
Pisces memunculkan dua ikan koi di dekatnya, masing-masing dari mereka membuat gelembung yang terbang ke udara yang mana menutupi dirinya sendiri.
"Pertandingan dimulai."
Tepat saat ia mengatakan itu, kami berdua melangkah maju, aku yang dilarang menggunakan kemampuanku hanya bisa mengandalkan kekuatan fisikku, kendati demikian ada sihir Viore, itu lebih dari cukup.
Kami berdua dengan gesit melewati gelembung tersebut, kami belum tahu apa yang terjadi jika kami tidak sengaja menyentuhnya meski begitu kami tidak ingin mencobanya.
Pisces tersenyum.
Kemudian.
Gelembung yang kami lewati meledak, memaksa kami untuk mundur.
Tubuhku dipenuhi asap yang mengepul ke udara sedangkan Viore dilindungi oleh roh miliknya berupa rakun yang melayang di dekatnya.
Rakun tersebut bisa menyerang dengan elemen api.
"Kemampuannya merepotkan tuan putri."
"Iya, aku hanya perlu menembaknya tapi jika begini sulit melakukan, kau memiliki ide Redo?"
"Sejauh ini belum."
"Jika kalian tidak mau menyerang biar aku yang maju."
Kedua ikan itu membuka mulutnya demi mengumpulkan energi cahaya yang siap ditembakkan ke arahku.
Aku berlari ke arah Viore.
"Apa yang kau lakukan?"
"Sekarang aku punya ide."
"Mungkinkah?"
__ADS_1
Aku memegangi pinggang ramping Viore lalu melemparkannya jauh ke atas.
"Sudah kuduga."
"Apa dengan cara menyerangku dari atas, akan berhasil."
"Bukan hanya dari atas tapi dari bahwa juga."
"Aku lengah."
Aku telah melewati gelembungnya, Pisces tidak tahu bahkan tanpa sihirku, fisikku sudah terlatih sejak awal. Aku memukul wajahnya sebelum ia sempat menembakan bola dari mulut ikannya.
Bersamaan tubuhnya melayang ke atas, Viore telah siap, dia mengambil dua pistol di tangannya sementara rakun di dekatnya menghilang.
Aku mundur tepat saat Viore menarik pelatuknya. Pisces ataupun ikannya menjadi bulan-bulanan dari senjata milik Viore.
"Gyaaaah."
Mereka tumbang.
Dengan ini kami mendapatkan mendalinya dengan mudah hingga Pisces bangkit selagi menghela nafas panjang.
"Paling tidak aku sudah bersenang-senang selama ini, selamat tinggal kalian berdua."
Dia kembali ke dunia roh.
Dalam sekejap sebuah cahaya menelan kami berdua selanjutnya aku maupun Viore kembali ke permukaan, tepatnya di dekat Mamisa yang sudah tertidur.
Aku menghilangkan pelindungnya lalu membangunkannya.
"Karena bosan aku ketiduran hehe."
"Kurasa kau baik-baik saja."
"Apa sudah selesai?"
__ADS_1
"Aah, mari kembali," saat aku mengatakan itu, burung merpati datang dari langit lalu hinggap di bahu Viore sebelum menghilang.
"Sepertinya ada benda berbahaya sedang mendekati kota pelabuhan."
"Merpati barusan?"
"Dia roh yang kuminta untuk mengawasi sekeliling kota."
Penyihir roh sangat praktis, burung barusan jelas berteleportasi kemari.
Kami bertiga menaiki kembali Owl untuk kembali ke tempat awal, di atas kota pelabuhan Eternal aku bisa melihat sosok laba-laba besi sedang mendekat selagi menghancurkan pepohonan.
Dia tidak berusaha menghancurkan apapun, kendati demikian langkahnya adalah sebuah bencana, laba-laba itu melirik ke arah kami bertiga.
"Viore mundur."
"Aku mengerti."
Beberapa misil terus mengejar kami, aku menggunakan sihir api untuk menghancurkannya di udara. Monster besi ini jelas bukan mengincar kota melainkan diriku, sebelum mendekat ke kota aku akan mengalahkannya di sini.
"Kalian mundur saja, biar aku atasi."
"Itu gegabah."
"Jangan khawatir, walau tak terlihat aku ini kuat."
"Aku lupa soal itu," balas Viore kembali.
Aku menjatuhkan diriku ke bawah. Bersamaan kakiku yang mendarat di tanah, laba-laba itu mengirim serangannya, menggunakan kaki-kaki besinya dia menghantamkannya padaku secara bergantian.
Material tanah menyembur ke udara dengan cepat, diserangan terakhirnya aku menangkap kedua kakinya kemudian mengangkatnya ke udara sebelum membantingnya ke tanah, akibat dampak dari seranganku guncangan terasa di permukaan tanah.
Saat laba-laba itu berusaha bangun, aku mundur beberapa meter selagi menarik busurku.
"Dengan ini selesai."
__ADS_1
Panah api dilesatkan menebus tubuhnya kemudian menghantam sumber energinya lalu meledak dahsyat.