Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 145 : Janus


__ADS_3

Setelah beberapa hari meninggalkan kediaman Kazuya, Minerva telah tiba di reruntuhan para Oni, tempat ini telah ditinggalkan sejak lama yang berada di tengah hutan yang berbahaya.


Minerva mengayunkan pedangnya ke samping untuk membuang darah yang menempel sebelum menyarungkannya kembali, sementara di belakangnya ular raksasa telah tumbang tak bernyawa.


Tanpa memperdulikan lagi, Minerva masuk ke dalam labirin di depannya. Labirin ini memiliki lantai 10 dan di dalamnya terdapat ratusan jebakan, kecuali kau berasal dari ras Oni kau bisa masuk tanpa kendala.


Selagi menyalakan obor di tangannya, Minerva terus berjalan mengikuti lorong gelap, ia turun semakin dalam dan dalam hingga mencapai dasar dari labirin tersebut. Di sana terdapat sebuah deretan patung Oni yang berjajar. Saat Minerva melangkah, patung itu mulai bergerak dan mulai menyerang Minerva secara bergiliran.


Patung-patung itu hancur dengan sekali tebasan, bagi Oni setinggi Minerva hal ini sangat mudah. Dia melangkah lebih jauh lalu mengambil sebuah pedang katana yang selama ini ditaruh leluhurnya di ujung ruangan.


"Dengan ini aku akan bisa bertarung."


***


Dengan gerakan cepat iblis itu meluncur ke arahku selagi mengayunkan goloknya dari samping secara horizontal. Aku menahannya dengan pedangku hingga menghasilkan percikan butiran api ke udara.


Prang.


Jadi ini kekuatan Iblis dari neraka pertama sesungguhnya, kemampuannya jelas lebih hebat dibanding iblis yang kulawan beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Terlebih.


"Aku sudah diberitahu bahwa aku harus berhati-hati dengan cincin di tanganmu itu, karena itu aku telah menghilangkan seluruh kemampuannya."


Aku hanya bisa mengandalkan skill milikku saja, atau sejujurnya semuanya tidak terlalu kuat.


Kugunakan Extra Skill [Penghakiman] namun itu sama sekali tidak berpengaruh dengan Iblis di depanku, sebelum patung seutuhnya dikeluarkan dia lebih dulu menghancurkannya.


"Hanya segitu kemampuanmu, rasakan ini."


Dia membacok sementara aku menahannya, akibat serangan kuat itu tanah meledak memuntahkan seluruh materialnya ke udara bersama tubuhku yang mengalami pendarahan.


Aku tertawa senang selagi mengeluarkan topeng tiga mata dari belakangku.


"Tidak, namamu Janus kan... dulu aku pernah bertarung dengan Alexius dan kalah olehnya, apa kau tahu kenapa aku bisa kalah saat itu?"


"Itu karena kau lemah."


"Sama sekali bukan, itu karena aku dari awal memang ingin mati."

__ADS_1


"Kau pasti bercanda, kau juga bahkan tidak bisa bertarung melawanku."


"Dulu aku memang ingin menghancurkan dunia ini, jadi kupikir jika aku mati aku bisa menembusnya tapi sayangnya hal yang disebut kedamaian tidak pernah muncul bahkan ketika aku mati."


"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"


"Singkatnya aku mati karena keinginanku sendiri, yang bisa mengalahkanku hanyalah diriku sendiri bukankah kau atau pahlawan itu."


Aku memakai topengku yang berbentuk monster bermata tiga dan seketika sihir pemblokiran yang berguna untuk mencegah kekuatan cincinku hancur dalam sekejap.


"Mustahil?"


"Dari awal iblis peringkat sepertimu tidak pantas melawanku."


"Jangan sombong."


Janus melesat ke arahku bertepatan saat aku mengangkat pedangku ke atas, saat aku menjatuhkannya ringan ke bawah entah itu pedangnya, tubuhnya, atau gunung di belakangnya ketiganya telah terbelah menjadi dua bagian.


Tubuh Janus berubah menjadi debu dan hancur seketika.

__ADS_1


Aku menyimpan pedang dan topengnya ke dalam item penyimpanan, dibanding menyerangku sendiri-sendiri para iblis ini seharusnya menyerangku secara bersamaan saja, aku yakin Alexius hanya sedang bermain-main denganku dan melihat seberapa kuat diriku yang sekarang.


Jika ada yang kuinginkan aku ingin bertarung dengannya satu lawan satu dan menyelesaikan semua ini secepatnya.


__ADS_2