
Salmon melangkah maju dengan kecepatan tinggi, setiap pergerakannya menghasilkan ledakan di pijakannya dengan dentuman keras.
Aku terus mengawasi pergerakannya terlebih pada Manas, yang jelas cukup merepotkan karena dia telah menciptakan beberapa tombak es di sekelilingnya.
"Kau lihat ke mana, sialan."
Salmon muncul di sampingku, dengan gerakan kuat dia mengirim tendangan yang kutahan dengan punggung lenganku.
Aku bahkan bisa mendengar tulang keringku retak. Dia memutar tubuhnya ke atas selagi menggunakan tendangan gunting, aku jelas menghindarinya sehingga tanah yang kupijak hancur menjadi serpihan.
Tepat saat aku meluncur ke belakang, seluruh tombak es yang dipersiapkan meluncur dari segala arah, dua dari antaranya berhasil kuhindari hanya saja sisanya menembusku dari segala arah hingga pergerakanku terhenti.
Tak hanya di sana Salmon menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi perutnya dengan udara lalu menghembuskan nafas api yang menelan seluruh tubuhku dengan ledakan.
"Apa berhasil?"
Aku berdiri dengan luka yang sedang dipulihkan.
"Sial."
Manas merapalkan sihir untuk mengembalikan kekuatannya sementara aku mengambil T-shirt dan sebuah mantel hitam yang kukenakan.
"Sempat-sempatnya kau bisa berganti baju, kuhabisi kau."
"Tenanglah."
Aku muncul di belakangnya lalu mendorong punggung kepalanya jatuh ke tanah hingga memuntahkan material ke udara.
__ADS_1
"Aku tidak akan kalah."
Orang ini sangat keras kepala jadi aku mendorongnya kembali lalu berkata," Hell Fire."
DUAR.
Aku meledakkannya tepat di depan wajahku.
Seperti yang kuduga dia masih hidup dan hanya tidak bisa bergerak kembali, sedangkan Manas telah menciptakan bola api raksasa.
Dia hendak melemparkannya, sayangnya seluruh tubuhnya lebih dulu membeku sampai leher hingga bola api itu lenyap sebelum dia menembakannya.
"Sejak kapan?"
"Kalian jangan mengganggu, musuh yang sebenarnya yang kalian harus hadapi adalah orang yang masih berada di dalam sana."
"Dari awal aku hanya membunuh orang jahat demi membuat kedamaian di dunia ini, namun pemimpin kalianlah yang sesungguhnya memanfaatkan kalian untuk membunuhku."
"Tidak mungkin."
Aku mengeluarkan busur dari item penyimpananku untuk menciptakan panah dari api hitam kemudian melewatkannya hingga seluruh bangunan Terossa hancur dengan sebuah ledakan serta api yang membumbung tinggi.
Dari sana seorang pria berjalan mendekat ke arahku selagi bertepuk tangan, ia mengenakan topeng hingga aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya.
"Sesuai yang kuduga, kau masih bisa mengatasi hal ini."
Kami saling berhadapan di jalar 10 meter saja.
__ADS_1
"Siapa kau? Sebaiknya tunjukan wajahmu," kataku demikian.
"Baiklah, jika itu keinginanmu."
Saat topeng dibuka aku terkejut, Salmon ataupun Manas juga bereaksi sama.
"Bagaimana bisa?"
Yang ada di depanku adalah diriku yang lain.
"Seperti yang kau lihat aku adalah Beaufort Reymond."
Aku hanya terdiam membeku, ini tidak masuk akal... sejak awal diriku sendiri yang ingin membunuhku, kami memang mirip akan tetapi pandangannya lebih tajam dariku.
"Ini tidak masuk akal."
"Semua hal memang terkadang seperti itu, Haru Kazuya."
Beaufort menjentikkan jarinya dan sebuah lubang hitam muncul di langit yang mana menjatuhkan sebuah kristal raksasa dari sana.
Bukan hanya kristal biasa, akan tetapi di dalamnya ada seorang wanita berambut pirang yang telanjang selagi memeluk lututnya dalam posisi melingkar.
"Apa itu?"
"Jangan sampai terkejut seperti itu, dan juga jangan salah paham, aku dan dirimu tidak memiliki hubungan apapun... kau adalah kau dan aku adalah aku."
Jika diperhatikan lebih seksama lagi, dia tidak mengenakan cincin di jarinya.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang terjadi?