
Ini adalah Bar Elona yang semakin lama menjadi semakin ramai, tak hanya menyediakan makanan dan minuman terbaik di sini juga memiliki karyawan yang seluruhnya adalah Succubus, jika kau mencari kedamaian kurasa di sini tempatnya.
"Aku pesan coklat panas dengan gambar hati di atasnya."
"Kau ini bocah kah?" Elona meletakan minuman yang kupesan di dekatku lalu melanjutkan.
"Apa kau sudah siap berburu raja iblis lagi?"
"Soal itu, kurasa aku sudah tahu pergerakan mereka... semua raja Iblis yang masih hidup akan datang kemari untuk menyerang kota ini."
"Semuanya," dengan spontan Elona berteriak demikian, tentu aku segera menenangkannya, jika kabar ini menyebar sebuah kepanikan pasti akan melanda seluruh kota.
"Maaf, tak kusangka kau membuat mereka semua datang kemari."
"Ini semua gara-gara pahlawan gadungan itu, selagi dia belum kukalahkan kekacauan akan selalu terjadi di benua ini."
"Itu terdengar buruk, ngomong-ngomong apa yang ada di saku bajumu itu?"
Aku hampir melupakannya.
"Ini undangan dari kota suci Imperal, mereka memintaku untuk membuat desain untuk para Dewi yang baru."
"Eh, mereka memintanya bahkan di sana ada Arch Priest juga."
"Kau mau ikut?"
"Tidak, tidak, orang sepertiku tidak pantas untuk masuk ke dalam kota suci, mereka mungkin akan mencemoohku karena pakaianku ini."
"Bagaimana kalau menggantinya dengan lebih tertutup."
__ADS_1
"Maaf, itu mustahil."
Memang sulit merubah pakaian terlebih jika imej tersebut sudah melekat baik pada seseorang.
"Hey onee-san mau menemaniku minum."
Brak.
Seorang Succubus baru saja membanting pelanggannya hingga terkapar tak berdaya, sudah tahu dilarang menyentuh mereka malah bandel jadi seperti itulah akhirnya.
Setelah menghabiskan minumanku, aku keluar dari bar dan menemukan Ariel telah berdiri di depanku hingga aku melompat karena terkejut.
Dia istriku jadi memanggilnya dengan Dewi akan sedikit canggung untuk dilakukan.
"Ada apa Ariel?" menanggapi pertanyaanku dia malah bermain dengan tangannya, Ariel memiliki kepribadian pemalu jadi jika dia punya sesuatu yang ingin dikatakan aku harus bersabar menunggunya.
"....."
Sepuluh menit kemudian.
"...."
Dua puluh menit kemudian.
"..."
Bermenit-menit kemudian.
Ini terlalu lama, jadi kuputuskan untuk menggendong Ariel di depanku, wajahnya yang tersipu sudah menjadi hadiah bagiku.
__ADS_1
"Aku ingin pergi ke kota Imperal sekarang, kita bisa bicara sambil jalan."
"Heh, aku datang ke sini hanya untuk menyapa?"
Cuma itu doang.
"Apa Kazuya sudah makan dengan teratur? Apa sudah membawa tanda pengenal, aku takut jika ada sesuatu yang tak terduga jadi pastikan untuk selalu membawa uang juga."
Dia terlalu khawatir.
Dalam sekejap aku berpindah tempat ke kota imperal yang penduduknya telah berubah, tak hanya wanita ada pria juga di sini.
Dan sesekali ada pria dari golongan lain-lain.
"Ramai sekali?" kata Ariel lalu terkejut saat melihat patung dirinya.
"Bukannya aku terlihat terlalu tinggi dari semua Dewi, dan Hecate malah terlihat seperti mbak-mbak. Amnesia terlihat sangat agung, kalau untuk Ristal itu sudah tepat, dadanya memang harus dikecilkan."
Sepertinya para Dewi sejak lama memiliki niat itu. Mari untuk berpura-pura tak mendengarnya.
"Sebenarnya aku datang kemari disuruh untuk membuat Desain kalian semua."
"Begitukah, kalau bisa tolong tambahin biar dadaku sedikit lebih besar."
"Soal itu tidak mungkin kulakukan, harus sesuai ukuran sesungguhnya."
"Sudah kuduga kau menyukai yang besar," Ariel telah lebih dulu berlari meninggalkanku.
Jika begini aku harus mencarinya dulu sebelum menemui mereka.
__ADS_1