
Di depan penonton yang menggila orang-orang melontarkan semangat pertarungan, lawan pertamaku adalah pria yang menggunakan kapak sebagai senjatanya.
Aku bertanya ke arahnya.
"Kenapa kau bertarung?'
"Aku hanya ingin melakukannya, sungguh menyenangkan melihat orang mati di depanku."
"Begitu."
Saat bel dibunyikan pria itu menerjang ke arahku.
Aku tak perlu repot-repot untuk menghindarinya, sekali tebasanku mampu membelah tubuhnya hingga menumpahkan darah ke tanah.
Walau hal itu di sebut pembunuhan penonton malah lebih bersemangat dari sebelumnya, di antara mereka kulihat sosok pria sedang duduk di singgasana bersama beberapa wanita.
Kemungkinan besar dia adalah pemilik kota ini.
Setelah mengalahkan lawan pertama selanjutnya beralih ke lawan kedua dan seterusnya, aku masih bisa mengatasinya sampai dilawan ke enam adalah seorang wanita yang mengenakan gaun panjang.
Ia telihat gemetaran saat mengangkat pedang dengan kedua tangannya.
"A-aku harus bisa keluar dari kota ini."
Dilihat darimanapun wanita ini jelas bukan seorang petarung, dia berlari ke arahku secara asal-asalan yang dengan mudah aku hindari dengan lompatan ke kiri dan ke kanan.
"Aaah."
Ia terus berteriak dengan sekuat tenaga yang mana aku tangkap dari belakang.
"Tunggu, apa yang ingin kau lakukan?"
Aku berbisik di telinganya.
"Diamlah, setelah ini aku akan mengeluarkanmu dari kota ini."
"Apa maksudmu?"
"Kurasa sudah waktunya," bersamaan perkataanku ledakan mulai terdengar dari setiap sudut kota, aku juga melihat beberapa pedang cahaya bermunculan di langit.
Sorakan yang tadinya bergemuruh berubah menjadi kepanikan intens, mereka semua berlarian keluar Colosseum namun aku yakin bahwa para pelayanku tak akan membiarkan mereka hidup satu orang pun.
Para petarung yang masih berada di ruang tunggu bermunculan lalu mengepungku dari segala arah.
Aku merangkul wanita di dekatku dan membiarkannya terus menempel dengan melingkarkan tangannya di belakang leherku sementara kakinya dia lingkarkan di tubuhku.
__ADS_1
"Jika ingin hidup teruslah seperti ini."
"Tapi ini memalukan."
"Sudahlah, aku sangat menikmatinya."
"Dasar mesum."
Alasan sebenarnya, jika dia terpisah denganku ada kemungkinan pelayanku akan membunuhnya juga, karena itu aku akan berkorban di sini.
Berkorban.
Para petarung menyerangku secara bersamaan, aku menghindarinya lalu membalas serangannya setelahnya, satu orang mengayunkan pedangnya dan aku menangkisnya sebelum menendang wajahnya.
"Guakh."
Dia terlempar menubruk rekannya.
Aku kembali menyerang yang lainnya juga.
Sekitar 20 orang berhasil kukalahkan.
"Sebenarnya siapa kau?"
"Cuma orang desa," balasku pada orang yang sekarat.
"Sebentar lagi para penjaga akan datang, saat mereka datang kau pasti akan mati."
Aku tak bisa menahan tawaku, hingga dia memiringkan kepalanya heran.
"Maaf mengecewakanmu tapi mereka tidak akan pernah datang kemari."
"Apa?"
"Para pelayanku mungkin sudah membunuh mereka bersama penduduk kota ini"
"Kau?"
Seekor laba-laba raksasa melompat dari atas Colosseum lalu mendarat di depanku, dia pasti Tarantula, setiap matanya fokus menatap ke arahku lalu dia menembakan utas dari mulutnya.
Aku menghilang dan muncul di samping.
Aku tidak memiliki serangan sihir, yang kupunya hanyalah racun, kuulurkan tanganku dan dari sana asap keunguan menyebar ke arah keduanya.
Si pemilik kota tampak terbatuk-batuk lalu tumbang ke samping, sedangkan si laba-laba melompat dengan cepat ke arahku.
__ADS_1
Aku tidak bergerak sedikitpun melainkan menusukan pedangku untuk menembus tubuhnya.
"Bagi iblis agung sepertimu, kau sangat lemah."
Aku menarik pedangku lalu menusukannya beberapa kali hingga tewas sebelum akhirnya membuangnya ke samping, asap racun mulai menghilang dan ketiga pelayanku muncul tepat di belakangku.
Gabriela menatapku sinis.
"Ada apa dengan pose wanita itu?"
"Sepertinya seru, boleh aku melakukannya juga," tambah Amnestha dan Rin menggelengkan kepalanya.
"Ini jelas bukan waktu pas untuk melakukan hal seperti itu," mendengarnya, wanita di dekapanku segera turun dan melepaskanku begitu saja.
Wajahnya tampak memerah akan tetapi sesat itu berubah menjadi kebencian yang dia arahkan ke arah pemilik kota yang sudah tak berdaya.
"Gara-gara dia, suamiku harus mati di depan mataku, aku tidak akan memaafkanmu, dengan tanganku aku akan membunuhmu," katanya selagi mengambil pedang di tanah, dengan tubuh gemetaran dia berjalan menyeret kakinya.
Dia mengangkat pedangnya, bersiap menusuknya namun aku beralih ke tiga pelayanku, hingga mereka segera menghentikannya.
Amnestha dan Gabriela menghentikan tubuh wanita itu sedangkan Rin menusukan tangannya ke si pemilik kota lalu mengambil jantungnya dan menghancurkannya dengan mudah
Wanita itu menangis lalu berteriak ke arahku.
"Kenapa kau menghalangiku? Seharusnya aku sendiri yang membunuhnya."
Aku berjalan mendekat kemudian ketiga pelayanku mundur dan berdiri dengan rapih, aku menyentuh perut si wanita itu.
"Kau sedang hamil kan? Aku pikir anakmu nanti akan sedih jika ibunya jadi seorang pembunuh."
"Bagaimana kau tahu?"
"Perutmu agak sedikit besar, dan dadamu agak sedikit turun."
Gabriela melompat ke arahku lalu mencekikku dari belakang.
"Jangan mengatakan hal seenaknya saja tuan, pikirkanlah lawan bicaramu."
Wanita itu terduduk dengan lemas selagi menutupi wajahnya dengan tangis. Rin mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri.
"Sebaiknya kita tunggu di luar kota saja, tuan."
"Aah, biar aku yang mengalahkannya sendiri."
Ketiga pelayanku mengangguk paham lalu berjalan bersama keluar Colosseum selagi memapah wanita itu, aku mengalihkan pandanganku ke arah tubuh laba-laba yang sejak tadi berdenyut, perlahan tubuhnya terus membesar hingga memaksaku untuk melompat berdiri di bagian atas Colosseum.
__ADS_1
Aku memunculkan Garandbell di tanganku dan seperti biasa tanganku berubah jadi tengkorak.
"Kau keras kepala sekali, kau ingin ronde ke dua, maka aku akan melayaninya."