
Ini adalah kebun anggur di desaku.
Di depan kesembilan istriku.
Selly.
Sella.
Felisa.
Ariel.
Nermia.
Riel.
Hesna.
Aerith.
dan Ristal.
Aku menjelaskan bahwa mulai sekarang merekalah yang akan merawat kebun ini, mereka mengenakan gaun panjang sederhana meski begitu kecantikan mereka tidak pernah memudar sedikitpun.
Ristal berkata selagi tersenyum jahil.
"Bukannya menyuruh istrimu bekerja itu, terlalu berlebihan, lebih baik kita kembali keseharian biasanya."
"Tidak, aku malah merasa buruk jika kalian terus saja mengurung diri di masion dan hanya keluar saat jadwal kencan kita masing-masing."
Ristal mengembungkan pipinya, itu memang imut tapi aku tidak akan mengubah keputusanku.
Ini demi mereka juga.
Lagipula merawat kebun anggur tidak terlalu melelahkan dan kuyakin istiku ini paling kuat diantara penduduk desa.
"Jadi masih ada yang menolaknya?"
Semua istiku mengangkat tangannya.
"Kalian semua."
Hesna memegangi kakinya.
__ADS_1
"Kakiku sakit, boleh aku pulang."
"Kau ini ras naga, mana mungkin merasa sakit apalagi terkilir."
Riel melanjutkan.
"Aku seorang Malaikat, aku tidak terlalu ahli dalam merawat kebun."
"Sebenarnya Elf juga tidak ahli."
"Naga air juga," tambah Nermia setelahnya Aerith.
Aku mendesah pelan.
"Berhentilah kalian berbohong, Selly, Sella, Ariel dan Felisa juga harus menyerah."
"Kami tahu."
"Untuk Ariel jangan terlalu memaksakan diri."
Aku mengelus rambutnya yang lembut.
"Bukannya suami kita terlalu memanjakan Ariel."
"Mana mungkin.... aku selalu memanjakan kalian semua sama, kalau tidak percaya, kalian bisa berbaris sekarang, kenapa kalian mengembungkan pipi kalian?"
Membuat kesembilan istriku tetap rukun itu, benar-benar pekerjaan yang sangat sulit dilakukan, penuh tenaga, usaha, uang dan kesabaran.
Jika seseorang hanya memiliki satu istri kurasa itu lebih baik.
Tak lama Dorothy yang sejak tadi berada di kepalaku mengeong.
"Ah benar juga, terima kasih Dorothy."
"Meong, meong."
"Untuk sekarang kita hanya memetik anggur saja, aku akan mengajari kalian bagaimana caranya."
"Baik," kata semuanya di waktu bersamaan, hari ini udara tidak terlalu panas karena itu, kami bisa melakukannya sampai sore hari.
Aku menggunakan gunting untuk memotong bagian tangkai buah lalu memasukannya ke dalam keranjang, anggur ini biasanya akan dijadikan wine, akan tetapi dimakan secara langsung juga tampak enak.
"Kyaaa ada ulat, aku takut," ucap Felisa imut.
__ADS_1
"Jangan berlari ke arahku."
"Jangan begitu Aerith, cepat buang ulatnya."
"Aku juga takut."
"Kau kan elf."
"Aku ini cuma wanita biasa."
Keduanya seorang ratu, mungkin ini pertama kalinya mereka harus bekerja seperti ini.
Aku tanpa sadar tersenyum memperhatikan para istiku yang terlihat serius dalam bekerja hingga aku tidak tahu bahwa Lolia telah berada di belakangku.
"Pemandangan yang bagus."
"Lolia?"
"Aku hanya ingin melaporkan keadaan desa sekarang."
Aku mendengarkan setiap laporan darinya.
Lolia adalah istri Ronald dan termasuk asistenku yang sangat berbakat yang telah banyak membantuku dalam perkembangan desa, tanpa bantuannya mengelola desa pasti sangat sulit dilakukan.
"Hasil panen kita lebih banyak dari sebelumnya, jika begitu mari buat perayaan."
"Aku mengerti, aku akan menyiapkan semuanya.. oh yah, ngomong-ngomong apa kedua gadis pendeta itu tinggal di sini juga tuan?"
"Benar, mereka tidak memiliki rumah jadi mereka memutuskan tinggal bersama kita, kalau bisa berikan pekerjaan yang bisa mereka lakukan juga?"
"Sepertinya itu tidak perlu tuan, saat aku mampir ke sana, mereka bilang ingin membuat toko obat."
"Begitu, sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka."
"Kalau begitu aku permisi, untuk anggurnya nanti akan ada yang akan membawanya ke pabrik."
"Aku mengerti."
Aku hanya melihat kepergian Lolia dari kejauhan lalu beralih melirik ke arah istriku.
Mereka memang sangat cantik.
Itu mengingatkanku satu hal.
__ADS_1
Ingatan masa laluku telah kembali, sebaiknya aku juga menjemput Fate.
Aku merasa bersalah membuatnya terlalu lama menunggu.