Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 335 : Pertarungan Akhir


__ADS_3

Dia menggeram selagi menghentakkan kakinya melesat ke arahku.


Walau cuma satu tangan, aku tidak mungkin dikalahkan oleh iblis seperti ini. Aku menahan setiap serangannya.


Kilatan cahaya bercampur ledakan di sekelilingku menjadi pemandangan yang sering terlihat, dengan satu tangan aku membalas serangannya membuat pijakannya merebas sedalam puluhan sentimeter.


"Graaaaaagh."


"Lebih baik kau diam saja."


Aku melemparkan pedangku ke atas lalu menembakan bola api tepat ke dalam mulutnya hingga dia melepaskan senjatanya selagi memegangi mulutnya.


Di saat yang sama aku menangkap pendangku yang sebelumnya kulemparkan lalu menebaskannya padanya, darah memuncrat ke udara bersama dirinya yang tumbang.


"Mu-mustahil."


"Beristirahatlah dengan tenang."


Jleb.


Aku menusukan ujung pedangku tepat di dadanya hingga dia tidak bisa bergerak kembali. Aku perlu membedah perutnya untuk mengambil tanganku kembali lalu menyatukannya kembali.


Aku melirik ke arah belakang dan bergumam.


Mungkin hanya perasaanku, rasanya seseorang sedang mengawasiku dari kejauhan. Untuk memastikannya aku mengulurkan tanganku dan berkata.


"Hell Fire."


Api membakar seluruh area hutan dengan api yang membumbung tinggi, aku menunggu sesuatu keluar dari sana namun sayangnya tidak ada apapun.


Pada akhirnya aku kembali ke kota untuk memeriksa keadaan semua orang, para zombie yang menyerang telah hancur dan roh-roh putih dari tubuh mereka berterbangan ke langit.

__ADS_1


Tampak Minerva berdiri di tengah pasukannya selagi menyarungkan pedang kembali, dengan ini kurasa kerajaan ini berhasil diselamatkan.


Dua hari selanjutnya aku menerima hadiah berupa peti besar berisi emas dari raja, walau aku mengatakan ingin dibayar aku sama sekali tidak senang, kendati demikian aku akan menerimanya sesuai alasanku yang waktu itu.


Di depan kota aku berpamitan dengan ketiga murid akademi yaitu Almaira, Esna dan Thenta yang sama-sama memberikan karangan bunga yang mereka buat sendiri.


Sekarang hirarki di akademi telah menghilang, entah itu bangsawan atau rakyat jelata mereka akan sekolah berdampingan, meskipun itu juga masih perlu waktu beradaptasi satu sama lain.


"Terima kasih."


Minerva di sebelahnya tampak kebingungan.


"Aku tidak tahu apa yang harus kuberikan tapi aku punya bantalan lembut di sini, kau bisa menyentuhnya."


"Tidak, terima kasih... bunga ini juga sudah cukup," kataku dengan nada datar sebelum melanjutkan.


"Kalau begitu selamat tinggal, jaga diri kalian."


Aku muncul tepat di alun-alun desa selagi membentangkan tanganku.


Seberapa merepotkan tinggal di desa tetap saja tepat ini yang jauh lebih baik, aku melirik ke sekelilingku dan menemukan banyak orang yang sedang menghabiskan waktu bersantai mereka dengan keluarga maupun orang yang berharga.


Di antara itu, aku melihat Ristal sedang duduk di pancuran air selagi melambaikan tangan ke arahku.


Dia sepertinya memintaku duduk di sampingnya.


"Suamiku sudah kembali."


Wajahku memucat.


Dia mengenakan gaun terusan sedikit terbuka suatu hal yang jarang dikenakannya.

__ADS_1


"Apa kau mau sesuatu?"


"Hmmm mungkin eskrim."


Aku membelikan satu untuknya.


"Tempat ini sangat nyaman, aku pikir kedamaian tidak akan tercipta di dunia ini."


"Kedamaian pasti akan tercipta bahkan aku yakin saat Dewi Ristal menemuiku pertama kali sebagai sosok Aurora."


"Kau mengingatnya?"


"Sangat jelas."


Itu adalah awal perjalananku sesungguhnya di mana kedamaian ini bisa diraih.


Ristal menyentuh pipinya lalu berkata.


"Bagaimana kalau hari ini aku memberikan kedamaian pada suamiku."


"Masalahku masih banyak, tidak mungkin aku.."


Ristal tersenyum selagi menepuk pangkuannya.


"Aku akan memberikan bantalan paha, apa kau yakin mau menolaknya?"


Aku jelas tidak bisa menolaknya, walaupun aku tahu beberapa orang melirik ke arahku hingga wajahku memerah.


"Apa nyaman?"


Aku mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2