
Aku tiba di istana saat matahari hampir tenggelam, di bawah sinar oranye yang menandakan senja telah tiba aku memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam istana.
Karena sudah sejauh ini aku tidak berniat kembali, akan lebih baik segera menghilangkan rasa penasaranku tentang diriku di masa lalu.
"Tuan, Anda yakin akan melakukan ini?" suara kegelisahan tersebut datang dari Hesna.
"Kita hanya menyelinap ke perpustakaan membaca sedikit dokumen lalu kembali, hanya itu."
"Meski tuan berkata itu, ini tetap saja tindakan kejahatan."
Tidak ada yang salah dari perkataan Hesna, meski begitu aku mengabaikannya lalu berjalan kembali ke bangunan yang sedikit jauh dari gerbang.
Ruang perpustakaan tidak berada di dalam istana melainkan ada di sampingnya, aku yakin karena bukunya sangat banyak itu memerlukan ruang terpisah.
Seperti yang kulihat dari kejauhan semua ornamen di sini terbuat dari es yang mana rasa dinginnya bisa saja membunuhku kapan saja. Tubuhku menggigil dan demi menghangatkanku Hesna memelukku.
"Apa sudah hangat tuan?"
"Aku sungguh terkejut tubuhmu tidak kedinginan."
"Kami naga memiliki daya tahan tubuh sangat kuat, udara dingin seperti ini bukan apa-apa."
"Aku sangat berterimakasih jika kau tidak menggosok-gosokan dadamu di punggungku."
__ADS_1
"Ini hanya pelayanan special."
Di kehidupan selanjutnya aku ingin menjadi naga.
Kami segera masuk ke dalam perpustakaan, hanya tempat ini saja yang menggunakan kayu sebagai pondasinya, kendati demikian semuanya lebih mewah dari apa yang kubayangkan. Rak-rak tersusun rapih hingga terlihat seperti menara, jika kau melihatnya dari bawah, itu terlihat seperti lorong berbetuk spiral yang mengagumkan.
"Mari cari apapun yang bersangkutan dengan asal kerajaan ini," menanggapi perkataanku Hesna berjalan ke sudut kiri sementara aku ke sisi lainnya, kami memeriksa setiap rak secara seksama.
Selain buku khusus, di sini juga ada beberapa buku novel yang belum pernah aku lihat, di dunia lamaku ada hal yang sama seperti ini dan kami menyebutnya sebagai Lite novel. Itu sedikit mengingatkanku tentang masa lalu.
Aku adalah tipe yang tidak mencari buku lewat rekomendasi seseorang melainkan mencari buku dengan melihat ilustrasinya langsung di toko buku, selama itu terlihat indah aku akan membelinya. Walaupun semua buku itu ternyata buku khusus dewasa.
Ketika aku memikirkan itu suara Hesna menggema di ruangan ini, dia seperti terkejut akan sesuatu jadi aku mendekatinya untuk memastikannya.
"Ada apa?"
"Apa boleh buat, kita akan tinggal di sini sementara waktu sampai aku menemukan buku yang kita cari."
"Terima kasih tuan."
Dan begitulah waktu berlalu dengan Hesna yang terus duduk selagi membaca buku tersebut, sementara aku terkapar di lantai dengan seluruh buku menumpuk di atas badanku.
"Apanya yang buku sejarah, semua ini kebanyakan novel remaja percintaan, aku yakin seseorang telah memindahkan buku yang kucari ke tempat lain dan menggantinya dengan buku seperti ini."
__ADS_1
Aku kembali menghembuskan nafas panjang dengan frustasi, aku pikir aku bisa sedikit mengetahui masa laluku namun sayangnya ini berakhir sia-sia.
Aku secara acak mengambil buku di dekatku, ini hanya cerita romantis di mana tokoh utamanya yaitu pelayan wanita hidup di rumah bangsawan pria yang haus dengan tubuh wanita, di dalamnya banyak adegan tidak senonohan dan jika dilihat secara menyeluruh tulisannya seperti ditulis oleh seorang amatir.
Misalnya nama tokoh berbeda dan adegan mesumnya terlalu dipaksakan, ketika aku berpikir demikian seorang berteriak ke arahku selagi melemparkan buku di dekatnya.
"A-apa yang kau lakukan? Ke-kenapa kau masuk ke sini tanpa izin dan membaca buku yang kutulis."
"Tulisanmu?"
Saat aku melihat wajahnya seketika ekspresiku mengeras atau sejujurnya lebih mirip terkejut, suara barusan berasal dari seorang elf berambut perak, mata yang indah serta tubuhnya yang begitu ideal tidak mungkin aku lupakan.
Ia memiliki suara seperti lonceng kecil yang menenangkan serta wajah yang membuat semua orang berfikir dia wanita yang sangat cantik, berbeda dari penampilannya kini dia mengenakan gaun yang tampak cocok sekali.
Karena marah wajahnya terlihat memerah sampai telinga, mungkin dia juga sedikit malu.
Sekali lagi aku akan mengatakannya dia adalah Aerith yang kutemui saat penyerangan raja iblis Venosa ke pulau malaikat dan seseorang yang telah mencuri tangan kananku.
Aku menunjukan buku di tangan kiriku.
"Adegannya cukup menggoda."
Dia langsung melemparkan buku ke atas kepalaku hingga aku terbaring di lantai selagi mengerang kesakitan, dengan kuat dia mendudukiku lalu berusaha mencoba mencekikku.
__ADS_1
"Ma-ti-lah."
Dia sangat menakutkankan.