
Setelah pertempuran itu, kami semua dibawa ke ibukota kerajaan demi human, para pasukan yang kubawa menunggu di luar bersama pasukan dari kerajaan ini, sementara aku dan Rusina dipandu Guarda menuju aula singgasana dimana kulihat wanita bertelinga kelinci duduk di sana.
"Namaku Riko, kau pasti tuan Kazuya dan Rusina."
Aku mengangguk mengiyakan.
"Terima kasih telah membantu kami dari pertempuran melawan sesuatu yang tidak dimenangkan, bahkan tuan Kazuya telah menyelamatkan saudara kami dari perbudakan."
"Sebenarnya yang paling berjasa adalah wanita muda ini," kataku demikian.
"Rusina kah? Sepertinya kita pernah bertemu, tapi di mana?"
"Kupikir itu sudah lama sekali, kalau tidak salah saat kau masih bayi aku pernah menggendongmu."
"Benarkah?"
Rusina tersenyum dan bersamaan itu sembilan ekor muncul di belakangnya, aku diam-diam duduk berjongkok di belakangnya lalu memeluk ke sembilan ekor yang sangat lembut itu.
"Kyaa... hentikan Kazuya, kau bisa memegangnya nanti."
"Aku cuma penasaran."
Kenapa ini begitu lembut.
__ADS_1
Semua orang tertegun.
"Anda rubah suci, maaf atas kelancangan kami bahkan kami membiarkan Anda berdiri, kalian cepat bawa kursi," teriak Riko panik.
Di negara demi human sosok Rusina bisa dibilang seperti Dewi dan terkadang dia memberkati beberapa anak-anak dari para demi human sendiri.
"Ah, tak apa.... aku melayani orang ini sekarang, lebih baik kalian memperlakukannya lebih baik, dia juga telah mengalahkan tiga raja iblis sendirian."
Semua orang malah lebih terkejut bahkan Guarda seperti terlihat kagum.
"Sebuah kehormatan bisa bertarung dengan seorang pahlawan."
"Kami benar-benar terbantu, kalau ada sesuatu yang bisa kami lakukan aku pasti akan mewujudkannya?"
"Tentu saja, kami benar-benar sangat beruntung bahwa kami bisa bekerja sama denganmu, mari buat jamuan istana untuk kalian."
"Aku sangat menghargainya tapi mari tunda itu untuk nanti, kami akan kembali melanjutkan pertempuran dan mengambil kembali Kota Bendungan Andreas, mari pergi Rusina, kau juga Guarda."
"Dengan senang hati."
"Berhati-hatilah, semoga para Dewi memberikan perlindungan pada kita semua."
Kami kembali membawa pasukan ke kota tidak jauh dari sini yaitu kota bendungan Andreas, kota ini termasuk kota besar di negara ini, melihatnya sekilas sudah dipastikan hanya menunggu waktu sampai mereka menyerang ibukota, dibanding memberi mereka kesempatan menyerang kami akan mengambil langkah lebih dulu untuk menyerangnya malam hari.
__ADS_1
Kota Bendungan Andreas bukanlah kota seperti namanya melainkan sebuah kota yang berdiri di tengah sebuah waduk besar di atas pulau buatan. Ada sebuah jembatan yang menghubungkan daratan dengan kota tersebut jadi saat kami menyerang itu pasti terlihat jelas dari benteng yang menjaganya.
Di pinggir danau itu aku dan Guarda akan berenang ke sana untuk membuka gerbang masuk, sementara Rusina akan memimpin sekitar dua ratus orang yang terdiri dari demi human dan pasukan kerajaan Artharissa.
"Aku akan menembakan api ke atas langit, saat itu tiba, Rusina akan menerobos masuk dan membawa seluruh pasukan."
"Aku mengerti."
Guarda memberikan pedang besarnya ke salah satu prajuritnya lalu diganti sebuah tali yang di ujungnya ada pengaitnya. Karena ini malam hari para penjaga akan kesulitan melihat di dalam air.
"Mari pergi Guarda."
"Aah, aku sangat bersemangat."
Aku dan Guarda melompat ke dalam air lalu berenang menuju pulau, ketika berhasil sampai di pinggirnya aku melempar tali ke atas tembok lalu memanjatnya untuk naik, begitu juga Guarda.
Padahal aku bisa terbang kenapa aku melakukan ini?
Aku juga bisa membuat pintu perpindahan yang sangat praktis.
Jawabannya sederhana, karena ini keren.
Rusina pasti sudah tahu karena itulah saat aku pergi dia tertawa.
__ADS_1