
Melepaskan kumis yang menempel di wajahku, aku bersandar di kursi penginapan dengan rasa lelah menyelimuti tubuhku.
Penjualan di hari pertama kami cukup sukses.
Amnestha dan Rin duduk bersebelahan selagi memukul-mukul kedua kakinya kelelahan, sementara Gabriela kembali ke kamar dengan membawa makanan manis di tangannya.
Dia selalu memanjakan dirinya sendiri.
Ketika aku memejamkan mataku, aku mendengar langkah kaki orang-orang yang sedang naik ke penginapan ini. Agar jelas aku membaringkan tubuhku di lantai kayu ini dengan telinga menempel di permukaannya.
"Apa kita dapat masalah?" tanya Amnestha.
Memukul orang serta merampok uangnya sudah jelas masalah yang bisa membuat seseorang berakhir di penjara, akan tetapi kumpulan orang-orang itu bukan menangkap kami melainkan orang yang menginap di sebelah ruangan kami.
Dia seorang wanita yang dikatakan sebagai pembunuh berantai yang beraksi belakangan ini, aku diam-diam mengintip para wanita pendeta yang bertugas membawanya, tanpa diketahui mereka si terdakwa menjatuhkan secarik kertas yang kemudian aku pungut dan baca bersama yang lainnya.
Di sana tertulis.
'Aku dijebak, penjahat sesungguhnya masih berkeliaran'
"Bagaimana ini tuan?"
"Kasihan juga jika dibiarkan orang yang tidak bersalah mendapatkan hukuman, mari selamatkan dia lebih dulu."
"Bukannya lebih baik tangkap penjahatnya dulu?" tanya Rin sedangkan aku menggelengkan kepalaku lalu melanjutkan.
"Penjara bukanlah tempat yang baik, aku takut saat kita menemukan penjahatnya dia malah sudah disiksa atau dieksekusi."
__ADS_1
"Itu memang masuk akal, biar aku dan tuan saja yang membebaskannya.. Grabiela dan Rin tetap bertugas berjualan."
Keduanya mengangguk mengiyakan.
Sebelum matahari bersinar aku dan Amnestha menyelinap ke bangunan luas dimana tempat ini menjadi sebagai penjara sekaligus kediaman para ke empat Arch Priest di kota suci.
Karena kami berdua datang untuk menyelamatkan wanita yang sebelumnya kulihat di penginapan jadi kami akan mengabaikan para Arch Priest itu, dan langsung menuju ruang bawah tanah.
Karena memakai topeng orang-orang pasti akan kesulitan mengenali kami.
Selain membuat penjaga pingsan tidak ada jalan lagi untuk melewatinya, aku mengambil kunci penjara di salah satunya lalu membuka sel jeruji yang mengurung wanita tersebut.
Wanita itu dibiarkan berdiri dengan tangan terikat rantai.
"Anda?"
"Aku datang menyelamatkanmu."
Aku melepaskan rantai tersebut.
"Kau bisa berjalan?"
Dia menggelengkan kepalanya hingga aku menggendongnya di bahuku.
"Heh, ini memalukan... turunkan aku."
Aku menepuk pantatnya hingga dia segera memeganginya dengan kedua tangan kecilnya.
__ADS_1
"Tidak sopan."
"Tenanglah sedikit, Amnestha tolong buka jalan di depan."
"Serahkan padaku."
Aku berlari mengikutinya di belakang, ketika para pendeta bermunculan, dengan sigap Amnestha mengikat mereka dengan sulur kemudian bersama-sama keluar dari bangunan lalu bersembunyi.
Aku maupun Amnestha melepaskan topeng di wajah kami.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Barusan aku sangat malu."
Dengan kata lain dia baik-baik saja.
Kami menyusuri gang kecil itu namun di tengah perjalanan hal yang mengejutkan telah menyambut kami semua, tampak seorang wanita berpakaian pendeta terkapar di sana dengan darah membanjiri tubuhnya, aku buru-buru mendekat untuk memastikannya, dan ternyata dia masih hidup.
"Amnestha kau bisa menyelamatkannya?"
"Tentu, itu bukan hal sulit bagi roh agung sepertiku.. tapi ini kejam sekali, dia ditusuk beberapa kali di dada."
Amnestha duduk di sampingnya lalu mengulurkan tangannya hingga sebuah cahaya kehijauan menutup luka tersebut.
"Ini perlu sedikit waktu."
"Tidak masalah, kami akan menunggu."
__ADS_1
Bersamaan matahari bersinar aku melirik ke arah wanita yang baru kuselamatkan.
"Jadi siapa pelaku sebenarnya?"