
Jika melihat sekilas Aerith, dia terlihat seperti Emilia di Re:Zero yang membedakan hanyalah kepribadiannya sangat berbeda.
Yang ini jauh dari kata malaikat.
"Uwaah... Hesna selamatkan aku."
"Tuan harus menyelesaikannya sendiri."
Sekarang Aerith mengunciku dengan gerakan gulat, kekuatannya setara pegulat profesional.
"Tolong lepaskan aku, aku cuma bercanda."
"Kini kau sudah tahu kepribadianku sesungguhnya, kau harus mati."
"Kenapa aku harus mati, lagipula memiliki hobi, sepenuhnya tidak salah, semua orang bebas melakukan apa yang mereka inginkan termasuk ratu."
"Kau sudah tahu siapa aku."
"Hanya tebakan, tapi dari reaksimu berarti benar."
Akhirnya dia melepaskanku juga, kakiku terasa sangat berat saat mencoba berdiri.
"Jadi apa yang kau lakukan di sini? Bukannya aku menyuruhmu untuk mengikuti pertandingan bela diri?"
Aku segera menunjukan lembar buku dibagian tengah.
"Kenapa dibagian ini si pelayan malah lebih agresif."
Selanjutnya aku malah di kejar-kejar ke setiap sudut ruangan, sedangkan aku masih tertawa terbahak-bahak, orang ini pasti sangat malu membuat cerita seperti ini apalagi dengan statusnya sebagai ratu akan menghancurkannya secepat yang bisa dia pikirkan.
"Cepat berikan padaku?" teriaknya kembali.
"Aku akan memberikannya setelah kau mengembalikan tanganku dulu."
"Kau harus mengikuti pertandingannya baru akan kuberikan setelah kau bisa memilihku sebagai pengantinku."
"Kau ini benar-benar ingin menikah denganku, aku ini memiliki banyak istri."
"Tak masalah, ini semua demi kerajaan ini, aku sudah melihat seberapa kuat kau mengalahkan para iblis... dengan memiliki keturunan darimu aku yakin kerajaan ini akan dapat bertahan dari serangan monster di masa depan nanti."
__ADS_1
"Meski kau bilang begitu... kau pasti akan menyesal."
"Aku tidak akan menyesal, selama aku bisa melindungi semua orang."
Orang ini keras kepala.
"Meski aku menikahimu itu tidak menjamin anak kita akan kuat, bukannya sedikit tidak adil memberikan beban berat di pundaknya."
"Soal itu.."
Hesna menutup buku lalu bertepuk tangan ke arahku.
"Kata-kata yang bagus tuan, biasanya anda hanya memikirkan hal mesum."
"Oi."
"Tekadku sudah bulat."
Masih banyak yang harus kutanyakan padanya tapi aku pikir hal itu pasti bisa menunggu, aku melemparkan buku kepada Aerith dan berkata sembari berjalan menuju pintu keluar.
"Mari pergi Hesna, kita akan datang kemari lagi nanti setelah memenangkan pertandingannya."
"Aku mengerti."
"Apa yang kau inginkan hingga datang kemari?"
"Itu rahasia," kataku selagi menyentuh bibirku.
"Aku akan membiarkanmu tinggal di sini tapi sebagai gantinya katakan tujuanmu."
"Tuan? Sejujurnya aku belum selesai membaca buku barusan alangkah lebih baik.."
Aku mengacak-acak rambutku.
"Aku tahu, baiklah akan kukatakan lagipula sepertinya akan sulit menemukan buku yang kami cari tanpa bantuanmu."
Aerith hanya memiringkan wajahnya heran.
Kenapa di saat seperti ini dia sangat imut.
__ADS_1
Selesai mandi aku pergi ke ruangan tamu yang seluruhnya dibuat dari es, untuk Hesna dia memilih menetap di perpustakaan demi lanjutan buku yang telah dibacanya.
"Kenapa kau membuat tempat ini dari es?"
"Biar mudah mengaturnya, lagipula bagiku hawa dingin ini tidak berarti apapun."
"Tapi aku kedinginan."
"Kalau mau kau bisa tidur bersamaku."
"Sebagai ratu kau sangat rendah hati tapi maaf aku menolaknya. Kau hanya ingin mendapatkan keuntungan dariku bukan."
Aerith hanya mengembungkan pipinya lalu beralih ke topik seharusnya.
"Apa yang ingin kau ketahui dari perpustakaan?"
"Aku ingin tahu masa lalu dari kerajaan ini."
"Kerajaan ini kah? Sebenarnya kerajaan ini dibuat oleh Dewa kegelapan di masa lalu."
"Jadi benar," kataku lemas.
"Ada apa? Kenapa kau begitu kecewa?"
"Ini mungkin sulit dipercaya sebenarnya aku adalah Dewa kegelapan itu."
Aerith tertawa sesaat tidak percaya.
"Mana mungkin, beliau sudah meninggal sejak lama walau bagi semua orang menyebutnya bencana tapi bagi kami dia adalah seorang pahlawan."
"Apa kau ingat bagaimana penampilan Dewa kegelapan itu?"
Aerith terdiam seolah menyusuri ingatan terdalamnya.
"Dia sangat gagah, berbicara seperlunya dan ekpresinya selalu dingin."
"Apa dia memakai aksesoris yang mencolok?"
"Kurasa ti... tunggu, dia memakai cincin di semua jarinya."
__ADS_1
Ketika aku menunjukan tanganku ekpresi Aerith berubah.
"Mustahil?"