
Di ruangan itu aku dengan Ronald sedang mendiskusikan sesuatu dengan peta membentang di atas meja. Ronald berkata.
"Pusat desa terlalu sepi tuan, dari semua lahan kita hanya baru bisa mengambil seperempatnya dan itu juga hanya diisi dengan tempat beribadah, taman + wahana bermain anak-anak serta akademi saja."
Singkatnya dari seperempat itu, akademi mengambil 80 persennya.
"Masih sangat luas kah... empat katedral Dewi masih belum cukup. Apa kita jadikan semuanya taman?"
"Itu mustahil, desa kita sudah dikelilingi pegunungan dan lahan hijau, seharusnya taman tidak perlu terlalu besar."
Yang dikatakan Ronald memang benar, jika itu perkotaan taman akan sangat menarik tapi ini pegunungan, udara sudah Asri dari awal.
Mari pikirkan apa yang belum ada di dunia ini.
"Bagaimana kalau kita membuat kebun binatang?"
"Apa itu kebun binatang?" Ronald tampak kebingungan, jelas kata itu asing bagi semua orang.
Karena aku sebelumya tinggal di dunia lain, hal itu tidak asing bagiku.
"Kebun binatang adalah sebuah tempat di mana kita menyediakan lingkungan buatan bagi hewan yang kita pelihara, orang-orang akan dengan mudah melihat mereka. Kurasa itu akan membuat para penduduk senang... kita membuat akademi di bagian tengah pusat desa, di sekelilingnya Katedral dan sisanya merupakan kebun binatang, akan lebih baik jika kita biarkan burung atau itik bebas berkeliaran di mana-mana."
"Dengan kata lain kita akan mengambil setengah dari lahan untuk semuanya."
"Benar, bukannya akan menyenangkan ketika jalan-jalan bisa melihat hewan juga."
"Untuk acara keluarga memang sangat pas, kita bisa menaruh beberapa pedagang yang ingin berjualan dari kota maupun ibukota... karena panen kita masih terlalu banyak soal makanan tidak terlalu dipikirkan."
__ADS_1
Walau aku membuat tiga gerbang, panen kami masih banyak yang terbuang, mungkin ini karena desa ini diberkahi empat Dewi sekaligus.
Ronald melanjutkan.
"Lalu bagaimana dengan setengah lahannya lagi untuk mencakup sekelilingnya?"
Jika diibaratkan pembentukan pusat desa menjadi tiga lingkaran.
Lingkaran tengah diisi oleh akademi serta bangunan lainnya.
Lingkaran luarnya akan diisi oleh kebun binatang.
Dan lingkaran terakhir akan diisi dengan.
"Tolong buat kanal yang besar serta jembatan yang panjang dan lebar, tak lupa buat juga Istana di bagian samping yang setengah bagiannya terendam air."
"Aku ingin membiarkan ras Siren tinggal di sana, mereka memiliki suara merdu kurasa mereka akan senang bisa bernyanyi untuk menghibur banyak orang tanpa harus membunuh siapapun."
Tak lama pintu diterobos oleh Yumia.
"Apa maksudnya itu? Bukannya aku belum memberikan jawaban."
"Apa tuan sudah tahu sejak tadi nona Yumia menguping."
"Siapa yang menguping? Aku hanya kebetulan mendengarkan pembicaraan kalian."
"Mari abaikan soal menguping atau tidaknya, jadi apa kau akan menolak tinggal di desa ini?"
__ADS_1
Aku mengirim pernyataan itu hingga Yumia mengalihkan pandangannya selagi menggaruk pipinya.
"Itu sangat sulit bagiku, aku jelas tidak bisa membiarkan semua Siren pindah kemari, jika kulakukan para putri duyung akan sepenuhnya mengambil laut dari kami."
Hubungan Siren dan putri duyung memang tidak akur.
"Tapi disisi lain tawaranmu cukup menyenangkan, aku pikir aku akan tinggal di sini bersama beberapa wanita Siren lagipula kurasa sudah waktunya aku mengambil istirahat dari kerajaan," ia mengatakannya selagi memainkan ujung rambutnya dengan pipi memerah.
Aku dan Ronald memikirkan hal sama.
"Imutnya."
Sebelum beralih ke peta.
"Aku mengerti."
"Ah iya, tuan aku akan meletakkan beberapa fasilitas publik juga."
"Kalian berdua tidak mendengarkanku yah?"
Aku mengulurkan tangan ke arah Yumia untuk berjabat tangan dengannya.
"Selamat datang di desaku, seperti yang kukatakan, ras Siren dilarang untuk membunuh siapapun lagi tanpa alasan."
"Aku tahu."
Yumia menerima jabat tanganku dengan senyuman lebar.
__ADS_1