Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 230 : Kegiatan


__ADS_3

Selepas meninggalkan Bar, aku tanpa sengaja bertemu dengan dua pendeta yang tidak ingin kutemui, yang berambut pirang bernama Olien sedangkan yang berambut hitam Cleo, mereka berdua bersaudara.


Karena suatu alasan Cleo tidak bisa berkata secara bebas, dia selalu menyegel mulutnya tetap diam, di sisi lain Olien sangat banyak bicara.


"Aku harus pergi."


Sebelum aku hendak pergi keduanya memegangi lenganku.


Terakhir kali mereka datang membawa masalah padaku, aku tidak ingin terjebak itu lagi.


"Aku sibuk."


"Jangan terburu-buru, kami ini gadis cantik, kau tidak ingin bersama kami."


"Apa yang kalian mau dariku?"


Tatapan mereka berubah menjadi mata karnivora yang baru menemukan mangsanya. Pada akhirnya aku mentraktir mereka makanan pinggir jalan.


Ketika aku mendengar masalahnya itu lebih buruk dari yang kubayangkan.


"Kalian berdua ingin pindah ke desaku."


"Um."


Cleo mengangguk sebagai jawaban.


"Kau tahu kota suci imperial mulai tidak terasa nyaman untuk kami berdua, lebih baik tinggal di sini dan menjalani kehidupan menyenangkan, bukannya desamu disebut desa pelawak."


"Jangan seenaknya mengarang cerita."


Aku menjitak kepala Olien hingga dia memegangi kepalanya.


"Sakit."


"Memang ada rumah yang kosong di desaku, kurasa kalian bisa tinggal di sana."

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Cleo akhirnya kita punya rumah lagi."


Cleo membalas dengan senyuman.


"Tunggu, punya rumah lagi? Bisakah kau menjelaskan sesuatu padaku."


"Soal itu."


Ketika Olien mengalihkan pandangannya ke samping, Cleo menuliskan sesuatu di papan miliknya.


(Sebenarnya Olien tidak sengaja menghancurkan salah satu rumah penduduk dengan sihirnya, dan karena itu, kami harus menggantinya dengan rumah kami)


"Jadi begitu.... apa boleh buat, ikut aku."


Olien maupun Cleo menempel erat di lenganku lalu berjalan bersama ke rumah yang paling pojok yang belum dihuni siapapun di desaku.


Kebanyakan rumah yang dibangun di dataran tinggi memiliki dua lantai, satu lantai untuk tamu, sementara tempat tidur di letakkan di atas.


"Luas sekali... Kami benar-benar boleh tinggal di sini."


'Kami mengerti."


Cleo menunjukan papan yang ditulisnya.


(Aku mencintaimu)


"Cleo kau tidak bisa mencintai pria yang sudah menikah."


(Tidak adil)


Kedua orang ini memang selalu membuatku tidak bosan meskipun menyebalkan.


Aku kembali ke kediamanku dan kulihat Rusina diam di tempatku selagi meminum teh.


"Kau membawa wanita lain ke dalam rumah?"

__ADS_1


Yang dimaksudnya mungkin Haruna.


"Dia hanya tinggal sementara waktu, dibanding itu, bukannya kau ini seorang bangsawan, kerja sana."


"Ogah, aku hanya akan bekerja satu hari dalam seminggu."


Orang ini juga menyebalkan.


Aku memutuskan masuk ke dalam masion lalu bergabung dengan para istriku yang tengah berada di ruangan khusus untuk mereka.


Di sana segala permainan dari ingatanku diciptakan, seperti bowling, biliard, catur serta lainnya.


Kalau dipikir-pikir mereka ini memang suka bermalas-malasan, aku melihat Marina, Gabriela dan Amnestha juga turut bermain.


Haruna dan kucingku Dorothy pun ada di sini.


"Kalian semua."


Selly dan Sella berdiri di depanku.


"Lihat suamiku, aku mendapatkan nilai paling tinggi."


"Itu hanya kebetulan."


"Bukannya kalian terlalu bersantai."


Sella yang menjawabku.


"Kami memang tidak memiliki kegiatan apapun."


"Itu memang benar," kataku demikian.


Semua pekerjaan rumah diambil alih oleh seluruh pelayanku bahkan mereka juga bergiliran mengajari putriku satu hingga dua jam.


Aerith dan Felisa memang mengelola kerajaan akan tetapi keduanya lebih banyak tinggal di sini.

__ADS_1


Aku harus memikirkan kegiatan yang bisa mereka lakukan ketika senggang.


__ADS_2