Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 217 : Ucapan Terima Kasih


__ADS_3

Di ruangan bawah tanah di tengah kota, Draggel memilah-milah dokumen yang dia perlukan, sementara aku mengajak Astrea bermain.


"Astrea ambil tongkat ini."


Aku melemparkannya jauh dan Astrea mengambilnya dengan mulutnya lalu memberikannya padaku. Setelahnya dia berusaha membunuhku.


"Aku bukan hewan peliharaan."


Suara Draggel menghentikan pertengkaran.


"Aku sudah menemukannya, kita bisa melakukan operasi ke tahap berikutnya."


"Tahap berikut?" Astrea mengatakan itu sebelum melemparkanku jauh darinya.


"Draggel akan menyebarkan Informasi untuk menyudutkan raja yang sekarang, dengan begitu mau tidak mau raja akan dituntut turun dari jabatannya."


"Apa ini akan berhasil?"


Draggel yang menjawabnya.


"Entahlah, aku hanya ingin menggunakan cara halus untuk menyelesaikannya semuanya."


"Lalu menurutmu?"


"Aku lebih suka berperang dan menghabisi semuanya," jawabku pada Astrea.


"Jangan bilang orang-orang yang mati menjadi tanggung jawabmu."


"Seperti itulah, aku meminta Rin menggigit seluruh bangsawan korup dengan kelelawarnya sampai mati."

__ADS_1


"Pantas saja kau berubah jadi tengkorak layaknya Undead, hatimu juga jahat."


"Terserah kau mengatakan apa, yang jelas aku akan menyelamatkan semua orang dengan caraku."


Draggel tak ambil dalam obrolan ini dan memutuskan segera meninggalkan tempat ini hingga keluar dari kota, di sana Astrea berubah menjadi Wyvern dan membawa kami di punggungnya.


Sesampainya di sana pelayanku sudah menyambutku bersama Fate, adapun Arisa, dia sedang bermain dengan anak lain di sekitar rumah.


Setelah ini ketiga pelayanku akan menyebarkan berita tentang perampokan yang terjadi pada raja terdahulu ke seluruh wilayah negeri awan, dan bersamaan itu kami juga akan langsung menyerang ke istana.


Sampai saat itu, tak ada salahnya untuk bersantai sejenak.


Bersama anak-anak di kota ini, aku membuat pahatan dari es kebanyakan orang-orang hanya membentuk mereka secara biasa lalu memberi mereka wajah dan tangan, untukku jelas berbeda, aku memberikan sentuhan seni dari tanganku sendiri dan membuat Gabriela dalam bentuk telanjang dengan sayap putih.


"Jadi ini yang dinamakan malaikat," anak-anak terlihat kagum.


"Bagaimana indah bukan? Aku juga akan membuat wanita vampir dan roh agung yang menggoda."


"Uwahh.... kalian terlalu kejam."


"Ini salah tuan yang mengajarkan hal tidak-tidak pada anak-anak," teriak Gabriela, tentu kedua pelayanku juga ada di sana.


Mereka telah kembali lebih cepat dari yang kubayangkan, menurut situasi semua wilayah akan menjadi tambah kacau.


Setelah kematian para bangsawan, kini kejahatan raja yang sekarang terungkap dan Fate yang sebelumnya dinyatakan meninggal ternyata masih hidup dan sekarang sedang mencoba merebut kembali haknya sebagai pemimpin.


Hari demi hari, Minggu demi Minggu berlalu, sampai beberapa fraksi pendukung Fate mulai bermunculan membentuk dirinya menjadi pasukan elit, bersama tunggangan Wyvern mereka semua menyerang bersama dan menjatuhkan Istana dengan mudah.


Aku duduk di atas bangunan tinggi selagi menyaksikan bagaimana kerajaan ini hancur, selagi merasakan hembusan angin menerpa wajahku aku dengan santai mengayunkan kakiku.

__ADS_1


Rin dengan sikap pelayannya berdiri di sampingku tanpa mengatakan apapun.


Sekitar 100 ribu orang telah meninggal dalam peperangan ini yang berlangsung selama dua bulan.


Aku bisa membuat peperangan ini menjadi lebih cepat hanya saja jika kulakukan itu tidak akan berarti apapun. Mereka tinggal di wilayah ini karena itu, mereka sendiri yang harus menyelesaikannya.


Pagi berikutnya raja sebelumnya di hukum pancung, sementara keluarganya akan diusir dari istana dan hidup di salah satu kota terpencil.


Itu lebih baik dibanding mereka dihukum mati, di depan Fate yang mengenakan gaun mewah serta mahkota di kepalanya, aku tersenyum lembut setelah menerima batu jiwa yang ukurannya sebesar kepalan tangan orang dewasa.


Sebelum kami berpisah kami berdua menyempatkan diri untuk mengobrol selagi meminum teh.


"Dengan ini kau bisa melindungi wilayahmu selamanya."


Alasan kenapa aku mengatakan itu karena Fate kini telah menjadi vampir yang hidup abadi.


"Soal itu aku punya ide yang lain."


Aku memiringkan kepalaku heran.


"Aku ingin menjadi pelayanmu suatu hari nanti seperti Amnestha, Rin dan Gabriela... suatu hari maukah kau menjemputku dari sini, aku memutuskan untuk tidak menikah."


"Kenapa kau melakukannya sejauh ini?" aku bertanya.


"Aku pikir bersama kalian lebih menyenangkan dibanding hanya sebatas duduk di singgasana dan mengatur semua orang sesuai keinginanku, tak masalah jika itu memerlukan waktu yang lama sampai puluhan atau ratusan tahun, jika kau datang menjemputku itu artinya aku sudah selesai menjadi seorang ratu."


Dilihat dengan tatapan seperti itu, aku hanya bisa menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.


"Aku berjanji akan menjemputmu."

__ADS_1


"Terima kasih."


__ADS_2