
Dengan ini, hanya sosok pemimpin mereka saja yang tersisa.
Aku melepaskan ketiga pelayanku dari berbagai besi yang melilit mereka.
"Kalian tidak apa-apa?"
"Kami baik-baik saja, padahal kami ingin membantu tuan tapi malah kami yang menghambat," perkataan Gabriela sedikit diselimuti kesedihan, tapi aku tidak berfikir demikian.
Aku menepuk rambutnya.
"Berkat kalian aku sampai kemari, kalian sudah banyak membantuku."
Aku berkata kepada ketiganya.
"Kalian berisitirahat saja di sini, biar aku yang mengurus sisanya sendiri."
"Baik."
Kekalahan empat bawahan Behemoth, sudah cukup untuk melemahkan seluruh pasukannya, bahkan pasukan Alexius juga mulai bergerak untuk mengambil kota-kota yang sebelumnya dikuasai mereka.
Di saat orang-orang itu disibukkan dengan hal itu, aku mengunjungi kastil Behemoth, dengan santai dia duduk di singgasananya selagi menatapku tajam.
"Kau rupanya yang menggagalkan seluruh rencanaku."
"Benar sekali, semua pasukan berkudamu telah mati bahkan empat orang yang kau andalkan juga, sekarang hanya kau sendirian yang masih hidup."
Dia mengerenyitkan alisnya lalu bangkit dari tempat duduknya setelah mengambil pedang besar di dekatnya, aku pun mengeluarkan Grandbell di tanganku untuk menahan serangannya hingga tubuhku terlempar keluar kastil.
Pertarungan itu menjadi pertarungan yang luar biasa yang diingat oleh semua orang, selama seharian penuh aku dan Behemoth saling menubrukan pedang dan masing-masing dari kami menembakan berbagai sihir tingkat atas.
Di bawah awan hitam yang bercampur kilatan cahaya dari sinar petir. Behemoth terduduk lemas tak berdaya, sementara pedangnya tertancap baik di sampingnya.
__ADS_1
Darah mengucur dari tubuhnya, sementara aku berdiri di depannya tanpa terluka.
"Meski kau memenangkan pertarungan ini, kedamaian tidak akan pernah tercipta, iblis akan terus bermunculan dari dunia bawah dan saat itu, raja dunia bawah akan menyeberang ke dunia ini untuk menghancurkan segalanya."
"Aku sudah tahu apa yang terjadi, kau membawa empat iblis itu kemari, sehingga raja dunia bawah mengetahui keberadaan dunia ini bukan?"
Behemoth tertawa.
"Itu diluar dugaanku, aku tadinya hanya ingin menjadikan para iblis sebagai bawahanku agar aku semakin kuat lalu menjadi satu-satunya penguasa di dunia ini."
Di akhir kalimatnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Sejak saat itu kedamaian telah tercipta di dunia ini, tapi tidak sepenuhnya, di akhir waktuku aku membuat keributan di setiap wilayah.
Aku mengambil kastil Behemoth dan menjadikannya tempat tinggalku bersama ketiga pelayanku, aku menghancurkan para pria dari ras Elf kemudian mengutuk mereka agar hanya memiliki keturunan elf wanita, aku juga menghancurkan banyak wilayah tanpa membunuh siapapun sampai julukan Dewa Kegelapan menjadi satu-satunya yang dikenal banyak orang.
Di akhir hidupku aku meminta ketiga pelayanku untuk tinggal di rumah yang sebelumnya ditinggali oleh Dewi Ristal, sementara aku duduk di singgasanaku selagi menunggu kedatangan pahlawan.
Sepertinya sudah waktunya aku mati.
Dewi Ristal berjanji satu hal padaku, jika aku datang ke dunia ini lagi, aku akan bisa menggunakan pedang Grandbell tanpa mendapatkan kutukannya lagi.
Itu merupakan hal yang kubutuhkan nanti.
Aku berkata pada diriku sendiri sebelum membuka pintu kastil.
"Suatu hari nanti aku akan kembali lagi, karena itu, jangan lupakan hal berharga... Gabriela, Rin, Amnestha, Neffiel, Fate, Asteropedia dan juga Arisa, aku pergi."
Begitulah aku menceritakan semua masa laluku pada ke sembilan putriku yang duduk di halaman dengan tatapan bersemangat.
"Papa sangat hebat, aku ingin menikah dengan papa."
__ADS_1
"Aku juga mencintai papa."
Ketika perkataan itu dilontarkan oleh putri-putriku yang imut, Rin muncul dengan pakaian pelayannya.
"Sudah waktunya kalian semua belajar, silahkan pergi ke ruang perpustakaan sekarang, aku yang akan mengajari kalian hari ini."
"Tapi Nona Rin, kami masih ingin mendengar cerita papa."
"Ayah kalian tidak menceritakan semuanya, ayah kalian itu pria yang selalu melecehkan banyak wanita, bahkan aku juga menjadi korbannya."
Aku memegangi kepalaku frustasi selagi berguling-guling di rumput.
"Jangan mengatakannya, para putriku mungkin tidak akan menyayangiku lagi."
Ketika aku terdiam, ke sembilan putriku mengerumuniku selagi memegangi bajuku.
"Tak apa papa, kami sudah tahu sejak lama.. papa sedikit mesum dan ibu bilang papa masih selalu bersemangat di malam hari kan."
Apa yang mereka katakan pada anak kecil.
"Kami selalu menyayangi papa, kami mencintaimu."
Aku menangis.
Rin segera menepuk tangannya untuk mengendalikan keadaan.
"Mari pergi anak-anak."
"Baik, Nona Rin."
Aku bisa melihat Rin tertawa kecil sebelum memasang kembali wajah datarnya.
__ADS_1
"Dia menjahiliku rupanya," kataku menjatuhkan bahuku lemas.