Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 59 : Kehancuran


__ADS_3

Gabriela duduk selagi memakan kue di tangannya sementara aku memperhatikan dari belakang.


"Mau?" tanyanya.


"Tidak, terima kasih."


"Begitukah."


Dengan kecepatan ini aku yakin bahwa kami akan sampai ke tempat tujuan dalam semalam.


"Nah tuan, apa menurutmu tidak masalah menjadikan kami sebagai bawahanmu? Kau mungkin sudah tahu apa yang terjadi di masa lalu."


Aku mendekat ke arah Gabriela untuk mengelus rambutnya.


"Lembut sekali."


"Mohon untuk menjawabnya?"


Aku tidak ingin mengatakannya tapi entah Rin, Amnestha atau Gabriela keduanya memang sudah saling kenal sejak lama terlebih mereka bertiga sebelumnya adalah anak buah dari Dewa Jahat yang dulu pernah memiliki cincin yang kukenakan ini, alasan kenapa aku bisa memanggil mereka karena alasan ini juga.


"Aku tidak keberatan sih, kalian ini pelayan yang setia kalian bahkan pernah menghancurkan setengah dunia karena menerima perintah."


"Soal itu..."

__ADS_1


"Tak apa, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal seperti itu, aku tidak mempermasalahkan sedetail apa masa lalu kalian, aku hanya tahu kalian yang sekarang, cuma itu saja... tapi akan lebih baik jika kau melakukan apapun yang memang ingin kalian lakukan, dan jangan menghancurkan dunia lagi."


"Begitu."


"Kau menangis?"


"Aku tidak menangis."


Sepertinya mulai sekarang aku akan hidup dengan mereka.


Bertepatan saat matahari terbit kami akhirnya telah sampai di ibukota musuh, yang membuatku terkejut adalah semuanya telah rata dengan tanah.


Aku melompat dari awan lalu memeriksa bagian bawah puing-puing yang berserakan hingga kutemukan King dan pria yang terlihat seperti raja di sana.


Gabriela duduk di atas puing-puing bangunan selagi memainkan harpanya.


"Siapa yang melakukan hal sekejam ini? Aku tidak berpikir seseorang itu berada di pihakku," kataku demikian.


Setelah menunggu Gabriela menyelesaikan lagunya beberapa orang mulai mengerumuni kami, diantaranya juga ada perdana menteri dan beberapa bangsawan, mereka tampak kebingungan serta keputusasaan terlukis di wajah mereka.


"Sekarang bagaimana dengan nasib kerajaan kita?"


"Apa tempat tinggal kami, akan di ambil alih oleh raja iblis."

__ADS_1


"Aku tidak mau."


Semakin mereka memikirkannya maka semakin banyak kegelisahan yang di dapatkan.


"Tuan, apa yang sebaiknya kita lakukan? Aku bisa memanggil para malaikat lain untuk membantu kerajaan ini, hanya saja kita perlu seseorang untuk menjadi raja."


"Aku tidak mungkin mengambil peran seperti itu."


Saat aku bertanya pada salah satu penduduk mereka bilang bahwa raja sekarang belum memiliki istri maupun keturunan yang menambah situasi makin buruk, jika dibiarkan negara ini benar-benar akan hancur.


Pertama negara lain mungkin akan mengincar tempat ini untuk dijajah dan satu lagi adalah akan terjadi perang besar dimana beberapa orang akan saling memperebutkan tahta penguasa.


Aku mendesah pelan.


"Aku ini tinggal di kerajaan Weisvia yang hendak kalian hancurkan, dan datang kemari untuk bernegosiasi dengan raja... tapi malah jadi begini, aku bisa saja membuat kerajaan Artana menjadi wilayah Weisvia yang baru namun, jika kulakukan akan mengakibatkan kebencian bermunculan maka dari itu aku berniat menjadi raja sementara hingga menemukan kandidat yang tepat untuk menjadi raja di sini.. apa kalian setuju?"


"Ka-kami mengerti, tolong maafkan apa yang telah raja kami lakukan, kami berjanji akan berhubungan baik dengan kerajaan Weisvia ke depannya."


"Kurasa itu bagus... Gabriela aku minta bantuanmu."


"Baiklah."


Gabriela menjentikkan jarinya dan seketika sebuah cermin muncul di depanku, bersamaan itu juga cermin lain telah bermunculannya di setiap kota di kerajaan ini.

__ADS_1


Cermin ini memudahkanku untuk membuat pengumuman ke setiap orang di negara ini.


__ADS_2