
Setelah beberapa saat kepergian Kazuya, Akane hanya bisa melihat pedang yang berada di tangannya, ia sama sekali belum pernah menggunakannya akan tetapi perasaan yang mengerikan bisa dia rasakan dari pedang tersebut.
"Apa itu?"
Tanda tanya muncul di kepalanya, saat dia ingin mengalihkan pandangan ke arah pertarungan Selly dan Sella tiba-tiba saja kesadarannya telah direnggut darinya.
Kepalanya terasa berat dan sakit lalu saat Akane sadar dia berada di sebuah tempat asing, itu bukanlah tempat yang indah untuk dikatakan kendati demikian ini terasa seperti sebuah mimpi.
Tumpukan tengkorak ditata menjadi sebuah piramid dan di atasnya ada sosok wanita dengan kimono hitam, ia memiliki rambut hitam panjang dengan poni menutupi mata kirinya, di sekitarnya tampak kupu-kupu hitam berterbangan.
Kupu-kupu itu jelas terbuat dari api.
"Heh, baru sekarang ada orang yang bisa mencapai tempat ini?"
"Siapa?"
Hanya itulah yang bisa ditanyakan oleh Akane.
"Namaku Amaterasu, aku yang membuat lima pedang terkutuk... tentu yang kau lihat sekarang hanyalah bentuk kesadaranku yang kusisipkan ke dalam pedang."
"Amaterasu?"
"Benar... apa kau pernah mendengar namaku?'
Bagi Akane yang hanya seorang gadis biasa dia sama sekali tidak mengenalnya.
Sosok yang mengatakan dirinya Amaterasu mendesah pelan selagi menopang dagunya lemas.
__ADS_1
"Kurasa diriku sudah banyak dilupakan, mari kesampingkan hal itu... jika kau bisa menemuiku berarti kau ingin mendapatkan kekuatan bukan?"
"Itu benar, aku ingin menyelamatkan dunia ini... aku ingin bisa melihat senyuman orang-orang saat melihat kembang api."
"Impian yang bagus, tapi sayangnya pedangku hanya akan menunjukkan kehancuran, apa kau yakin bisa meraih kedamaian yang kau inginkan tersebut?"
"Seorang bilang padaku, jika kau memiliki tekad kuat maka kekuatan seperti apapun bisa kau gunakan demi kebaikan."
"Heh, menarik... siapa namamu?"
"Akane."
"Akane kah, jika kau sudah memutuskan gunakanlah pedangku... aku ingin lihat seberapa kuat tekadmu tersebut."
Akane membuka matanya dan ia kembali sadar, pedang di tangannya masih dia pegang seolah hal yang barusan dia alami hanyalah sebuah ilusi.
Menyadari ada yang aneh, Akane berguling ke samping dan 'Bam' tempat sembunyi sebelumnya hancur oleh sebuah ledakan.
"Bagaimana kau memiliki pedang Kalina?"
"Seseorang memberikannya padaku."
"Memberikannya? Kalau begitu kau harus memberikannya kepadaku sekarang."
"Aku tidak akan melakukannya."
"Jika begitu bersiaplah untuk mati."
__ADS_1
Pria plontos itu bisa menggunakan sihir terbang, saat dia mengarahkan ujung pedangnya sebuah ledakan tercipta.
Tubuh Akane terlempar ke samping.
"Pedang ini memiliki kemampuan khusus yang hebat, hanya dengan mengarahkan ujungnya dapat meledakan apapun dalam radius satu kilometer."
Akane menembakan roket kembang apinya.
"Bodoh, serangan main-main seperti itu mana mungkin bisa mengalahkanku."
"Max Speed."
Dalam sekejap seluruh area di sekelilingnya terhenti, bertepatan saat sebuah tebasan terarah pada Akane.
Tangannya seolah bergerak sendiri untuk menahan serangan tersebut dengan pedang miliknya.
"Kau bisa menggunakan pedang itu rupanya."
Tangan Akane berubah menjadi tulang berulang.
"Kurasa kutukan itu terlalu kuat untukmu haha jika dibiarkan tubuhmu akan hancur."
"Tidak, aku tidak akan hancur."
Seketika itu tulang tersebut telah tertutup kembali.
"Apa?"
__ADS_1
Akane mengayunkan pedangnya di udara hanya dengan hembusan anginnya pria plontos itu terlempar ke belakang.
"Sialan... aku Freedom akan membunuhmu."