
Aku berjalan ke arah Scarlet yang berdiri di depan.
"Kau menakuti semua orang."
"Cavelari Redo kah, aku mengatakan hal sebenarnya pada mereka agar mereka tidak terlalu berharap.. bukannya itu nikmat, mereka akan dilada kecemasan luar biasa, aaah, aah."
"Air liurmu keluar."
"Maaf."
Mereka tidak sepertimu.
"Lalu bagaimana kau mengenal Valesta, bukannya dia dari dewan penyihir?"
"Dia orang yang menangkapku, aku berhasil mengalahkannya lalu memanfaatkannya."
"Begitukah, aku akan melaporkan pada raja soal kau yang difitnah... beliau pasti akan membantu."
"Lebih baik jangan, aku tidak yakin hal itu pilihan baik... kita tidak tahu siapa yang mengendalikan dewan penyihir, terlebih ada kemungkinan orang itu akan menghancurkan kerajaan ini juga jika kalian ikut bergerak."
"Memang benar, sudah jelas pelakunya mengincarmu sejak awal bahkan sampai repot-repot membuat ini selama 10 tahun," tepat saat Scarlet mengatakannya kapal mulai bergoyang terambing-ambing.
Salah satu awak berkata.
"Kita tersedot ke pusaran air."
"Sial... bahkan kita belum masuk ke perairan Gandaria, semuanya bersiap-siap."
"Apa yang terjadi?" tanya Valesta bersama Mamisa.
"Ada monster yang membuat pusaran ini, aku akan mengeceknya."
Tanpa ragu Scarlet melompat ke laut.
Orang ini terlalu nekat.
"Dia mati," teriak Mamisa.
Aku beralih ke arah sisi kapal sementara semua orang berusaha untuk mengendalikan kapalnya agar tidak terbalik.
Bisa kulihat bahwa ada sepasang mata merah di dalam air sementara sosok Scarlet sedang berenang ke arahnya.
__ADS_1
Bersamaan itu.
Sebuah pilar api menyembur dari dalam laut melenyapkan pusaran air hingga kapalpun berhenti.
"Valesta."
"Aah."
Dia melompat ke bawah lalu menarik Scarlet dari dalam air, saat dia sudah menaikannya, aku melompat dengan kedua lingkaran sihir di telapak tanganku lalu menyentuhkannya di permukaan air.
"Ice Floor."
Aku membekukan seluruh area sekeliling kapal sejuah 1 km, bersamaan itu, es di depanku pecah dan memunculkan sembilan kepala naga setinggi 50 meter.
"Oi, oi jangan bercanda..." semua orang di atas kapal tampak memucat
Aku menggunakan skill penilaiku.
[Scroll lv500]
Ini pertama kalinya aku melihat monster dengan tiga digit angka, aku tidak pernah mengira hal seperti ini ada.
Valesta dan Scarlet tindak mungkin bisa mengalahkannya, yang lainnya juga. Apakah hanya aku yang bisa mengalahkannya di Lv 999.
Ketika aku memikirkannya suara Mamisa terdengar dari atas kapal.
"Jangan takut semuanya, aku akan melindungi kalian semua, bertarunglah dan menang."
Mamisa memasang mic kecil di pipinya lalu berpose dengan satu tangan di atas.
"Music Started."
Sebuah lingkaran sihir muncul di langit bersamaan musik yang terdengar, di saat itu Mamisa mulai menari lalu menyanyikan lagu dengan tempo santai namun penuh kehangatan.
Tubuh semua orang bersinar sementara itu bar status milikku juga muncul secara otomatis.
[Perlindungan Ilahi diterima : Goddess Blessing] meningkatkan status teman party yang ikut bertarung.
STR +1000
AGI +1000
__ADS_1
INT +1000
DEX +1000
VIT +100.000
LUX +1000
ATK +10.000
Dengan ini bahkan semua orang memiliki kesempatan untuk menang.
Semua orang mulai bersemangat.
"Rasanya tubuhku dialiri kekuatan luar biasa."
"Aku juga, rasanya aku bisa bertarung."
"Hidup Dewi Mamisa."
Dia seorang Idol bukan Dewi.
Mereka semua mulai melompat ke bawah menginjakkan kaki di es yang kubuat lalu berlarian melewati aku, Scarlet dan Valesta.
"Serang."
"Jangan mencuri start."
Scarlet berdiri dan berkata.
"Aku juga tidak mau kalah, kalian berdua bantu juga."
Aku dan Valesta mengangguk mengiyakan tapi aku tidak berlari ke depan melainkan berada di dekat Mamisa selagi melindunginya.
Mereka lupa satu hal, melindungi orang yang memiliki peran penting di belakang juga adalah tugas dari sebuah party.
Seekor ikan terbang bermunculan di sekitar kapal, seperti yang kuduga mereka mengincar Mamisa yang sedang bernyanyi.
Aku mengambil pedang biasa dari sihir penyimpananku lalu menebas mereka, karena pertarungan melawan Valesta sebelumnya aku sudah tidak bisa menggunakan pedang Grandbell lagi. Aku sudah terlalu lama menggunakan pedang itu, sudah waktunya dia beristirahat bersama topeng milikku.
Mamisa tersenyum ke arahku lalu melanjutkan nyanyian merdunya.
__ADS_1