Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 326 : Kejadian Di Dalam Kelas Yang Ramai


__ADS_3

Rasanya seseorang sedang mengawasiku, namun saat aku menoleh tidak ada siapapun di sana.


Mungkinkah cuma perasaanku.


Tepat saat aku memikirkannya, suara Renaya memotong.


"Beaufort, sepertinya mereka dibunuh oleh sesuatu yang beracun, terdapat bekas gigitan di leher mereka."


"Apa kau bisa mengetahui makhluk apa itu?" aku balik bertanya.


"Entahlah, bisa jadi ular atau laba-laba."


"Begitu, mereka dibunuh secara berbeda karena itu ada dua pembunuh yang menyamar di akademi ini."


"Benar, kita sama sekali tidak tahu motif si pelaku dan itu membuatku frustasi."


Sejujurnya aku bisa merasakan energi sihir asing di sekelilingku tapi saat para kesatria ini dibunuh aku sama sekali tidak mengetahui apapun, ada kemungkinan pelakunya ada di antara orang-orang yang kukenal.


Tapi.


Terlalu dini untuk menyimpulkan hal itu.


"Kuserahkan padamu Renaya, aku akan beristirahat sekarang."


"Oke."


Aku mengunjungi kamar yang telah dipersiapkan akademi ini, selagi memperhatikan setiap pintu aku berhasil menemukan nomor kamarku yang berada di sudut koridor paling ujung.


Ketika aku melompat ke atas ranjang sesuatu yang lembut terasa di sekujur tubuhku. Aku menekan tanganku beberapa kali di tempat yang memiliki sensasi tidak asing itu.


"Kyaa, tolong pelan-pelan."


Dari balik selimut kepala menyeruak dari sana dan sosok itu adalah Almaira.


"Ke... ke.... kenapa kau ada di sini?"


"Ini kamarku juga, bukannya kita berbagi tempat tinggal bersama."


Di dalamnya hanya ada satu ranjang loh.


Yos, mari temui rajanya dan gebukin dia.


Walau aku tidak melakukan apapun, aku tetap saja akan disalahkan jika terjadi sesuatu? Posisi pria selalu dijadikan penjahat jika menyangkut seorang wanita.

__ADS_1


Misal jika seorang pria berdiri di dalam kereta dan tiba-tiba saja seorang wanita berteriak karena seseorang menyentuh pantatnya (walau cuma rekayasa) maka pria tak bersalah itu akan langsung dihakimi.


Begitulah hukum di Dunia manapun.


Tapi tunggu sebentar, bukannya para kesatria itu datang untuk menjemputnya, dengan kata lain dia berada di kamar ini karena kemauannya sendiri.


"Apa yang Beaufort lakukan?"


"Aku akan memindahkanmu ke istana."


"Eeh? Aku masih ingin belajar banyak hal dari guru."


Memangnya apa yang bisa aku ajarkan ketika berada di atas ranjang?


Ah, aku pura-pura bodoh.


Aku mengarahkan tanganku ke udara untuk menciptakan ruang perpindahan lalu melemparkannya masuk ke dalam.


Dengan begini dia sudah berada di tempat tidurnya sendiri, selagi menatap langit-langit aku bergumam kecil.


Kurasa bahkan di akademi sulit mendapat kedamaianku.


Pagi berikutnya Renaya kembali mengajarkan soal sihir, dia menuliskan sebuah mantra rapalan sepanjang papan tulis.


"Sekarang kalian coba baca tulisannya."


Ogah.


Dibanding sebuah mantra itu malah lebih seperti kutukan yang diarahkan pada seseorang. Aku tidak ingin berkomentar apapun lalu tidur di mejaku.


Saat itu terdengar kegaduhan hingga aku membuka mataku karena sensasi dingin dari seseorang yang menuangkan air minum di atas kepalaku.


"Apa yang kalian lakukan?" teriak Esna membela bersama yang lainnya.


"Kudengar gara-gara orang ini, putri yang harusnya berada di kelas kami malah berada di tempat menjijikan ini."


Kalian harus sadar dengan posisi kalian di sini, singkatnya seperti itu.


Aku mengusap wajahku dengan tangan sebelum mendesah pelan, diskriminasi seperti ini selalu terjadi di manapun.


Aku menahan semua orang agar tidak terpancing perkelahian, bagaimanapun kelima orang yang sedang merundungku jelas memiliki tingkat sosial paling atas.


Pakaian mereka mewah dan bekelip-kelip seperti bintang di langit malam yang sunyi.

__ADS_1


"Kelas bangsawan kah, menurutmu apa yang membuat kalian bisa sewenang-wenang seperti ini padaku."


"Kau hanya rakyat jelata, kami memiliki darah biru sebaiknya kau membiarkan tuan putri ke kelas kami, dia lebih cocok bersama kami."


Saat Almaira hendak menyangkalnya aku segera menghentikannya.


Aku tidak ingin ada perselisihan antara putri raja dan bangsawan, lagipula ini sudah tugasku sebagai orang dewasa meluruskan anak-anak muda yang salah jalan seperti mereka.


"Kalian berfikir bahwa kelas bangsawan memiliki kemampuan luar biasa, namun sayangnya kami rakyat jelata lebih kuat dari yang kalian perkirakan."


Aku bangkit kemudian salah satu anak bangsawan mencengkeramku.


"Kau mengejek kami, jika kau memang kuat seperti apa yang kau katakan maka bertarunglah dengan kami semua."


"Maaf saja tapi aku ini lemah, yang akan melawan kalian adalah dua gadis di sana, Esna dan Thenta."


"Hanya aku juga sudah cukup."


"Tidak maksudku lima lawan dua, kalian semua."


Mereka semua mengerenyitkan alisnya hingga berkedut.


"Karena kau begitu percaya diri maka aku akan menerimanya dan menghancurkan keduanya."


Mereka semua mendelik ke arah kedua gadis yang gemetaran sebelum tersenyum dan berkata.


"Jika kami menang aku ingin putri Almaira kembali ke kelas seharusnya dan kau keluar dari sekolah ini."


"Aku tidak keberatan, tapi jika kami menang kalian harus bersikap baik pada rakyat jelata dan juga entah kelas bangsawan atau rakyat jelata semuanya akan dicampur menjadi satu kedepannya."


Semua orang tersedak karena terkejut.


"Kau? Itu pertukaran tidak adil."


"Kalau begitu kami rakyat jelata tidak akan belajar lagi di dalam kelas."


"Itu baru menarik."


Aku mengalihkan pandanganku ke arah Renaya yang baru masuk ke kelas.


"Apa tak apa kan guru?"


"Kurasa tidak masalah, jika para siswa mengizinkannya maka soal hirarki di akademi ini akan dihapuskan."

__ADS_1


Aku menyeringai senang saat mereka menyetujuinya.


Pada dasarnya sekolah ataupun akademi haruslah memiliki kesetaraan entah itu kelompok bangsawan atau rakyat jelata semuanya sama saja.


__ADS_2