Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 401 : Sebuah Keputusan Yang Diambil


__ADS_3

Ini adalah dunia Dewi dimana aku duduk di mejaku dengan empat Dewi menemaniku, dua diantaranya adalah istriku dan sisanya Hecate dan Amnesia.


Ristal menyeruput tehnya lalu menjelaskan.


"Gerbang neraka kah, pantas saja menghilang dari dunia Dewi."


"Bukannya harusnya kalian mencarinya," potongku.


"Gerbang itu sangat merepotkan karena itu kami menyimpannya di tempat aman tanpa mengeceknya lagi."


"Apa yang akan terjadi jika diriku dari dunia itu membukanya?"


"Seluruh sihir akan menghilang," balas Ariel, lalu melanjutkan.


"Dengan kondisi dunia diliputi oleh monster, manusia akan kehilangan kekuatan untuk melindungi dirinya maupun orang lain... itu sama saja bahwa manusia akan berada di ambang kepunahan."


"Tepat sekali, tak kusangka ada dunia yang dibuat dengan menduplikat dunia lain, kami benar-benar kecolongan," tambah Hecate.


Bukannya mereka sering kecolongan, jadi aku tidak merasa aneh lagi. Yang lebih membuatku penasaran adalah sosok wanita di dalam kristal tersebut.

__ADS_1


Dewi Nimpa adalah seorang manusia yang berhasil menjadi Dewi, dia memang mendapatkan perlakuan tidak baik ketika berada di sini akan tetapi tak kusangka dia sampai melakukan ini semua.


Kami berlima sekarang ingin berunding soal dunia yang baru kami ketahui, apa lebih baik dihancurkan saja atau dibiarkan saja? Kami jelas tidak bisa menjawabnya.


Alangkah lebih baik jika Dewi Nimpa sendiri yang mengelola dunianya hanya saja dia sendiri malah terperangkap di dalam kristal, walau membuat dunia tanpa sepengetahuan Dewi yang lain merupakan kejahatan tapi sepertinya semua orang tak menyalahkannya.


Aku menyeruput tehku dalam diam lalu berkata.


"Aku akan memberikan sistem ini pada Dewi Nimpa dan melelehkan kristal tersebut dengan mengorbankan cincinku." Atas pernyataanku semua orang tampak terkejut.


Berbeda dari cincinku yang dulu, aku bisa melepaskannya dengan membuat skill khusus.


"Bukannya itu berlebihan, kecuali kau yang masih abadi sisanya kau hanya akan menjadi manusia biasa tanpa kekuatan," Amnesia yang sejak tadi fokus pada permainannya angkat bicara.


Aku bukannya tidak memikirkannya, hanya saja hanya inilah jalan satu-satunya... dengan memberikan sistem ini serta mengorbankan cincinku maka kristal yang menutupi tubuhnya akan mencair dan dia bisa menjadi Dewi lagi.


Ariel melirik ke arahku lalu berkata dengan pandangan khawatir.


"Suamiku yakin ingin melakukannya?"

__ADS_1


"Kurasa bukan hal menakutkan jadi manusia biasa lagi, aku bisa segera pensiun jadi pahlawan dan mulai fokus dengan pekerjaanku di desa."


Sementara aku mengatakan itu, ekpresi keempat Dewi tampak terkejut.


"Tunggu, apa aku mengatakan hal yang aneh?" tanyaku kembali.


Ristal yang menjawabnya.


"Bukannya suamiku hanya ingin bermalas-malasan setiap harinya."


"Memang itu yang ingin kulakukan, hanya saja saat melihat mereka semua yang hidup di desa, entah kenapa, aku ingin sedikit lebih lama bekerja lagi dan membangun tempat yang jauh lebih baik lagi."


Semua Dewi tersenyum kecil sebagai balasan.


"Jika itu keinginanmu kami akan menghargainya, lagipula Dewi Nimpa tidak berniat jahat sama sekali... dia hanya ingin diakui oleh semua Dewa Dewi lainnya, bagaimana menurutmu Amnesia?"


"Kurasa aku akan setuju Hecate... jika itu yang akan terjadi, kami yang akan mengunjungimu di desamu. Bagi kami semua, Kazuya tetaplah seorang Dewa yang telah banyak menyelamatkan dunia. Kami benar-benar berterima kasih."


Dari awal aku hanya penduduk desa biasa, tidak masalah jika aku harus kembali ke nol.

__ADS_1


Berbeda dengan dulu kini aku punya tempat yang disebut sebuah rumah serta memiliki banyak orang yang peduli denganku, itu sudah lebih dari cukup.


Tanpa sadar aku tersenyum kecil.


__ADS_2