
"Percuma, sihir kita tidak bisa melukainya komandan."
"Apa boleh buat, kalian semua mundur dan evaluasi siapapun yang terluka... biar aku sendiri yang akan melawannya."
"Tapi..."
"Cepat pergi."
Mengikuti arahan Ken, seluruh pasukan ditarik mundur. Dengan pedang besar di tangannya Ken terus berdiri menantang pria di depannya yang seluruhnya terselimuti kegelapan.
Dari balik kacamatanya tampak tatapannya telah lenyap seutuhnya kecuali kegelapan tanpa dasar.
"Prideo, kau benar-benar telah terjerumus ke dalam kegelapan."
"Inilah yang dinamakan kekuatan sejati."
Prideo adalah mantan kesatria sekaligus rekan Ken di unit kesatria kerajaan, tanpa mengatakan apapun lagi Ken melesat maju sembari mengayunkan pedangnya vertikal tentu pedang itu tidak sebanding dengan pedang yang digunakan Prideo, hanya tiga kali benturan pedang Ken langsung patah.
"Menyedihkan."
Prideo mengayunkan pedangnya, tak hanya menebas, pedang itu juga memberikan petir hitam yang mampu memberikan damage luar biasa menyakitkan.
Ken mematung dengan seluruh tubuh telah menghitam.
"Inilah akhirnya."
Pedang Prideo diayunkan, tepat sebelum pedang itu mengenai kepalanya Ibela muncul lalu menahannya dengan kedua senjata di tangannya.
"Kau?"
"Padahal lukaku baru sembuh."
"Kau menyedihkan sekali Ken, kudengar kau menarik seluruh pasukan jadi aku datang untuk membantumu, tak kusangka kita bertemu lagi dengan pengkhianat ini."
__ADS_1
Prideo melompat ke belakang untuk menjaga jarak.
"Lama tak bertemu Ibela."
"Aku sama sekali tidak senang melihatmu di sini Prideo."
"Jangan khawatir kalian berdua akan kukirim ke akhirat secepatnya."
Prideo melangkah maju hingga tanpa di sadari Ken lebih dulu meninju wajahnya untuk membuat Prideo menabrak dinding bangunan
"Aku sedikit melamun barusan, selanjutnya akan kukalahkan orang ini."
Ken merobek pakaiannya menampilkan seluruh tubuhnya yang berotot.
"Ampun, akhirnya kau serius juga."
"Apa-apaan itu? Sejak kapan kau," ucap Prideo bangkit dengan sebelah wajahnya tampak mengeluarkan asap.
"Saat kau memutuskan untuk mengkhianati kerajaan ini aku mulai melatih tubuhku sampai sekarang."
Air hujan jatuh menimpanya dengan teriakan putus asa yang terlontar dari mulut Ken.
"Jadi begitu, harusnya waktu itu aku membunuhmu saja sama seperti yang kulakukan pada komandan kesatria lainnya."
Ibela memegangi perutnya lalu terduduk lemas.
"Aku sudah kehabisan sihir, kuserahkan sisanya padamu."
"Aah."
Ken menghentakan kakinya untuk mendorong tubuhnya dengan kecepatan tinggi, sebelum Prideo bisa bereaksi dengan itu sebuah tinju menghantam wajahnya beberapa kali.
"Guakh... kekuatan ini."
__ADS_1
Prideo mengayunkan pedangnya akan tetapi tubuh Ken dalam sekejap menghilang dan muncul kembali di sampingnya, dia mengirim tendangan dari samping untuk melesatkan tubuh Prideo dengan kecepatan tinggi.
"Sialan."
Prideo menancapkan pedangnya untuk membuatnya berhenti meluncur kendati demikian Ken sudah berada di belakangnya.
Sebuah petir dijatuhkan dari atas langit menimpa Ken.
"Percuma, aku sudah melatih tubuhku untuk bisa menahan sihir."
"Kekuatan seperti ini tidak masuk akal."
Saat Prideo mengayunkan pedangnya kembali Ken menangkapnya dengan tangan kiri lalu menghancurkannya dengan mudah, tangan lain mencengkeram wajah Prideo lalu membantingnya ke tanah menciptakan lubang besar di punggungnya.
Tak berhenti di sana Ken menginjak tubuhnya lalu mengangkat tangannya.
"Tunggu, bukannya kita teman, jangan bunuh aku."
"Sejak kau terjerumus dalam kegelapan, aku sudah bukan temanmu lagi."
DUAR!
Satu pukulan itu mengakhiri pertarungan untuk selamanya.
Tubuh Ken roboh ke belakang tanpa daya.
"Aku sudah menggunakan seluruh sihir yang kusimpan selama ini."
Ibela mendekat selagi menendang-nendang tubuh Ken.
"Kerja bagus pria mesum."
"Berhentilah menendang tubuhku wanita sadis," teriaknya.
__ADS_1
Ibela tersenyum lalu mengalihkan pandangan jauh ke depan sembari bergumam pelan.
"Berhati-hatilah Kazuya, tolong selamatkan kerajaan ini."