Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 209 : Membuat Sebuah Masakan


__ADS_3

Di sela-sela pagi yang damai, aku menyempatkan diri bertanya pada Rin.


"Rin, kau itu menyukai gadis kan?"


"Benar."


Dia sama sekali tidak menyangkalnya, aku melanjutkan.


"Kau menyukaiku juga?"


"Iya."


"Dengan kata lain, selama ini kau menganggapku sebagai gadis? ....Tunggu, kenapa kau diam saja?"


Obrolan di pagi hari itu berakhir lebih cepat dari yang kubayangkan.


Hari ini kami akan meninggalkan kota tanpa tahu bagaimana cara menghilangkan kabut di bawah pegunungan, meski matahari telah muncul tidak ada sama sekali perubahan bahwa kabut akan menghilang, karena itu kami memutuskan untuk mengurusnya lain kali.


Selagi berjalan naik ke daratan yang lebih tinggi, kami menemukan sebuah kereta gantung yang dimaksud, bentuknya menyerupai kotak persegi yang mana di dalamnya muat untuk lima orang dewasa.


Di atas kotak itu ada semacam tali yang sangat kuat yang menggantungnya dan bergerak tanpa hambatan saat si petugas menekan tombolnya, jadi ini yang dinamakan mesin.


Manusia dari waktu ke waktu selalu menciptakan hal yang unik.


Ketika giliran kami tiba, semuanya terasa mengagumkan meski begitu ada perasaan khawatir juga, jika tidak beruntung mungkin kami bisa jatuh ke dalam jurang yang ada di bawahnya.


Tapi bukan waktu yang tepat untuk berfikir pesimis.

__ADS_1


Sesampainya di gunung yang lain kami turun dengan selamat, dari sini perlu beberapa gunung lagi untuk mencapai bagian istana, ketika kami hendak melangkah seekor kelelawar yang berukuran gemuk datang menghampiri dengan gulungan kertas di bawah kakinya.


Fate terlihat antusias.


"Bukannya dia sangat imut, bolehkah aku memeluknya."


Rin jelas mempersilahkannya setelah mengambil kertas tersebut.


"Ada apa Rin?"


"Kurasa pemilik kertas ini, akan datang mencari kita?"


Aku bertanya-tanya apa itu?


Dan jawabannya sederhana.


Itu hanya surat tanah kepemilikan salah satu kota.


Kecuali awan putih yang menyelimuti segalanya dengan kesunyian, di tempat ini tidak ada hal yang menarik, orang-orang tampak putus asa memohon hidup mereka berakhir.


Sungguh pemandangan yang tidak layak dikatakan seperti sebuah kota, dengan hati yang besar aku melipat mantelku ke atas, dan berkata pada ketiga pelayanku.


"Kita akan membuat dapur dadakan di sini, aku ingin kalian mengambil bahan makanan di bawah."


Rin menciptakan sayap kelelawar di punggungnya sedangkan Gabriela menciptakan sayap putih di punggungnya.


"Aku mengandalkan kalian berdua."

__ADS_1


Mereka mengangguk dan terbang menembus kedalaman awan putih.


"Bagaimana denganku tuan?"


"Amnestha akan membantuku memasak, dan untuk Fate sebaiknya kau ajak beberapa wanita muda kemari untuk membantu."


"Kenapa harus wanita muda, wanita tua tidak boleh?"


"Menyuruh orang tua bekerja sungguh perbuatan tidak terpuji," balasku menatap dengan pandangan penuh keyakinan.


"Aku mengerti."


"Pastikan yang boing-boing."


"Dari awal niatmu memang begitu, dari semuanya, aku tidak menyukai sikapmu yang seperti itu."


"Ini adalah jalan seorang pria."


"Tenangkan dirimu Fate, terkadang aku juga punya keinginan untuk menghajar tuanku di beberapa kesempatan."


"Amnestha?" aku memangilnya pelan dan keduanya mengabaikanku dengan baik.


Saat buruan Rin dan Amnestha berdatangan, aku dengan yang lainnya langsung mengolahnya tanpa pikir panjang.


Masing-masing dari kami akan menciptakan makanan sesuai yang kami kuasai.


Semua bahan ditumpuk menjadi satu membuat kami dengan mudah mengambilnya.

__ADS_1


Aku tidak bisa mengubah kehidupan mereka secara instan, meski begitu aku hanya ingin sedikit mengurangi penderitaan mereka.


Paling tidak saat Fate kembali ke posisinya semuanya akan sedikit berubah.


__ADS_2