
Sekembalinya dari kota Aldios akhirnya aku bisa beristirahat di desaku sendiri selagi menatap pemandangan langit yang cerah, aku memutuskan untuk berbaring di atas genteng sementara penghuni masion sedang mencariku di bawah.
Harusnya sejak lama aku melakukan ini.
Ini jelas kedamaian yang berbeda.
"Tuan Kazuya menghilang."
"Mungkin dia sedang ngintip anak gadis tetangga atau sedang menyelinap ke rumah bordil atau semacamnya."
Itu terdengar seperti aku ini orang yang kurang ajar.
Paling tidak aku akan muncul saat matahari terbenam, ketika aku memikirkan itu, seekor kucing melompat ke perutku lalu berbaring di sana selagi mendengkur.
Dari semua orang, Dorothy yang lebih dulu menemukanku kurasa kucing memiliki penciuman seperti ahli kuliner di telivisi.
Mereka bisa mencium ratusan mil dan tahu bahwa di sana ada makanan enak, kalau tidak salah, salah satunya pernah berkata.
Di mana ada makanan di sana ada saya, hidungku bisa mencium ratusan mil jauhnya saat mencium aroma enak, kalau dia berbohong, gue bakal ngamuk dan gebukin tuh orang.
Matahari mulai tertutup awan gelap sementara orang-orang di masion masih mencariku, putriku juga turut membantu.
"Papa pasti ada di bawah got, mari cari di sana."
"Aku akan mencari ke bawah rok wanita yang aku lewati."
"Itu ide bagus."
Bahkan untuk putriku sendiri, ternyata tidak ada yang baik tentangku, dibarengi cahaya kilat, hujan mulai turun dengan derasnya membasahi permukaan tanah.
Aku mengarahkan tanganku ke langit untuk menciptakan semacam pelindung mirip seperti kaca untuk membuat diriku maupun Dorothy yang tidur di perutku tidak kebasahan.
Syukurlah putriku sudah kembali.
"Papa pasti diculik alien."
__ADS_1
"Alien itu apa?
"Alien mirip seperti terong punya kaki dan tangan serta mata besar."
"Bukannya itu menakutkankan."
Tak lama kemudian Gabriela muncul.
"Kalian kehujanan, cepat ganti baju."
"Tapi papa belum ketemu."
"Jangan mengkhawatirkannya paling juga dia ada di genteng sedang tidur bersama Dorothy."
"Dia sudah tahu rupanya," teriakku dalam hati.
Paling tidak sepertinya Gabriela baru mengatakannya.
Saat hujan berhenti aku akhirnya memutuskan melompat jatuh ke bawah perkarangan rumah, Dorothy aku pindahkan ke atas kepalaku.
"Meong."
"Meong, meong."
"Apa maksudmu kau tidak suka tikus?"
"Meong, meong."
"Apa? Kau suka hamburger, spaghetti, kimchi, ayam goreng, pizza, ramen dan nasi goreng... untuk minumannya susu yang dituangkan ke dalam mangkuk saat tengah malam di hari ke lima saat gerhana bulan, teh hangat serta jus wortel juga."
"Meong."
Ini tipe kucing merepotkan yang pantas ditendang dari rumah. Untunglah aku baik hati hingga tak akan melakukan hal semacam itu.
Tak lama kemudian ke sembilan putriku keluar dari pintu lalu memelukku, mereka semua Seri, Serin, Alisha, Elen, Lumia, Anela, Nasina, Nymph dan Ruby.
__ADS_1
Mereka terlihat seperti istriku dalam versi kecil.
Seri berkata.
"Kami ingin bermain dengan papa."
"Ini sudah sore loh, sebentar lagi makan malam."
"Tapi."
Aku tersenyum kecil.
"Apa boleh buat, mari bermain raja iblis dan pahlawan, papa akan menjadi raja iblisnya."
Kesembilan putriku berteriak semangat.
Kurasa mulai besok aku akan pergi dengan mereka secara bergiliran bersama ibunya, itu akan jauh lebih adil.
Di ruangan yang luas itu, aku mengenakan kostum raja iblis yang kubuat sendiri dari kardus besar sementara putriku memakai armor dan peralatan seperti pedang dan perisai di tangan mereka.
Tentu itu juga terbuat dari kardus.
Seri yang memimpin pasukan.
"Serin, Alisha, Elen, Lumia menyerang dari kiri."
"Baik."
"Anela, Nasina, Nymph dan Ruby dari arah kanan."
"Oke."
"Aku akan menyerang dari depan."
Mereka secara secara bersamaan menyerangku sementara aku mundur ke belakang hingga mereka saling bertubrukan satu sama lain dan terjatuh.
__ADS_1
Bukannya mereka sangat imut.
Kupikir aku akan mengalah sekarang.