
Bunglon adalah seekor reptil yang bisa membaurkan dirinya dengan sekelilingnya seolah dia bisa menghilang.
Selly masih menangis selagi memeluk kakiku.
"Hentikan, ingusmu menempel di celanaku."
Perkataanku sama sekali tidak bisa sampai ke telinganya, di saat yang sama makhluk itu telah menghilang seutuhnya.
"Dia berhasil melarikan diri."
Ada kemungkinan dia kembali sampai saat itu kami memutuskan menjaga tempat ini, untuk Sella aku memintanya lebih dulu membawa Selly untuk membersihkan diri.
Tubuhnya benar-benar diselimuti lendir.
Aku kembali masuk ke area padang rumput bertepatan saat seorang wanita muncul dengan ember di tangannya.
"Yo."
"Aku datang untuk memerah sapi."
"Begitu kah, silahkan... sekarang situasinya sedang berbahaya jadi aku akan berjaga di sini sampai kau selesai."
"Terima kasih."
Aku memperhatikan apa yang sedang dia lakukan, tangannya terlihat sangat mahir untuk mengambil susu.
__ADS_1
"Mau mencobanya?" katanya.
"Bolehkah."
Aku hendak meletakan tanganku di dada wanita itu tapi dia langsung menutupinya
"Bukan punyaku."
"Aku cuma bercanda."
Aura gelap terasa dari punggungku.
"Jadi tuan sedang bersenang-senang di sini, padahal kami berdua selalu menawarkan dada kami padamu."
"Maafkan aku."
"Ngomong-ngomong desa ini sangat sepi?" kataku demikian.
"Soal itu, setengah penduduknya sudah meninggalkan tempat ini untuk bekerja di tempat yang lebih baik, aku menyukai desa ini kuharap semuanya bisa kembali sedia kala.. pekerjaanku sudah selesai, kalau begitu aku permisi."
Kami hanya bisa melihat punggungnya menjauh, aku akan menyelematkan desa ini apapun yang terjadi.
Siang itu aku menempatkan beberapa kaleng yang diikat ke tali lalu kuikatkan kembali ke pohon-pohon membentuk jaring laba-laba.
Sekarang hanya harus menunggu sampai makhluk itu muncul kembali, kami menunggu di dalam kandang yang sepenuhnya tertutup agar tidak dilihat siapapun.
__ADS_1
Selly dan Sella hanya duduk di atas jerami selagi memakan roti di tangan mereka, di dunia ini juga ada padi, walau jumlahnya tak banyak aku bersyukur untuk itu.
Karena harganya mahal beras hanya di konsumsi oleh para bangsawan saja, untuk rakyat seperti kami jika makan sekali dalam sebulan sudah disebut untung. Kalau bisa aku ingin melakukan sesuatu untuk itu nanti.
Tapi sekarang aku harus fokus.
Tak lama kemudian terdengar suara jebakan yang telah kupasang sebelumnya, aku mengintip dari jendela dan kulihat kaleng-kaleng itu bergerak seolah melayang di udara.
"Tuan?"
"Aku akan menjatuhkannya dari sini."
Aku menciptakan sebuah busur di tanganku lalu menembaknya hingga kemudian tumbang ke tanah. Bunglon itu mulai mengerang kesakitan hingga tubuhnya terlihat kembali dan mati dalam sekejap.
Kami mendekat ke mayatnya begitu juga para penduduk yang mulai berdatangan untuk melihat peristiwa ini.
"Jadi makhluk ini yang selama ini menyerang hewan ternak kita," ucap kepala desa.
Wanita yang kulihat sebelumnya juga turut memperhatikan di antara orang-orang tersebut.
"Aku tidak tahu berapa banyak makhluk ini, mulai sekarang kalian bisa membuat busur kemudian menempatkan kaleng-kaleng seperti yang kubuat dan untuk yang betugas mengambil susu usahakan untuk melakukannya di kandang saja."
"Kami mengerti, dengan ini kami bisa tenang... sekarang mari kita rayakan," atas pernyataan kepala desa semua orang berteriak semangat.
Aku sudah memastikan bahwa tidak ada lagi makhluk serupa di sini, meski begitu aku berharap para penduduk bisa berkerja sama untuk melindungi harta berharga mereka.
__ADS_1
Kulihat wanita itu membungkuk ke arahku lalu bergumam.
"Terima kasih."