Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 46 : Mengunjungi Istana


__ADS_3

Kalau saja aku punya Arm Slave dari Full Metal Panic segalanya pasti akan lebih mudah, aku bisa membayangkan diriku berada di dalam Arbalest di tengah kota yang terbakar.


"Al hancurkan semuanya haha."


"Kau tak apa Haru, apa sinar matahari membuatmu tertawa sendiri," suara Helfina membawaku ke dalam kenyataan.


"Bukan apa-apa, cuacanya memang sedikit panas."


Hari ini aku dan Helfina telah meninggalkan kota Abelon menuju ibukota Weisvia, soal pasukan raja iblis yang akan menyerang aku sudah menyerahkan semuanya pada pelayanku bersama para naga serta petualang yang telah dikumpulkan oleh Elona.


Semuanya akan baik-baik saja.


Beberapa jam kemudian kami tiba di gerbang ibukota, di sana para prajurit mengawal kereta kami ke istana dan bertemu dengan Felisa yang sedang minum teh di sebuah kursi di belakang istana bersama dua pelayan yang berdiri di belakangnya.


"Kau sudah datang tuan Kazuya."


"Ah iya."


Para prajurit meninggalkan kami.


"Silahkan duduk, aku tidak menyangka kau datang bersama Nona Helfina juga."


"Anda tahu saya?"


"Tentu saja, saat mendengar bahwa tuan Kazuya mengenalmu aku malah lebih terkejut.. sebelumnya ibumu juga pernah menjadi bagian di tempat ini."


"Apa itu benar?" tanyaku pada Helfina.


"Aku baru mengetahui hal itu, ibu sama sekali tidak mengatakan apapun."


"Jelas saja, ibumu mungkin membenci kerajaan ini."

__ADS_1


Ekpresi Helfina sedikit bermasalah.


"Mohon maaf, bolehkah saya mendengar ceritanya?"


"Apa kau yakin ingin mendengarnya, mungkin saja ini cerita yang tidak ingin kau dengar."


"Tidak apa, aku siap menerimanya."


Entah kenapa pembicaraan ini semakin berat saja.


"Aku dan Helfina itu saudara kandung."


Air teh menyembur dari mulutku.


"Mustahil," kataku.


"Itu benar, kami memiliki satu ayah yang sama akan tetapi berbeda ibu."


"Dulu aku masih kecil sementara Helfina berada di dalam kandungan, saat itu ibu Helfina meminta kawasan yang luas untuk dikelolanya secara pribadi akan tetapi ayah, maksudku raja tidak menyetujuinya.. ia pun memutuskan keluar dari kerajaan dan mendirikan sebuah kota yang berdiri hingga sekarang."


"Kenapa dia bisa sejauh itu?" tanyaku kembali.


"Itu karena?" Sebelum Felisa melanjutkan Helfina memotong lebih dulu.


"Ibu ingin membuat negaranya sendiri."


Felisa mengangguk mengiyakan.


"Benar, ibumu tidak bermaksud jahat.. awalnya dia hidup sebagai pengungsi yang mana mengharuskan dia selalu berpindah-pindah tempat, dengan membuat negaranya sendiri beliau bisa membujuk orang-orang yang tak memiliki rumah seperti dirinya di masa lalu untuk tinggal di negara yang dia bangun."


"Ibuku memang seperti itu, kota itu juga dibangun karena pemikirannya yang seperti itu."

__ADS_1


Aku cuma mendengarkan.


"Aku sempat mengunjungimu saat ibumu masih hidup, hanya saja aku tidak berani menyapa.. sampai sekarang aku sungguh menyesal."


Dalam kasus ini tidak ada yang salah maupun benar.


Jika ada kerajaan di dalam kerajaan, itu sama saja dengan pemberontakan jelas permintaan seperti itu akan ditolak.


"Terima kasih sudah menceritakan tujuan ibuku, tapi Anda salah tentang satu hal."


Aku maupun Felisa menatap ke arah Helfina menunggu perkataan selanjutnya.


"Ibuku tidak pernah membenci negara ini."


Kami berdua hanya tersenyum kecil.


"Sekarang aku bingung harus menyebutmu adikku atau tidak."


"Aku harap anda memperlakukan aku sebagai seorang kesatria saja."


"Eh."


"Ibuku sudah meninggalkan tempat ini aku juga tidak berhak menerima apa yang telah ditinggalkannya."


"Mustahil.Tuan Kazuya tolong katakan sesuatu?"


Aku menyilangkan tanganku di depan selagi menutup kedua mataku.


"Meski kau bilang begitu, aku tidak tahu harus mengatakan apa... mari biarkan hal ini begitu saja, biar waktu yang menjawabnya."


"Itu perkataan yang tidak bertanggung jawab," Felisa hanya menjatuhkan bahunya dengan lemas.

__ADS_1


__ADS_2