Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 208 : Masalah Kabut


__ADS_3

"Apa yang sebaiknya kita lakukan?" tanya Rin.


"Mengubur mereka sekarang sudah tidak memungkinkan, setelah semuanya selesai mungkin bisa dilakukan dengan meminta banyak orang."


"Begitu."


"Yang lebih penting sekarang kita perlu mencari tempat tidur."


"Apa kalian butuh tempat beristirahat," suara itu berasal dari gadis kecil yang bersembunyi di balik sisi bangunan.


"Benar, kami akan membayarnya," balasku demikian.


"Tidak usah, jika kalian berniat menyelamatkan negeri ini, sudah lebih dari cukup."


Aku tersenyum masam ke arahnya, sudah jelas dia mendengarkan percakapan kami.


Kami dibawa ke sebuah rumah sederhana di mana di rumah itu hanya ada dua kamar, satu dapur dan satu ruangan tamu kecil.


"Kau sendirian?" tanya Gabriela.


"Ayah dan Ibuku sedang pergi ke luar desa, mereka sedang mencari rebung."


"Rebung?" aku maupun pelayanku sama sekali tidak tahu benda apa itu, berbeda dengan kami, Fate menjelaskan.


"Rebung itu merupakan tunas muda yang tumbuh dari akar bambu, bahan makanan itu hidup subur di semua wilayah di negeri ini."


Aku mengangguk mengerti, bisa diasumsikan bahwa makanan itu, makanan yang bisa diperoleh secara gratis.


Perkataan selanjutnya Fate membuatku sedih.


"Meski tanaman itu mudah di dapatkan, masih memiliki efek samping seperti alergi jika dikonsumsi dalam jumlah banyak, padahal di bawah gunung ini ada sungai dan danau, kalau saja tidak ada kabut mereka bisa mencari makanan yang lebih baik."

__ADS_1


"Itu masalah yang harus kita selesaikan berikutnya," kataku lemas.


Rin, Amnestha dan Gabriela duduk dengan tenang di lantai sementara aku duduk di kursi berada di depan mereka.


"Sepertinya ada yang salah dengan ini, aku akan duduk di bawah saja."


"Tolong jangan lakukan itu, jika tuan lakukan kita malah terlihat aneh," kata Gabriela.


"Sebenarnya malah ini yang terlihat aneh bagiku."


Fate menyeruput tehnya lalu mengalihkan pandangan ke pintu saat dua orang masuk ke dalam rumah, mereka ibu dan ayah gadis kecil ini.


"Heh, ada tamu rupanya."


"Maaf menganggu, namaku Beaufort Reymond kami ingin menumpang semalam di sini."


Sang ayah menjawab.


"Kami tidak keberatan, hanya saja kami tidak punya makanan apapun."


"Sudah tidak tersisa lagi, mungkin kita akan kelaparan dalam beberapa hari."


Jelas itu yang tidak bisa aku abaikan.


"Rin dan Gabriela tolong keluar cari sesuatu yang bisa kita makan."


"Serahkan padaku."


"Aku akan lebih berguna dari Rin."


"Apa?"

__ADS_1


"Kalian jangan bertengkar, untuk Amnestha bisakah kau menumbuhkan beberapa pohon di sekitar sini yang bisa ditumbuhi buah-buahan."


"Itu sangat mudah bagiku."


"Tetap berhati-hatilah."


"Laksanakan."


Fate melirik ke arahku dengan tatapan bermasalah.


"Kau pandai sekali memerintah."


"Aku anggap itu pujian, mereka sangat penurut belakangan ini."


"Aku yakin kau juga meminta hal aneh-aneh."


"Jangan mengatakan hal itu di depan gadis kecil."


Orang yang kumaksud hanya bisa memiringkan kepalanya tidak mengerti.


Beberapa saat kemudian, Rin membawa rusa sedangkan Gabriela membawa burung raksasa, semua orang yang menunggu terkejut hingga tak bisa berkata apapun lagi, saat Amnestha muncul dengan sekeranjang buah-buahan segar mereka tambah terkejut.


"Makanan, terima kasih banyak."


"Ini bukan apa-apa, semua penduduk juga sudah menerima bagiannya," ucap Gabriela.


Satu rumah satu rusa, ditambah satu burung dan sekeranjang buah-buahan.


Mereka memang bisa diandalkan.


Rin menjelaskan lebih jauh.

__ADS_1


"Di bawah pegunungan ini memang banyak sekali makanan yang bisa dimanfaatkan, meski tanpa uang semua orang akan bisa hidup."


"Kita hanya harus mencari caranya nanti," kataku demikian.


__ADS_2