Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 222 : Pertarungan Pertama


__ADS_3

Para pelayanku sudah selesai dengan apa yang mereka kerjakan, entah pasukan Behemoth atau pasukan pahlawan semuanya telah tumbang hingga yang tersisa dari mereka hanyalah keputusasaan serta kekesalan tidak bisa berbuat banyak.


Gabriela membuat awan untuk kami tunggangi dan melesat pergi bersamanya, saat dalam perjalanan matahari sudah memperlihatkan akan tenggelam karena itu, kami beristirahat di pinggir sungai dengan api unggun serta sup kentang dan daging yang kubuat dengan baik.


Mempunyai sihir ruang, membuat semuanya terasa praktis.


Aku mengisi makanan itu ke dalam tiga mangkok yang kuberikan pada mereka.


"Makan yang banyak."


"Terima kasih tuan, aku mencintaimu."


Baik, kita sudah sering mendengar itu dari ketiga pelayanku, wanita cenderung menyukai pria yang pandai memasak karena jika mereka sedang sibuk ada seseorang yang menggantikannya.


Tujuan kami selanjutnya adalah empat kota pusat yang dijadikan markas utama dari anak buah Behemoth, pertama adalah Red Clover yang menjadi ancaman.


Aku tidak tahu siapa orangnya, tapi jika itu Behemoth sendiri yang menjadikannya pemimpin dia pasti bukan manusia, mungkin semacam iblis atau lainnya.


Rin menempelkan tangannya di tanganku, dan Amnestha tidak ingin kalah untuk mengambil tangan lain dalam pelukannya.


Gabriela sedikit cemburu.


"Curang sekali kalian berdua, ini masih jam makan tapi kalian sudah mengambil start duluan."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan.


Ketiga pelayanku malah lebih dekat dari yang kubayangkan.


"Jika begitu aku ambil di depan."


Gabriela lebih suka memelukku dari depan, mereka ini wanita yang sedikit berani atau mungkin melebihi batas.


Aku membaringkan ketiganya di atas dedaunan yang sebelumnya kususun menjadi tempat tidur, aku menutupi tubuh mereka dengan selimut sebelum mengambil tempat sedikit jauh dari mereka.


Seharusnya aku meniduri mereka namun aku tidak memilih hal itu, dan hanya menatap pemandangan bintang yang menyilaukan hingga menunggu pagi berikutnya.


Di luar kota yang menjadi target kami, aku menciptakan busur di tanganku lalu menarik panah dari sana.


Aku memang menyebut tiga hari, sayangnya aku menyerang mereka lebih cepat dari yang kukatakan.


Rin mendesah pelan.


"Mereka pasti akan sangat marah."


"Aku hanya main-main, ketika mereka bersiap untuk melawan kita dalam tiga hari kita malah menyerang mereka lebih dulu."


"Yah itu cukup licik."

__ADS_1


Dari arah kota monster-monster bersayap mulai berterbangan ke arah bukit yang kami pijak, Rin menciptakan sayap kelelawar di punggungnya kemudian pedang darah di tangannya sebelum menerjang ke depan.


Kepakan sayapnya membuatnya lebih cepat dari yang terlihat, dia menebas mereka tanpa ampun membuat darah serta daging berjatuhan ke tanah.


Aku, Gabriela dan Amnestha hanya mengawasi pertarungan yang brutal tersebut, satu orang bisa membantai seperti itu jelas level Rin bukan berada di ranking terbawah.


"Dia masih tidak menahan diri," suara itu berasal dari Gabriela yang dengan santai mengangkat bahunya.


"Bukannya kalian berdua harus membantunya juga."


"Tidak perlu tuan, jika kami lakukan itu hanya akan mengganggunya."


"Benar sekali, Rin tampak terlihat bersenang-senang di sana," tambah Amnestha.


Beberapa saat kemudian dari arah kota, para Orc raksasa bermunculan, mereka menggunakan semacam sihir untuk merubah rekan mereka menjadi raksasa.


"Sudah saatnya kita juga Amnestha."


"Laksanakan, silahkan tuan menyelinap ke kota sekarang."


"Tetap waspada."


Keduanya mengangguk mengiyakan lalu melesat ke arah para Orc.

__ADS_1


__ADS_2