
Ketika aku menarik nafas lega terdengar seseorang berteriak "Tuan pahlawan," dari belakangku, saat aku berbalik kutemukan wanita itu tengah berlari ke arahku, orang-orang yang menghalangi diseruduk begitu saja hingga mereka berterbangan ke segala arah.
"Tunggu."
Melihat ini, aku pun berlari.
"Uwwaaahh.. Kenapa kau mengejarku?"
"Anda pahlawan kan? Tolong bantu aku."
"Sudah kukatakan aku bukan pahlawan, aku hanya pria biasa."
"Mana mungkin aku mempercayainya de gozaru."
Aku menikung orang-orang di depanku dengan gerakan kilat sementara wanita itu menubruk mereka.
"Buakh, apa yang kalian berdua lakukan?"
"Barang daganganku."
Semua protes itu dibiarkan berlalu begitu saja sampai akhirnya kami berdua berhenti di padang rumput di luar kota dengan nafas terengah-engah.
"Ukh... ukh, kenapa Anda terus lari?"
"Karena dikejar aku pasti berlari."
"Kenapa begitu? Lelah sekali, aku sepertinya mau pingsan."
"Aku juga."
Setelah mengatur nafas beberapa menit akhirnya kami bisa berbicara dengan normal.
"Sebenarnya negeriku telah mengalami kudeta besar-besaran, pemimpin negara kami Shogun telah dibunuh dalam insiden ini, dan kami ingin Anda membantu kami untuk merebut negeri kami semula."
"Tunggu sebentar, kau mungkin salah paham tapi sejujurnya kekuatanku sudah hilang," aku berulang kali menegaskan hal itu.
"Anda pasti bercanda?'
__ADS_1
"Aku tidak bohong, lihat ini."
Aku mengarahkan kedua tanganku ke langit lalu berkata.
"Fire bolt."
Dalam sekejap sebuah bola api hitam raksasa tercipta di pergelangan tanganku selanjutnya hilang begitu saja.
Saat aku menunjukan ke sepuluh cincin di jariku, semua cincin itu hancur berserakan.
"Cincin ini adalah seluruh kemampuanku dan sekarang sudah mencapai batasnya dan hancur."
"Kenapa begitu?"
"Semenjak aku mengalahkan raja iblis aku terus saja bertarung dengan orang yang kuat, hingga akhirnya tidak stabil dan hancur, barusan adalah kekuatanku yang terakhir."
"Mustahil?"
"Kau malah lebih kuat dariku, bahkan levelku dikembalikan ke satu sementara skillku hanya ada satu, bisa dibilang aku kembali lagi dari Nol."
"Lalu apa gunanya aku terus berkeliling untuk mencari orang kuat?" air mata menetes dari wajahnya.
"Maafkan aku."
Aku berbalik untuk membelakanginya, pemandangan wanita yang sedang menangis bukanlah hal yang bisa kulihat begitu saja.
Sebenarnya aku bisa membuat cincin ini kembali hanya saja itu akan memerlukan waktu lama, terlebih aku juga harus membunuh jutaan monster untuk mengambil jiwa mereka.
Moster di dunia ini jumlahnya telah berkurang dan jika kulakukan itu sama saja dengan menghilangkan mata pencarian para petualang.
Seharusnya aku membuat cincin yang lebih kuat lagi.
"Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menyelamatkan negeriku."
Saat wanita itu hendak pergi aku segera menghentikannya.
"Kau pasti masih bingung, untuk sementara ini tinggallah di kediamanku."
__ADS_1
Aku menceritakan semua ini pada semua penghuni masionku, mereka semua merasakan kasihan pada wanita yang kubawa ini, pasalnya dia berada dari tempat yang jauh terlebih sudah berpetualang bertahun-tahun ke segala tempat, saat dia mendengar bahwa ada seorang pahlawan di negara ini, ia akhirnya mendapatkan kesempatan namun sayangnya harapan itu dikhianati begitu saja.
Ngomong-ngomong wanita ini bernama Haruna.
Selagi mendesah pelan aku meminum tehku dengan sekali tegukan. Ristal dan Ariel yang baru muncul tampak menatapku heran.
"Apa kau khawatir?" tanya Ristal.
"Biasanya aku tidak ingin terlibat dalam hal merepotkan, tapi sekarang aku merasa kecewa pada diriku karena tidak bisa membantunya."
"Aneh sekali."
"Itu benar, suamiku kadang bertingkah aneh," tambah Ariel.
"Sepertinya begitu, saat aku membuat cincin tersebut aku tidak memperkirakan aku menggunakannya sampai batasnya, kupikir di dunia ini tidak akan ada yang menyaingiku lagi."
Ristal tertawa kecil.
"Di atas langit selalu ada langit, sebaiknya kau memikirkan hal itu, bahkan dikalangan Dewi ada yang tidak bisa bertarung dan ada juga yang tidak bisa... suatu hari saat kau menjadi kuat lagi, aku akan menunjukkan siapa yang sangat kuat hingga para Dewi pun tidak bisa berbuat banyak untuk mengalahkannya."
"Jangan bilang bahwa tugasku menyelamatkan dunia ini belum selesai."
"Sudah kubilangkan dunia ini sudah busuk sampai akarnya."
"Itu bukan perkataan yang pantas diucapkan Dewi loh."
Ariel segera memotong.
"Tapi aku yakin suamiku pasti bisa bertambah kuat lagi kan."
"Tentu saja," kataku selagi mengelus rambut Ariel lalu melanjutkan.
"Hidupku di dunia ini memang dimulai dari nol lagi tapi bukan berarti aku tidak bisa naik kembali, sama seperti dulu saat aku menjadi orang desa aku akan berjuang menjadi kuat lagi," kataku selagi bersemangat.
"Syukurlah."
Ristal hanya menyeruput tehnya dalam diam.
__ADS_1