Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 147 : Pelayaran Pertama


__ADS_3

Pagi berikutnya kami telah menaiki perahu untuk pergi ke tempat dimana para lobster emas berada, bersama kru kapal kapten Jack, aku, Reny dan Elona telah meninggalkan pelabuhan.


Tak hanya mereka berdua aku juga mengajak seseorang yang ahli dalam kelautan sekaligus seekor naga yang kuat, siapa lagi kalau bukan Nermia.


Nermia berdiri di sisi kapal selagi membentangkan tangannya.


"Sudah lama aku tidak pergi ke laut."


"Jangan terlalu pinggir kau bisa jatuh."


Aku sangat lelah untuk memegangi pinggang Nermia, aku yakin dia akan baik-baik saja walaupun jatuh hanya saja jika dia tidak menahan diri dia akan menunjukkan wujudnya yang sebenarnya dan itu pasti membuat semua orang terkejut.


"Kalian ini nekat sekali pergi ke laut hanya untuk mencari lobster emas, di laut itu banyak sekali monster berbahaya. Kalau bukan kalian membayar kami mahal aku tidak akan pernah pergi hoho."


Reny bertanya.


"Jadi uang lebih berharga dari nyawa kalian."


"Tentu saja, uang segalanya hoho."


Sekarang giliran Elona bertanya.


"Kenapa tangan kapten Jack seperti itu?"


"Ini akibat aku bertarung dengan bajak laut, aku mengganti tanganku dengan kait ini, keren kan? Tapi jangan khawatir, bajak laut telah punah dan yang harus kita khawatirkan hanya monster laut."


Dengan kapal kapten Jack kami bisa pergi ke sana dua hari dan dua hari lagi untuk kembali, jadi waktunya sudah pas, aku bisa saja menggunakan sihir teleportasi tapi itu tidak menyenangkan jika hanya muncul dan kembali dengan cepat.


Kru kapten Jack mulai berteriak.

__ADS_1


"Di depan ada badai, uwaahh..."


"Kita terobos... Kapten Jack tak pernah takut dengan badai, cepat pegangan pada sesuatu jika kalian tidak mau terlempar."


Yang harus dikhawatirkan adalah orang ini.


Entah Reny, Elona atau Nermia mereka malah memegangi tubuhku.


"Kalian bertiga, aku ini bukan tiang layar."


Ombak keras mulai menghantam kapal, kecuali semua mati-matian bertahan aku hanya berdiri dengan pandangan bermasalah.


"Kapten Jack jatuh."


Bodo amat.


Ombak menerjangnya ke luar kapal tapi syukurlah dia masih bertahan dengan satu tangan hingga anak buahnya mulai membantunya.


"Tidak, kau hampir mati," kataku demikian


"Tadi cuma akting... Hoho"


Bagian mananya yang akting, apa bagian dia memanggil ibunya? Atau bagian dia menangis?


Orang ini menyebalkan.


Tapi biarlah.


Dari langit yang gelap gulita muncul sebuah lingkaran besar seperti sebuah pusaran cahaya yang menerangi kapal kami.

__ADS_1


"Setelah badai terbitlah cerah, mari lanjutkan perjalanan."


Bukannya setelah gelap terbitlah terang.


"Baik kapten Jack."


Kami kembali berlayar dengan kecepatan penuh, saat badai layar akan ditutup dan di buka kembali setelahnya.


Hembusan angin telah membawa kami sedikit lebih cepat.


"Ngomong-ngomong sampai kapan kalian memegangiku?"


"Selamanya," balas Nermia.


"Selamanya jidatmu."


Aku akhirnya bisa meloloskan diriku.


Kapten Jack mendekat ke arahku dan mulai menjelaskan.


"Kita akan memasuki kawasan Siren, di sana mereka selalu duduk di atas batu dan mengundang para pelaut untuk mendekat... saat mereka memanggil jangan membalasnya dan pastikan kau tidak terbujuk oleh rayuannya."


"Aku tidak akan mungkin tergoda oleh mereka," kataku demikian.


Reny mendesah pelan.


"Succubus dan Siren memiliki sejarah panjang dimana kami saling bertarung dalam hal menggoda, berbeda dengan kami mereka selalu melukai mangsanya."


Dengan kata lain keduanya memikirkan hal sama bahwa manusia hanya mangsa bagi Siren atau Succubus.

__ADS_1


Pantas saja waktu di desa Succubus, patung itu bentuknya seperti itu.


__ADS_2