
Selagi menepuk-nepuk dirinya Edgar berdiri selagi mengusap mulutnya yang berdarah, sejujurnya dari mana darah itu oi.
Patung miliknya turut berdiri lalu mengirimkan tinjunya ke arahku, aku pun melakukan hal sama hingga tangan kami bertubrukan menghasilkan raungan dari ledakan udara.
Dia mengirimkan tinju dari tangan lain begitu juga denganku dengan kecepatan tinggi.
"Hora, hora, hora, tunjukan lagi kekuatanmu."
Helfina yang sudah bangun hanya menatapku dengan wajah masam.
"Kau sudah gila."
"Inilah pertarungan sesungguhnya Helfina."
"Yah, nggak bisa gitu juga kali."
Aku maupun patung itu hanya terdiam saat asap mengepul dari tubuh kami berdua.
Beberapa saat kemudian retakan muncul di tubuh si patung yang selanjutnya meledak menjadi puing-puing kecil yang berserakan.
"Sekarang aku yakin kau juga pahlawan sepertiku, siapa namamu?" Edgar menciptakan sebuah sabit raksasa di tangannya sementara aku mengambil pendangku kembali sembari menjawab pertanyaannya.
"Haru Kazuya."
"Akan kuingat nama itu setelah mengirimmu ke akhirat."
-
-
Di sebuah sekolah SMA di musim panas, seorang pemuda hanya duduk di kursinya selagi memainkan game portabel di tangannya.
Tidak ada yang bertanya padanya maupun mendekatinya, dia seutuhnya terisolasi dengan dunianya sendiri. Baginya dunia yang sekarang hanyalah dunia sampah yang tidak bisa dia menangkan.
Itulah hal yang selalu dipikirkannya.
Saat istirahat, pemuda itu akan pergi ke atap sekolah untuk menikmati bekalnya. Beberapa orang selalu membicarakan dirinya di belakang akan tetapi pemuda itu hanya mengacuhkannya seakan membiarkan hal itu berlalu begitu saja.
__ADS_1
Pemuda itu duduk di lantai selagi menikmati makanannya yang hanya berupa nasi serta dadar gulung, bagaimanapun dia hanya tinggal sendirian dan hanya ini yang bisa dia siapkan dengan cepat.
"Dunia ini sangat menyebalkan."
Sembari mengutuk keadaannya tanpa disadari seorang gadis telah berdiri di belakangnya secara diam-diam.
"Sendirian lagi, apa mau aku temani?"
"Pergilah dari sini.. kau menggangguku."
"Heh, apa seperti itu perlakuanmu padaku... aku ini teman masa kecilmu yang berharga, kita sudah menghabiskan waktu bersama tidur bersama, mandi bersama kita juga bahkan berbuat nakal."
"Jangan asal ceplas-ceplos begitu... bagaimana jika seseorang mendengarnya," teriak si pemuda.
"Aku tidak keberatan, seperti sebelumnya.. suatu hari aku ingin jadi istrimu."
"Kau ini bodoh kah, Miyako."
"Yah, aku cuma kasihan padamu saja... jika hidupmu seperti ini terus kau tidak akan memiliki teman atau pasangan."
"Berisik."
Sesaat sebelum truk itu menabrak mereka, pemuda itu mendorong temannya menjauh hingga hanya dirinya saja yang terluka.
Bunyi hantaman menggema ke udara bersama puing-puing etalase toko yang hancur.
"Haaaaru."
Orang-orang hanya bisa berkerumun untuk menyaksikan insiden tersebut.
-
-
"Selamat datang Haru Kazuya, langsung saja, kau sudah mati loh."
"Begitukah."
__ADS_1
"Aku memiliki pilihan bagus untukmu... itu, sebelumnya kau membenci duniamu, bukan? Bagaimana kalau kau mencoba untuk pergi ke dunia baru yang dipenuhi sihir dan pedang.. aku kira kau bisa mengalahkan raja iblis di sana."
"Pertama boleh tahu siapa Anda ini?"
"Ah, betapa cerobohnya diriku.. aku Ristal, seorang Dewi."
"Dewi Ristal."
"Benar sekali, ada apa? Apa kau memiliki pertanyaan padaku."
"Aku cuma penasaran dada Dewi sangat besar, kenapa bisa sebesar itu?"
"Jika kau bertanya pada Dewi lain kau mungkin akan dimasukkan ke dalam neraka, untunglah aku Dewi yang baik hati, suka berkebun dan rajin menabung jadi kau tetap save. Tapi sebelum itu bisakah kau menghilangkan dulu fantasy aneh dalam kepalamu itu."
"Anda memang Dewi."
"Dasar pria, apa bagusnya melihat wanita telanjang yang sedang dipermainkan oleh tentakel."
"Aku hanya memikirkan permainan yang baru-baru ini kumainkan."
"Kau cukup lembut bagi seorang pria penyendiri."
Haru hanya mendesah pelan, penampilannya memang seperti berandalan akan tetapi hatinya jauh berbeda, pemuda ini telah menyadari hal itu lebih dulu dari siapapun.
Dewi ini benar-benar sangat blak-blakan, ucapnya dalam hati.
"Boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Tentu saja."
"Bagaimana Miyako?"
"Berkatmu dia akan baik-baik saja, awalnya memang dia akan sangat kehilangan namun setelah seminggu kematianmu akan ada seorang pria baik yang mendekatinya hingga keduanya menikah di masa depan dan memiliki dua orang anak sehat."
"Syukurlah."
Dewi Ristal tersenyum tipis lalu berkata selagi mengulurkan satu tangannya.
__ADS_1
"Sekarang apa pilihanmu?"