
"Guakh."
Aku meninggalkan suara teriakan itu jauh di belakang, kedua Orc raksasa sudah menghancurkan setengah tembok tersebut hingga menunggu waktu saja sampai mereka bisa melewatinya.
Puing-puing bangunan dijatuhkan ke bawah, menimpa rumah-rumah sampai hancur.
Kenapa dua monster ini ingin menghancurkan temboknya, bukannya orang-orang mereka telah masuk. Aku jelas merasakan ada yang aneh?
Aku melompat naik ke atas tembok lalu berdiri di dekat Orc yang menghembuskan nafas asap dari mulutnya.
Dengan pisau di tanganku jelas akan mustahil menjatuhkannya karena itu, kumunculkan Grandbell di tanganku.
Seketika kegelapan menyelimutinya, pedang ini menghisap mana lebih dari seharusnya.
Lagi-lagi tanganku berubah menjadi tengkorak.
Tidak ada waktu untuk memikirkannya, aku mengayunkan pedangku dan itu menciptakan sebuah tebasan melengkung dengan kilatan berwarna hitam hingga kedua Orc hanya meraung kesakitan lalu mundur beberapa langkah ke belakang.
Mereka berteriak marah.
Aku menebaskan pedangku kembali hingga keduanya jatuh tak bernyawa, dari atas tembok itu aku bisa melihat pemandangan kota yang berasap karena pertempuran.
Aku melirik tanganku sebelum mengalihkan pandangan ke arah tempat lain dimana pasukan Behemoth yang lebih banyak berdatangan, mereka membawa semacam senjata mirip meriam akan tetapi sedikit berbeda.
"Jadi begitu, mereka sengaja menghancurkan tembok untuk menghancurkan kota ini sekaligus dengan sekali tembakan.
Bayangan hitam yang menyelimutiku semakin bertambah besar, aku yakin bahwa setengah tubuhku hanya menyisakan tulang berulang sekarang, anehnya tidak ada efek apapun yang kurasakan.
Salah satu seperti pemimpinnya berteriak, " Tembak," dan sebuah sinar mirip pilar keemasan diluncurkan dari dalam meriam. Aku membenturkan sinar itu dengan pedangku hingga akhirnya menghilang tanpa bekas kecuali jalur lintasannya yang berubah menjadi lava merah.
__ADS_1
Diam-diam aku berterima kasih pada Amnestha, jika bukan karena dia, aku tidak akan pernah mendapatkan kekuatan ini.
Apa bisa mengenai meriam itu dari jarak jauh?
Ketika aku memikirkannya tiba-tiba saja Grandbell berubah menjadi busur.
Saking terkejutnya aku sampai tidak bisa berkata apapun, jangan-jangan pedang ini bereaksi dengan pikiranku.
Aku menarik busurnya dan seketika panah api hitam tercipta di antara jari telunjukku serta jempol.
Ketika aku melepaskannya itu menciptakan ledakan angin, membelah udara dengan bunyi nyaring yang mampu memekikan telinga.
Dalam sekejap meriam itu hancur dengan mudah.
Seluruh pasukan tampak tercengang, termasuk pemimpinnya yang hanya diam melongo.
Aku kembali menghujani mereka dengan lebih banyak panah, membuat kawah di sana sini cukup parah.
Selanjutnya mereka hancur tanpa perlawanan.
Tak lama kemudian Gabriela, Amnestha dan Rin, memanjat tembok hingga kami saling berhadapan.
Mereka sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Aku menghilangkan pedang serta melepaskan topengku setelahnya.
"Kerja bagus kalian bertiga, tunggu, kenapa kalian hanya diam saja?"
Gabriela yang mengatakannya padaku.
__ADS_1
"Tangan tuan tidak berubah."
Saat aku sadari tangan kiriku dalam wujud tengkorak.
"Ah, sepertinya perlu waktu sedikit lama agar kembali sedia kala," kataku tersenyum pahit sebelum melompat ke bawah bersama yang lainnya.
Semua penduduk kota mulai mengerumuni kami dengan suara meriah tepuk tangan, Rin yang sebelumnya menutupi wajahnya pun tidak bisa menyembunyikan senyumannya, sampai seorang keluar dari kerumunan itu.
Dia adalah pria yang sebelumnya kami rampok.
"Tuan, dia menunjuk ke arah kita," kata Amnestha memperingati bersamaan para pendeta yang bermunculan, semakin lama jumlahnya semakin banyak.
"Lari," atas teriakanku kami semua berlari melewati tembok yang sudah hancur.
Amnestha, Rin dan Gabriela tertawa.
"Ini sangat menyenangkan, ini pertama kalinya aku di kejar-kejar," teriak Gabriel lalu disusul Amnestha.
"Yah, ini baru namanya petualang."
Rin melepas tudungnya lalu berkata.
"Aku juga merasa begitu."
"Kalian bertiga cepatlah, apa kalian mau tertangkap?"
"Baik," ketiganya berkata di waktu bersamaan.
Padahal ini situasi merepotkan tapi mereka malah tersenyum dengan bahagia.
__ADS_1