
Di atas singgasana itu, sosok yang disebut raja Dunia Encore terlihat kesal, seluruh raja yang dia ciptakan telah dihancurkan terlebih makhluk bencana sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Bagaimana bisa? Panggil empat jenderalku."
Tak lama kemudian mereka muncul di hadapannya. Salah satu wanita yang membawa buku besar berkata.
"Jika untuk mengalahkan mereka kurasa aku juga cukup tuanku."
"Hah, kau ini paling lemah Granis, akulah yang harus melawan mereka... otot-ototku akan menghabisi mereka."
"Siapa yang kau panggil lemah Triton."
"Tentu saja kau?"
"Biar aku tunjukkan sesuatu yang mengerikan."
Granis dan Triton terkena pukulan di kepala oleh seorang pria di belakangnya.
"Jangan bertengkar, tuan kita meminta kita datang kemari dengan kata lain beliau akan menyuruh kita sekaligus."
"Diablo memang hebat," kata seorang pria lagi yang memainkan bilah belati di tangannya.
Sementara Encore melanjutkan.
"Kuperintahkan kalian untuk bersiaga di wilayah ini, sebentar lagi mereka akan datang kemari untuk menyerang kita."
__ADS_1
"Laksanakan."
***
Aku dan Akane menyelinap di antara bangunan yang menjulang tinggi, kota ini sudah ditinggalkan dan hanya di isi oleh sedikit bawahan Encore.
Tepat saat kami melangkahkan kaki sebuah ledakan menggema di udara.
Asap mengepul dari sekitarku dan kulihat seorang pria duduk di atas bangunan selagi memainkan belati di tangannya.
"Namaku Deron, tak kusangka kalianlah yang mendatangiku."
Deron melempar belati ke arahku dan aku menangkisnya ke samping, belati itu jatuh ke tanah kendati demikian bergerak kembali mengikuti gerakan tangan pemiliknya.
Akane menangkisnya beberapa kali hingga belati itu kembali ke tangan pengunaannya.
Aku yang sudah ketahuan mengayunkan pedang ke arahnya dan dengan santai Deron menahannya tanpa kesulitan sebelum menjatuhkanku ke bawah.
Akane yang melihat celah juga menyerang dari bawah hingga senjata keduanya saling berbentuk menciptakan percikan kilat ke udara.
"Kagutsuchi."
Bam.
Ledakan memaksa Deron untuk mendaratkan kakinya di bawah hingga aku maupun Akane mengepungnya.
__ADS_1
Sebelum Akane menyerangnya sebuah buku terbang di atasnya lalu menghisapnya masuk ke dalam, seorang yang melakukannya adalah wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Granis.
"Dua lawan dua tidak adil, seharusnya satu lama satu."
Buku itu juga menghisapnya masuk.
"Padahal aku sedang bersenang-senang, apa boleh buat kau akan menjadi pelampiasan rasa sakit sesungguhnya."
"Apa menurutmu begitu?" kataku merubah kedua mataku menjadi gelap gulita sebelum akhirnya melesat maju.
Pertarungan ini menciptakan bilah-bilah pedang yang menghancurkan setiap apa yang dilewatinya, aku memutar pedangku dan 'Wus' tanah-tanah terbelah menjadi potongan kecil.
Belati yang dipegang Deron bersinar dan ia dengan baik menangkis seranganku yang jelas bukan serangan biasa.
Dia melesat maju dan aku pun melayani serangan langsung darinya hingga kami berdua terlempar menembus bangunan di belakang kami.
"Haha ini baru pertarungan, tunjukan semua kemampuanmu."
"Tanpa dikatakanpun akan kulakukan."
Di sisi lain aku bisa melihat beberapa ledakan terjadi di tempat lain, Ibela dan Ken juga pasti sedang melawan musuh.
Saat anak buah Encore teralihkan oleh kami, Selly dan Sella akan menyelinap ke tempat di mana Encore berada, lagipula tujuan awal kami kemari adalah untuk memperbaiki dunia ini sekaligus untuk menebus dosa yang pernah dilakukan keduanya.
Singkatnya dengan mengalahkan Encore dunia ini akan kembali damai.
__ADS_1
Sudah waktunya mereka menunjukkan kekuatan mereka sesungguhnya.