
Di antara jalanan utama itu Selly dan Sella berlari secara beriringan, keduanya saling menatap satu sama lain sebelum mengangguk lalu melompat ke samping, di tempat sebelumnya mereka bersama kini telah hancur dengan sedikit ledakan.
Tepat saat itu seorang pria berambut pirang jatuh dari atas langit menciptakan retakan di bawah kakinya.
"Pantas saja, tak kusangka ini ulah kalian berdua... aku sejak awal merasa aneh siapa yang telah menggagalkan rencanaku? Jika itu kalian, itu masuk akal."
"Lama tak bertemu Encore, kau tampak sehat-sehat saja," ucap Selly.
"Berhentilah mengatakan hal konyol."
"Apa aku konyol Sella."
"Tidak kitalah yang konyol."
"Itu sama sekali tidak membantu."
Sella mengalihkan pandangan ke arah Encore.
"Kami hanya mengambil peran terakhir, yang menggagalkan rencanamu tentu saja suami kami berdua."
"Jadi begitu, setalah aku mengalahkan kalian, akan kuhabisi dia."
"Itu jika kau bisa mengalahkannya kami."
Selly dan Sella melesat di waktu bersamaan, mereka menendang di udara yang mana kedua kaki tersebut ditangkap baik oleh Encore sebelum mendorongnya menjauh.
"Melawan kalian harus sungguh-sungguh jika tidak aku sendiri yang akan mati."
"Kau mengerti juga, Selly."
__ADS_1
"Baik."
Ketiganya bergerak sangat cepat hingga sulit untuk dilihat dengan mata telanjang.
"Kudengar salah satu makhluk bencana yang kau ciptakan telah pergi, aku cukup berduka dengan itu."
"Kurasa dia tidak ingin memiliki majikan lemah sepertimu."
"Siapa yang kalian panggil lemah?"
Selly dan Sella meninju wajah Encore begitu pula sebaliknya.
"Biar aku katakan satu hal, makhluk bencana yang kami maksud kini mengambil wujud manusia dan tinggal satu desa dengan kami."
"Benar sekali, namanya Mary."
"Bagaimana bisa?"
"Ceritanya sangat panjang."
"Terserahlah, aku juga tidak terlalu peduli."
Selly menggunakan sihir gravitasi hingga seluruh bangunan di sekitar mereka terangkat ke udara, Encore berdiri di atas salah satu bangunan yang melayang begitu juga Selly dan Sella.
"Biar aku menanyakan satu hal, kenapa kalian mengambil jalan ini? Bukannya kalian memilih untuk menghancurkan segalanya.'"
"Itu dulu, untuk sekarang kami ingin melakukan hal yang berbeda."
"Yang dikatakan Sella benar.. kami akan melindungi dunia ini sebagai penebusan dosa."
__ADS_1
"Perkataan yang konyol."
Encore mengarahkan tangannya untuk menciptakan bola-bola hitam raksasa yang menerjang ke arah keduanya, dengan santai keduanya hanya menepis menggunakan pukulan hingga ledakan terjadi di bawah mereka.
Untuk sekian kali mereka terus beradu tinju.
Pukulan mereka masing-masing mengenai targetnya.
Sihir dilemparkan ke segala arah dengan ledakan mengikutinya, jika dilihat dari bawah itu mirip sebuah kembang api yang dinyalakan secara terus menerus tanpa henti.
Ibela, Ken, Amaterasu, Kazuya dan juga Akane bisa melihat itu dari bawah.
Pukulan Selly membuat daya yang sangat kuat membuat tubuh Encore terpental ke belakang, Encore mengerakkan satu bangunan ke belakangnya agar tubuhnya bisa berhenti terlempar.
Di saat yang sama Sella mengirim injakan dengan dua kaki dan Encore bisa menghindarinya dengan menjatuhkan dirinya ke bawah.
Dia menggerakkan dua bangunan lalu mengirimnya ke arah Selly maupun Sella.
Keduanya meninjunya hingga meledak sementara puing-puingnya berjatuhan ke bawah.
Semua orang yang menonton mulai berlarian selagi melindungi kepala mereka.
"Uwaaah... jika tertimpa aku pasti akan mati," teriak Ken.
Amaterasu menciptakan api berbentuk tangan untuk menangkisnya ke arah samping.
"Apa tuan baik-baik saja?"
"Kerja bagus Amaterasu."
__ADS_1
"Senangnya dapat pujian."
Kazuya hanya bisa tersenyum ragu melihat Amaterasu yang menggeliat senang sebelum mengalihkan pandangan kembali ke arah pertarungan.