuah pertunjukan tinju.
"Heh, jadi seperti ini petarung jalanan itu."
Sebelum Luis melangkah seorang pria menghentikannya, pria itu bertubuh besar dengan satu mata tertutup dan rambut acak-acakan.
"Maaf Luis, mulai sekarang kau tidak boleh ikut petarung jalanan lagi, kau terlalu kuat hingga musuhmu tidak ada yang mau melawanmu.. ambillah ini sebagai konfensasi dariku."
"Cih."
__ADS_1
Dengan kasar Luis mengambil kantong uang berisi 10 koin emas yang disodorkan pria itu lalu berbaliknya untuk pergi ke tempat lain, berbeda dengan Luis yang kesal Gabriela tertawa terbahak-bahak.
"Sudah kuduga kau lebih cocok bekerja di istana, dengan kekuatanmu akan banyak orang yang akan terlindungi."
Tanpa membalas pernyataan itu, Luis membeli sekotak apel lalu membawanya naik ke sebuah tangga yang sangat jauh.
"Hey, kenapa kau membeli banyak apel?"
"Sudah kukatakan kau sangat berisik, dan juga kau ingin menghantamku dengan batu sekarang."
"Membuat seorang wanita menunggu jawaban pria itu sangat mengesalkan, aku mungkin tanpa sengaja membunuhmu."
Tentu yang dikatakan Gabriela bukan sebuah pengakuan cinta melainkan obrolan biasanya.
"Inilah yang membuat wanita itu mengerikan."
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak juga, nanti kau tahu saat berada di atas sana."
Ketika anak-anak melihat sosok Luis mereka semua segera berlari mengerumuninya.
"Itu Luis, dia datang."
"Yo kalian, aku membawa apel untuk semuanya."
"Terima kasih Luis."
Setelah menjatuhkan kotak apel itu beberapa gadis kecil berusaha memanjat tubuh tinggi Luis.
"Kalian semua ini, jangan berebut... apelnya cukup untuk semuanya."
__ADS_1
Gabriela yang memperhatikan dari samping hanya tersenyum kecil, dengan ini mungkin saja hadiah yang dijanjikan tuannya akan ia peroleh.
***
Sehari sebelum ujian. Di ruangan luas yang menjadi kantorku sementara waktu, ke tiga pelayan yang kuminta agar mencari kandidat raja telah datang dengan pilihan mereka.
Pertama adalah Rin Elisten yang merekomendasikan dua orang bernama Arthur Cronicle serta Clara yang keduanya berasal dari satu desa yang sama.
Kedua adalah Amnestha Hesolviar yang merekomendasikan pria cantik bernama Pireta dan ketiga yang terakhir adalah Gabriela Askar yang entah darimana mendapatkan kandidatnya itu.
Luis.
"Apa lihat-lihat ngajak barantem sialan."
"Hey Amnestha, di sini banyak wanita aku takut."
"Aku akan menjadi raja dan hidup senang sekarang, Clara kau ingin apa?"
"Jangan terlalu percaya diri Arthur, di sini ada bangsawan yang lebih unggul."
Apa-apaan ini?
Aku mendesah pelan selagi memegangi kepalaku sedangkan Rusina tersenyum kecil seperti menikmati situasi yang terjadi.
"Mulai sekarang mohon bantuannya, kerajaan baru ini akan mengandalkan kalian mulai sekarang," kataku demikian.
"Apa ada uangnya?"
"Kau harus punya izin pada bangsawan untuk meminta uang."
"Hey Amnestha, wanita di dekat orang itu sangat menakutkan bahkan dia tidak mengenakan bra."
__ADS_1
"Berisik kalian, mau aku tendang keluar, sialan."
Mari berharap yang terbaik untuk mereka.