
Keesokan harinya aku datang ke desa Succubus, seperti apa yang dijanjikan, Reny telah menungguku di luar desa.
"Bagus tuan Kazuya Anda tidak melupakan soal topeng kucingnya."
"Setelah kemarin aku mulai berhati-hati."
"Mau pergi sekarang."
"Tentu."
Aku mengikuti Reny dari belakang saat dia dengan senang menjelaskan banyak hal tentang desanya, dulu keberadaan Succubus ditolak oleh siapa pun di benua ini sampai ada sebuah gerakan jomblo nasional.
Dari namanya sudah ketahuan banget, karena itu aku tidak ingin menyinggung soal ini dan melewatkan penjelasannya.
"Beberapa pria mungkin perlu hiburan dewasa karena itu para Succubus telah dilatih sebaik mungkin untuk menghadapi dunia kerja."
Ini terdengar saat aku berada di sekolah.
Aku melihat para Succubus yang sedang berlatih menggunakan kekuatannya, ada beberapa pria terlihat diikat di batang pohon dan secara bergantian para Succubus menggodanya.
"Aku tak tega melihatnya, mari pergi ke tempat lain."
"Baik tuan Kazuya, jangan khawatir semua pria ini telah setuju dengan segala kosekuensinya dalam kertas perjanjiannya bahkan jika mereka mati itu tidak akan mempengaruhi kelangsungan para Succubus."
Kuharap mereka tidak dipaksa.
Kami beralih ke tempat yang sangat disukai penduduk di sini, beberapa Succubus terlihat bersiaga saat berpapasan denganku, saat aku mencoba menakuti mereka semuanya berlarian ke segala arah.
Mereka semua benar-benar ketakutan.
__ADS_1
Aku penasaran soal kucing jadi aku bertanya pada Reny.
"Soal itu, dulu sekali ada kucing oranye yang menyerang desa kami bahkan kami kesulitan melawannya hingga semua Succubus mengalami trauma dan menjadikan legenda kucing oranye sebagai makhluk menakutkan.. kami berpikir jika kami menyakiti seekor kucing, kucing itu akan muncul lagi dan menghancurkan desa ini."
"Kalian tidak bisa mengalahkannya, kucing itu pasti luar biasa."
"Benar, tingginya sekitar 10 kali dan bulunya lembut."
Aku tidak bisa berkata-kata soal itu.
Aku diajak ke sebuah taman di desa ini dimana terdapat sebuah patung Succubus sedang mengikat manusia dengan rantai.
"Bukannya itu sangat menakutkan."
"Itu cuma kiasan saja."
"Mana mungkin, di sini tempat yang sangat populer," kata Reny tertawa kecil.
Aku malah semakin meragukannya.
Aku rasa jika itu manusia mereka tidak akan nyaman terlalu lama di sini tapi biarlah, sekitar setengah jumlah manusia sangat terbantu dengan ada para Succubus ini.
Meskipun itu menjalur ke hal negatif.
Tempat selanjutnya berada di luar desa yaitu di bawah air terjun yang indah, aku dan Reny mencelupkan kaki di pinggir alirannya yang dingin.
"Bagaimana soal ujian Succubus?"
"Itu tidak jauh berbeda dengan saat berlatih, nanti succubus senior akan memeriksa seberapa tingkat kepuasan pria saat mereka memimpikan hal itu."
__ADS_1
Aku tidak ingin tahu sama sekali.
"Bagaimana soal Incubus, mereka melakukan hal sama?"
"Tidak, ujian mereka berbeda... Seperti berkebun, bertani, memasak dan mengurus rumah tangga."
"Itu malah lebih terlihat normal," teriakku.
"Para wanita Succubus memerlukan energi manusia untuk bertahan hidup, dengan menyerapnya kami akan cantik selamanya."
"Mananya yang bertahan hidup Oi," potongku dan Reny tertawa sebagai balasan.
Keheningan terasa di antara kami berdua sampai sosok aneh keluar dari air terjun.
"Owh, kalian di sini."
Wajahku memucat saat tahu kepala desa ada di sana.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Aku kadang ke sini untuk mandi, bagaimana desa Succubus."
"Luar biasa, tapi sebaiknya patung itu diganti dengan hal bagus "
"Itu tidak mungkin," katanya datar.
Reny tertawa kecil.
"Sepertinya kau harus menyerah."
__ADS_1