
Setelah semua orang mendapatkan jatah mereka, aku duduk di sebuah batu paling dekat dekat pinggir gunung selagi memakan beberapa sate yang kubuat sebelumnya.
Jika seseorang bertanya makanan seperti apa yang kusukai? Aku akan mengatakannya bahwa itu sate.
Namun jika aku sudah bosan, jawabannya akan berbeda juga tergantung situasi.
Selagi mengawasi pemandangan awan yang abadi, aku memperhatikan sekelilingnya, normalnya kabut hanya akan bertahan sekitar beberapa menit atau beberapa jam tapi ini jelas berbeda.
Apa sebelumnya memang sudah begini?
Tak lama seorang gadis kecil mengenakan topi bundar serta mantel panjang mendekat ke arahku, selagi memberikanku segelas air hangat.
"Kau sangat baik. Bolehkah aku jadi pacarmu?"
"Apa tuan menyukai gadis kecil sepertiku, jika benar mungkin sudah saatnya aku memanggil polisi."
Aku tertawa kecil, tentu ini hanya candaan belaka, lagipula gadis itu masih berumur 10 tahun, dia memiliki rambut pirang dari balik topinya sedikit ikal, memiliki mata lapis lazuli, serta berkepribadian sangat manis.
Hal yang membuat menarik darinya bahwa dia memiliki sifat yang dewasa.
Namanya Arisa.
Aku meminum air yang dia berikan lalu memberikannya kembali, dia tidak langsung pergi melainkan hanya berdiri di sana seolah ingin mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Apa tuan ini pahlawan?" tanyanya demikian dan aku menggelengkan kepala.
"Bukan, aku hanya orang desa... apa kau kecewa?"
"Tidak, bagiku tuan sangat hebat."
"Begitu."
Aku mengelus topinya lembut.
"Aku berjanji, meski bukan pahlawan, setelah ini, semuanya pasti akan kembali normal."
Arisa hanya tersenyum lembut kemudian membungkuk untuk berlari ke arah ibunya, tanpa sadar aku tersenyum melihatnya.
Aku bergumam sendiri.
Aku memakai topengku lalu menciptakan pedang Grandbell di tanganku, hingga perlahan kulit dan daging di tubuhku terkelupas menampilkan tulang saja.
Berbeda dari sebelumnya kini seluruh tubuhku telah berubah, aku sudah tidak merasa terluka jika seseorang menyebutku makhluk Undead atau lainnya.
Meski kekuatan ini terkutuk, aku tetap akan menggunakannya demi menciptakan dunia di mana seorang tidak bernasib sepertiku.
Fate segera mendekat ke arahku dengan langkah cepat.
__ADS_1
"Tunggu apa yang ingin kau lakukan?" dia bertanya dan sesaat terkejut dengan penampilanku.
"Beaufort?"
"Jangan khawatir, aku akan kembali."
"Berhati-hatilah."
Aku tanpa ragu melompat jatuh ke bawah, seketika gaya gravitasi menarikku dengan kecepatan tinggi menembus awan, karena tubuhku hanya tulang berulang, aku sama sekali merasa tidak kedinginan.
Dengan dua kakiku aku mendarat dengan baik hingga menciptakan lubang besar tepat di bawah kakiku.
"Sekarang, mari cari penyebabnya."
Aku berjalan semakin jauh dari tempatku sebelumnya, ada sebuah aliran sungai kecil karenanya aku mengikutinya sejauh yang aku bisa.
Dengan topengku aku bisa melihat seluruhnya bahkan saat seekor hewan buas menyerangku, aku dengan baik menghabisinya dengan pedangku.
Aku sengaja mengikuti kabut yang paling tebal hingga aku menemukan kabut ini berasal dari mana, kabut ini tercipta dari seekor kerang raksasa, kerang itu membuka mulutnya dan kabut tak henti keluar dari sana.
"Kau memang tidak menyerang manusia, tapi sayangnya aku masih harus menghabisimu."
Kerang itu menutup cangkangnya lalu menciptakan lingkaran sihir di depan wajahnya, yang keluar dari sana adalah api besar berwarna merah membara.
__ADS_1
Aku pun melakukan hal sama untuk menciptakan api hitam menghantamnya secara langsung, tak kusangka ada seseorang yang bisa menggunakannya kemampuan mirip Rin.
Kalau tidak salah nama skill ini adalah Skill [Tamer]