Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 129 : Pertarungan Raja Iblis Terakhir


__ADS_3

Aku mengeluarkan pedang Grandbell lalu meluncur ke depan, Beelzebub menahan pedangku hingga pedang kami saling terdorong, di saat yang sama Lucifer menebasku.


Aku memang menahannya namun pedang Beelzebub menembusnya lalu menyayat tubuhku hingga aku mundur beberapa langkah ke belakang.


Tubuh yang berdarah mulai menutup kembali.


"Apa-apaan dengan pedang itu?" tanyaku.


"Pedang ini mampu menembus apapun sesuai yang kuinginkan, meski kau memiliki regenerasi selagi kami bisa memenggalmu itu sudah cukup membuatmu tak bergerak."


Itu memang benar.


Beelzebub menerjang ke arahku dengan gerakan brutal, dia mengayunkan pedangnya seperti monster dan menghancurkan tanah yang sebelumnya kupijak dengan kekuatan penghancur.


Tak lama kemudian Lucifer muncul di dekatku lalu mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah, aku tidak menahannya melainkan menghindarinya dan saat Beelzebub menebas aku terlempar ke belakang.


Kekuatannya benar-benar mengerikan.


Mereka mengulurkan tangannya padaku demi memunculkan sihir api yang menerjang ke arahku, berkat cincin di tanganku aku tidak merasakan apapun.


"Dasar monster."


Kurasa aku memang pantas di sebut seperti itu, dengan kesal keduanya menyerangku dengan segala macam sihir ledakan tanpa jeda apapun, aku terlempar ke segala arah, terhantam bola bercahaya hingga kawah raksasa muncul di belakang punggungku, meski begitu aku baik-baik saja.


Aku bangkit dan memperhatikan seluruh tubuhku yang telah kembali sedia kala, tanduk hiasanku sudah hilang sejak tadi.

__ADS_1


"Sudah waktunya mengakhiri semua ini."


Aku mengayunkan pedangku ke udara sekali tebasan lalu menghilangkan pedangku dan berjalan memunggungi keduanya.


"Apa yang kau lakukan?" kata Lucifer disusul rekannya.


"Kau mau melarikan diri?"


"Pertarungan sudah selesai, kalian sudah mati."


"Haha jangan bercanda, kau hanya menebas udara barusan."


"Apa menurutmu begitu? Hal yang kutebas adalah takdir kalian."


Keduanya tampak terdiam membatu.


Pertarungan ini telah selesai sebelum kalian memulainya.


Aku berjalan ke Rusina dan Queen yang berada di belakangku, mereka tampak merasa lega apalagi Queen yang memelukku begitu erat.


"Terima kasih banyak," hanya itulah perkataan yang terus dia katakan.


Di atas tebing itu aku dan Rusina menatap semua orang yang baru keluar dari tempat persembunyiannya, di antara mereka ada Queen yang tampak disambut baik oleh semua orang.


Dia tampak bahagia.

__ADS_1


"Kau yakin tidak ingin menemui mereka? Kau bisa menjadi seorang pahlawan yang luar biasa di sini."


"Bahkan sampai sekarang aku merasa tidak cocok disebut seperti itu."


"Kalau menurutku itu cocok, kau telah mengakhiri Peperangan antara manusia dan ras iblis, sekarang entah manusia atau mereka semuanya akan hidup damai."


Aku tersenyum sebagai jawaban, Queen berbalik ke arahku selagi melambaikan tangannya.


Aku pun melakukan hal sama.


"Mari kembali, aku ingin minum teh."


"Padahal kau lebih suka minum susu, maaf dadaku belum bisa mengeluarkan apapun."


Aku ingin sekali menendang orang ini jatuh sekarang.


Dengan sihir transportasi kami berpindah tempat ke masionku yang damai, dengan kekalahan semua raja iblis pernikahanku dengan Dewi Ristal akan digelar di kemudian hari.


Dan saat itu aku hidup dengan sembilan istri.


Aku sangat menantikannya.


Beberapa hari kemudian aku kembali tertumpuk ucapan selamat, selagi mengenakan pakaian pernikahan bersama Ristal kami berdua akan berfoto dengan semua orang di depan masion, para istriku, Rusina dan Marina, party Zeper, Elona, para pegawai guild pedagang, keluarga Ronald serta para Dewi pun ikut di dalamnya.


"Sekarang katakan selamat."

__ADS_1


"Selamat."


Sebuah foto pun tercetak rapih.


__ADS_2