
Meninggalkan kedai, kami menuju guild untuk menukarkan ikan yang sebelumnya kutangkap dengan uang.
Pintu dibuka menampilkan deretan petualang yang sedang minum-minum serta tertawa terbahak-bahak, ini sudah malam jadi semua orang berada di sini untuk menghabiskan uang mereka selagi membuang rasa penat karena bekerja seharian.
Salah satunya berkata ke arahku.
"Yo, Redo... bagaimana misimu?"
"Berjalan lancar."
"Jika kau perlu bantuan katakan saja padaku."
"Aku menghargainya tapi aku sudah memiliki party sekarang."
"Begitu, sayang sekali hwahaha."
Indentitasku sebagai petualang bernama Cavelari Redo, itu adalah identitas yang diberikan oleh pendeta tinggi di kota suci.
"Ara, kau sudah kembali?" ucap receptionis berambut putih.
"Aku ingin menukarkan quest."
"Guest mengalahkan ikan pedang kah."
Aku memunculkan lubang hitam dari atas atap dan ikan berjatuhan hingga menumpuk satu sama lain.
"Banyak sekali, apa kau melakukannya sendirian?"
"Kami berdua."
"Hey, aku tidak ingat membantumu," bisik Valesta.
"Ini demi penyamaran."
Aku mengambil koin yang dijanjikan, sebelum hendak pergi receptionis memanggilku.
__ADS_1
"Redo, bisakah kau mengambil quest ke Gandaria juga, di sana situasinya cukup gawat aku yakin dengan bantuanmu semuanya akan terselesaikan."
"Jika kau mengatakan itu, apa boleh buat."
"Terima kasih, besok pergilah ke dermaga. Ada kapal yang akan membawamu ke sana."
Aku mengangguk mengiyakan sebelum akhirnya keluar dari guild.
"Berbeda dari yang kubayangkan, ternyata kau tidak terlihat seperti penjahat yang membantai banyak orang."
"Itu karena informasi yang kalian dapatkan tidak lengkap."
"Tidak lengkap?"
"Saat ketika aku membantai para elf pria, sebenarnya untuk melindungi elf wanita.. elf pria membuat percobaan mengerikan dengan teknik Alchemist yang mereka kuasai karena itu aku melakukannya."
"Alchemist, sihir kuno di mana membuat penggunanya mengurai berbagai material menjadi material lain, mereka bahkan bisa membuat emas."
"Tak hanya itu, teknik ini juga bisa membuat kehidupan yang kita sebut Homunculus."
"Kau tahu banyak tentang sihir bahkan kau juga bisa memanipulasinya sesuai yang kau inginkan."
Kami berdua berjalan ke pesisir pantai di mana panggung Mamisa berdiri megah dengan lampu berkelap-kelip di sekitarnya, di depannya ada sekumpulan orang yang berdiri menonton selagi meneriakkan yel-yel memegang pedang cahaya.
"Dia hebat bukan?"
"Dadanya hebat."
"Hanya itu yang kau perhatikan."
Di atas panggung itu. Mamisa bergerak layaknya seekor burung bebas mengikuti alunan musik, tentu dia juga bernyanyi dengan hanya menggunakan pakaian renang.
"Semuanya terima kasih banyak sudah datang... lihat juga penampilanku lain kali, te-hee."
Dia melakukannya dengan baik, menjadi idol bukan tentang bagaimana cara menghibur orang lain melainkan bagaimana cara menyembunyikan kesedihanmu agar tidak diketahui banyak orang.
__ADS_1
Itu hanya kata-kata dariku yang tidak berarti.
Pagi berikutnya aku dan Valesta berkumpul bersama petualang lain, tak hanya kami, ada Mamisa yang ikut di belakang. Aku sudah menyuruhnya pergi... sayangnya jika aku tidak mengajaknya dia akan membuka identitasku ke semua orang.
Betapa liciknya dia, apa idol seperti ini?
Salah satu orang yang memimpin pasukan ini adalah Scarlet Melody. Seperti namanya dia berambut merah sepundak dengan mata tajam serta armor berat untuk menutupi tubuhnya, untuk bagian bawah dia mengenakan rok merah.
Dia seorang kesatria dari kerajaan ini yang meminta bantuan para petualang untuk memulihkan wilayah Gandaria yang diselimuti monster.
Walau terlihat tegas sepertinya dia juga sedikit feminim karena memakai jepit rambut bunga mawar.
"Terima kasih atas partisipasinya, aku Scarlet Melody akan membawa kemenangan pada kita semua walau sebagian kita mati."
Semua orang memucat.
Apa yang dikatakan orang ini? Dia malah menakuti orang-orang.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya, musuh kita sangatlah kuat. Bukan hanya monster biasa ukurannya sebesar gunung dan dengan mudah dia akan menghancurkan kita... aaah, aaah, bukannya itu hebat."
Hebat pala lu.
Lihat semua petualang ketakutan seolah ingin cepat meninggalkan tempat ini, meski begitu mereka tidak bisa karena kapal sudah berlayar.
Di manapun berada aku tahu orang seperti apa dia, dia tipe orang mesum Hardcore yang merubah rasa sakit sebagai kenikmatan dengan kata lain. Tipe masokis yang cocok dengan Valesta.
"Dia berada di jalan kesakitan sepertiku, aku mungkin akan akrab dengannya."
Lihat kan.
Lalu tipe seperti apa seorang Mamisa yang ada di sebelahku.
"Anginnya sangat kencang Redo."
"Rokmu terangkat tuh."
__ADS_1
"Aaah... aku tidak memakai apapun, jangan melihatnya."
Orang sesat.