
Bertepatan saat karavan Arthur memasuki kota, sebuah sirene peringatan terdengar dari segala arah, kelompok Arthur yang baru pertama kali datang ke kota ini, mencondongkan tubuh mereka melirik ke arah tembok dan di sana seekor monster raksasa terbuat dari pepohonan sedang mencoba masuk ke dalam kota.
Beberapa penjaga yang bersiaga di atas tembok berusaha menembakinya dengan meriam sayangnya hal itu tidak mampu menumbangkannya, sebagai gantinya orang-orang dilemparkan begitu saja ke tengah kota hingga mereka tewas layaknya seperti sebuah telur yang jatuh dari ketinggian.
Orang-orang mulai berteriak ketakutan hingga mengungsikan diri ke bagian jauh dari gerbang masuk.
Tak hanya satu kini ada tiga makhluk yang sama yang mencoba menembus tembok, memang benar bahwa tembok itu sulit dirusak kendati demikian monster itu menjadikan rekannya sebagai pijakan hingga setengah tubuhnya telah masuk ke dalam kota.
Clara berkata.
"Seiring waktu monster juga akan bisa menemukan jalannya sendiri."
"Aku akan membantu mereka."
"Arthur."
Arthur menciptakan lingkaran sihir pemangilan di mana yang muncul dari sana adalah seekor elang raksasa, ia melompat ke atasnya untuk terbang ke bagian atas tembok lalu melompat di sana.
Dengan sigap Arthur menarik tangan penjaga yang hampir terjatuh ke bawah lalu manariknya ke samping.
"Terima kasih."
"Pergilah dari sini."
"Tapi kotanya."
"Serahkan saja padaku."
Arthur menarik pedang Excalibur yang selama ini berada di punggungnya, dengan gerakan ayunan dia memotong dua monster sekaligus hingga terbelah dua sementara satu lagi berhasil jatuh ke dalam kota.
"Celaka," tepat saat Arthur hendak menjatuhkan dirinya ke bawah, seorang pria tua telah menangani monster tersebut hingga roboh ke samping.
Dia adalah Ladolfo yang berdiri gagah dengan pedangnya.
__ADS_1
Jika tembok setinggi ini tidak mampu menahan monster barusan bagaimana jika ini terjadi pada desa, sudah pasti mereka semua mati.
Arthur menyarungkan kembali pedangnya lalu melirik apa yang ada di tembok luar di bawahnya, ternyata bukan hanya ada tiga monster melainkan monster yang lebih kecil pun berada di sana.
Ini yang dimaksud aktivitas monster yang berlebihan itu, gumam Arthur demikian sebelum kembali bersama rombongannya untuk menyewa kamar di penginapan.
Agar semuanya berjalan lancar, Arthur dan Clara memutuskan untuk pergi ke guild pedagang berdua saja, mereka memberikan kertas yang diberikan Ladolfo hingga receptionis guild langsung memberikan formulir pendaftaran bagi pedagang.
Mereka memasukan nama pedagang desa Bougenville dan menerima gulungan izin berdagang dengan memberikan biaya pendaftaran sekitar 1 koin emas.
"Dengan ini kami bisa bebas berjualan di sini bukan."
"Tentu saja, saya akan melihat barang Anda.. jika kami tertarik kami akan langsung membantu menjualnya dengan keuntungan 80 persen bagi pemilik barang dan sisanya untuk guild pedagang, dalam tiga hari barang akan langsung terjual jikapun tidak, maka pihak guild sendiri yang membelinya. Atau mungkin kalian juga bisa menjualnya sendiri di kota ini dengan keuntungan lebih besar."
"Kami mengerti, untuk sekarang kami ingin menjualnya langsung ke guild ini saja.. barang kami berkualitas baik. Aku yakin kalian akan membayarnya dengan harga layak."
"Tentu saja."
Clara mengeluarkan sebuah pakaian dalam wanita dengan warna polos.
"Bukannya ini?"
"Kami memproduksi pakaian dalam untuk wanita yang jauh lebih nyaman dikenakan dari pakaian yang beredar di pasaran, tentu kami juga membuat rancangan baju juga dengan bahan yang sama."
"Lembut sekali, bagaimana kalian membuatnya?"
"Kami memiliki tenaga ahli yang dapat melakukannya."
Jika receptionis tahu bahwa yang membuatnya seorang pria dia akan tambah terkejut.
"Boleh aku mencobanya dulu, aku yakin ukurannya pas di tubuhku."
"Tentu saja, kami akan menunggu."
__ADS_1
Receptionis pergi dan kembali dengan wajah puas.
"Ini sangat nyaman," dia menopang dadanya dengan kedua tangannya seperti orang yang sedang pamer, Arthur hanya bisa melihatnya dengan wajah bermasalah.
"Tolong jangan lakukan hal seperti itu di depan pria."
"Maafkan aku, aku benar-benar melakukan hal tidak sopan dan memalukan.... tapi ini benar-benar terasa nyaman dan tidak terlalu ketat saat dipakai."
"Kami menggunakan bahan elastis," potong Clara lalu dia mengulurkan obat miliknya.
"Bagaimana dengan ini juga?"
Receptionis itu menggunakan skill penilaian dan dia kembali terkejut.
"Ini ramuan tingkat atas... ah benar, aku harus melepaskan pakaian dalamnya."
"Kurasa tidak perlu, anggap saja itu hadiah dari kami."
"Benarkah?"
Clara mengambil kembali ramuannya lalu melanjutkan.
"Jadi berapa harga yang ditentukan guild pedagang?"
"Jika untuk ramuan tingkat atas aku pikir itu akan laku sekitar 10 koin perak dan untuk pakaian dalamnya sekitar 5 koin perak, ramuan cenderung susah didapatkan sekarang jadi harganya cukup mahal dan untuk pakaian dalam harga 5 koin perak adalah sesuatu yang sangat mahal."
"Bagaimana sekarang Arthur?"
"Jika ramuannya terlalu mahal kemungkinan besar hanya akan sedikit pembeli yang membelinya, karena itu dalam situasi sekarang mari ubah sekitar 5 koin perak sebagai harga promosi setelah situasi kerajaan ini membaik mari naikan harganya, dan untuk pakaian dalam harga itu kurasa sudah cukup, lagipula kebutuhan wanita akan kenyamanan sangatlah dibutuhkan.. aku yakin jika itu pakaian luar akan jauh lebih mahal hingga mencapai beberapa koin emas."
"Aku mengerti, untuk sekarang mari coba harga barusan."
Biasanya pedagang akan memulai bisnis pertamanya dengan harga koin tembaga tapi Arthur berbeda, memulainya dengan koin perak merupakan sesuatu yang jarang bisa dilakukan banyak pedagang pemula.
__ADS_1