
Dengan pandangan percaya diri Koko berkata ke arahku.
"Jadi apa yang akan kau lakukan? Mau bertarung, aku cukup yakin dengan kekuatanku."
Aku jelas tidak bisa memukul seorang gadis kecil imut sepertinya, setelah diam sejenak aku membuka mulutku.
"Bagaimana kalau kita bermain sebuah permainan? Dimana yang kalah harus menuruti yang menang."
"Permainan seperti apa itu?"
Aku mengambil sebuah lonceng dari lubang hitam yang kuciptakan di sampingku kemudian mengikatkannya di pinggangku, ini sama seperti yang ada di sebuah manga saat aku hidup di dunia itu.
"Jika kau berhasil merebut loncengnya maka kau pemenangnya, tapi jika sampai matahari terbit kau masih belum bisa melakukannya maka aku yang akan jadi pemenangnya."
"Aturannya?"
"Tidak ada aturan apapun, kedua belah pihak bisa menggunakan semua kemampuannya dan kota ini menjadi arenanya."
Koko menyingungkan senyuman nakal lalu berkata.
"Momo?"
Bam.
Dinding kamarnya hancur dalam sekejap saat seekor kudanil gila memaksa masuk lewat jendela. Koko menaiki punggungnya.
"Aku terima tantanganmu."
Sesuai yang kuduga, gadis kecil memang lebih tertarik dengan permainan seperti ini, aku menghitung sampai tiga kemudian berlari melewati Koko, dengan sedikit tendangan aku menghancurkan jendela lainnya kemudian melompat ke rumah desa.
Ini tengah malam, dengan kata lain aku memiliki waktu sekitar 6 jam untuk tidak sampai tertangkap, tepat saat aku memikirkannya kudanil yang kuanggap lambat sudah berada di depanku.
"Kena kau?" ucap Koko, sebelum hendak tangannya menyentuh lonceng, aku memegangi pergelangannya lalu melemparkannya jauh ke tempat lain.
"Eeeek!"
"Sudah kubilang tidak ada peraturan untuk permainan ini."
Kudanil itu segera melesat mengejar tuannya sementara aku melompat ke bawah gang selagi mencuri jemuran yang tergantung di depan rumah.
Aku sekarang menyamar menjadi seorang wanita, tak lupa aku juga mengenakan wig panjang yang kubuat dengan sistem milikku.
Kemudian berjalan di trotoar seolah tidak terjadi apapun. Koko dan kudanilnya tepat berhenti di depanku. Bagaimanapun ini malam hari jelas seorang wanita berjalan sendiri terlihat tampak mencurigakan.
__ADS_1
"Maaf, apa kau melihat seorang pria lewat ke sini?"
"Ah, aku tidak tahu... aku baru keluar dari rumah," dengan suara yang disamarkan.
"Benarkah?"
Aku terus menyembunyikan wajahku sementara Koko terus melihatku dari bawah.
"Anu apa yang terjadi dengan dadamu?"
"Dada apa?"
"Wanita dewasa memilikinya."
Aku lupa soal itu.
"Tidak sopan, aku cuma telat tumbuh saja."
"Kurasa ada juga kasus seperti itu."
Kasus pala lu, cepat pergi sono.
"Aah, aku barusan melihat bayangan di sana."
"Yang benar, ayo Momo."
Kecepatan kudanil ini sama persis seperti sebuah kereta api. Aku menarik nafas lega, untuk sekarang aku bisa menunggu sampai waktunya berakhir.
Maunya seperti itu namun beberapa pria mengelilingiku.
"Halo neng, mau dangdutan sama akang."
"Cuma sebentar."
Ada satu yang bisa kulakukan dalam situasi ini, meninju wajahnya selagi berteriak.
"Gue cowok."
"Ah buset, wanita jadi-jadian."
Akibat keributan ini. Koko menengok dari balik bangunan dan langsung meluncur ke arahku.
"Gue pikir lu cewek."
__ADS_1
"Kyaaaaaa... takut."
"Berhentilah bertingkah seperti wanita tua tak berdaya."
Aku berlari sekuat tenaga sementara Koko berada di belakangku hanya terpaut jarak satu meter. Aku melepaskan penyamaranku hingga menutupi wajahnya begitu aku berbelok di persimpangan jalan.
Kurasa barusan selamat, aku mengecek loncengku dan masih berada di tempatnya, berlari di jalanan kota cukup beresiko karena itu, ada satu tempat yang tidak mungkin dikunjungi seorang gadis kecil, meskipun dia ingin masuk orang lain akan melarangnya.
Itu adalah bar.
Aku menciptakan pakaian yang sama kemudian memberikannya kepada lima orang tuna wisma beserta beberapa koin emas.
"Aku kaya, aku kaya."
"Lakukan tugas kalian."
"Oke."
Kelimanya berlari di waktu bersamaan hingga mampu mengalihkan pandangannya, saat dia mengejar yang palsu aku bersembunyi di bar hingga waktunya berakhir.
Saat matahari terbit Koko hanya terduduk di jalanan dengan posisi tangan dan kaki di bawah sementara pantatnya ke atas.
"Ugh... dasar licik."
"Menang tetap menang, sekarang kau akan menuruti setiap perintahku."
Koko hanya mengerenyitkan alisnya, karena rasa keadilannya tinggi dia tidak akan mungkin mengingkari perjanjian.
Aku berlutut di dekatnya selagi mengulurkan tanganku.
"Jangan khawatir, aku hanya memiliki satu permintaan untukmu."
"Kuharap itu bukan hal mesum."
"Seperti yang kukatakan, tinggallah di desaku."
"Dasar."
Koko memberikan surat yang sama yang diberikan Valesta dan Laura, dengan tiga pernyataan ini, dewan penyihir akan langsung dibekukan.
Aku menuliskan surat lain untuk dibawa Koko lalu mengirimnya ke desaku dengan sihir teleportasi, untuk barang bawaannya aku akan memindahkannya setelahnya.
"Perlakukan aku dengan baik."
__ADS_1
"Tentu saja, salah satu pelayanku akan menjelaskan semuanya."
Dengan ini sudah tiga dewan yang bisa kuatasi, tinggal sisanya.