
Setelah banyak hal yang terjadi, aku akhirnya bisa bersantai di dalam bak mandi yang hangat, bak mandi ini terbuat dari kayu dan terkesan sangat tradisional.
Aku sudah menutup pintu agar ketiga pelayanku tidak masuk ke dalam sini, karena itu aku bisa bersantai.
Biar aku beritahu sedikit tentang mereka, walau sikapnya tampak judes padaku dan sesekali terlihat membenciku, namun sejujurnya hati mereka itu sangat berbeda.
Bisa dibilang mereka tipe malu-malu kucing.
Mereka sebenarnya sangat nafsuan, tidak sopan, dan suka jahil. Aku ingat terakhir saat aku bangun dan menemukan diriku berada di genteng rumah orang, di tengah jalan, di tengah danau bahkan di kolong jembatan.
Coba bayangkan itu?
Yah, paling tidak mereka tidak membuangku di tempat sampah.
Padahal pelayan itu harusnya seperti yang ada di bayanganku, mereka lembut, sangat patuh, serta selalu menuruti apa perkataanku dan mau melakukan apapun yang kuminta.
Itu adalah cerminan pelayan sesungguhnya.
Kuharap di masa depan nanti, aku memiliki pelayan yang lebih baik.
Selagi memikirkan itu aku meletakan tanganku di belakang kepala sebagai sandaran. Aku bisa melihat uap mengepul dari bak yang kumasuki ini.
Perlahan aku hanyut dalam suasana santai.
"Tuan, hari ini biar aku memanjakanmu."
Aku mengalihkan pandanganku ke kiri dimana di sana berdiri Rin yang memijat tanganku dengan busa.
"Aku juga."
Di tangan lain adalah Gabriela, sementara Amnestha memijat kepalaku.
Mereka semua telanjang, ke manakah perginya kabut ajaib dan cahaya misterius di saat seperti ini, terlebih percuma saja ada pintu dan kunci di sana.
__ADS_1
Nggak guna.
"Bagaimana tuan, apa pijatanku enak?" tanya Amnestha.
"Ini terasa nyaman."
"Kalau aku tuan?"
"Kalian juga, tapi ngomong-ngomong kenapa kalian sangat baik hari ini? Kuperingatkan aku tidak punya uang."
"Apa kami ini terlihat seorang cewek matre?" aku tersenyum masam atas pernyataan Gabriela.
Sejujurnya itu benar.
Rin melanjutkan.
"Kami ini hanya merasa kurang dibelai belakangan ini, kalau boleh?"
Sudah kuduga, ini pasti sudah memasuki musim kawin bagi malaikat, roh agung dan Vampir.
Aku menunjuk ke arah jendela.
"Ada manusia terbang."
"Manusia terbang, di mana?"
Ketika ketiganya mengalihkan pandangannya, aku berlari ke luar.
"Tunggu tuan."
Aku berlarian di atas salju yang dingin sementara ketiganya mengejarku, syukurlah hanya rumah Rania saja yang ada di sini.
"Paling tidak tutupi tubuh kalian."
__ADS_1
"Bukannya ini aneh, tuan tidak bersikap seperti biasanya?"
"Aku hanya tidak ingin dipaksa melakukan itu, itu dan itu... terlebih kalian yang lebih aneh."
"Itu, itu, itu, itu apa?" tanya Gabriela.
"Jangan meniru perkataan dari novel sebelah," teriakku lalu melanjutkan.
"Pergi kalian, kalian ingin melecehkanku.. hah?"
Rin muncul di depanku lalu aku melewatinya dengan gerakan mengecoh, di saat yang sama Gabriela dan Amnestha muncul tiba-tiba.
Dan aku melompat untuk menghindarinya.
Jika begini terus aku akan mati kedinginan.
Setelah cukup lama aku menjatuhkan ketiganya lalu mengikat mereka menjadi satu.
"Dasar orang-orang mesum," kataku mendesah pelan sampai Rania muncul dengan wajah panik selagi menunjukan buah cerah di tangannya.
"Aaah, sudah kuduga."
"Ada apa Rania?"
"Mereka memakan buah beracun, buah ini membuat siapapun menjadi sangat terangsang hingga hilang akal."
"Buah apaan tuh? Mengerikan sekali, apa mereka akan baik-baik saja?"
"Efeknya akan hilang beberapa menit saja."
Aku mengangkat tanganku dan berteriak ke langit.
"Berikan aku pelayan yang normal."
__ADS_1
"Kau juga sudah gila yah."
"Maafkan aku."