Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 381 : Bersama Receptionis Guild


__ADS_3

Selagi berjalan di jalanan utama kota pelabuhan Eternal, aku memikirkan banyak hal dalam kepalaku, diriku yang lain sama sekali tidak mengatakan soal balas dendam ataupun melakukannya demi Dewinya.


Dia hanya mengatakan ingin menghancurkan semuanya.


Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan?


Saat aku berbelok di trotoar ada seorang wanita yang sedang digoda tiga pria besar, aku yang melintas mencengkeram kepala si pria yang terlihat seperti pemimpinnya lalu membenturkannya ke tembok hingga puing-puing batu bata berhamburan.


Dengan santai aku mengangkat pria itu hingga kakinya terangkat 30 cm, sementara dua orang lagi terduduk dengan lemas.


Paling tidak, aku tidak membunuhnya.


Aku melemparkan pria di tanganku pada rekannya hingga ketiganya berlarian, kalau tidak salah mereka kelompok yang paling ditakuti di wilayah ini.


Wanita yang kuselamatkan berterima kasih dan aku hanya berjalan selagi melambaikan tanganku untuk kembali memikirkan apa yang terjadi.


Dunia ini benar-benar kacau, tanpa kusadari sekitar 50 orang telah berkumpul di depanku selagi membawa senjata.


Mereka teman-teman yang barusan aku hajar.


"Serang dia."


Kehidupanku penuh pertumpahan darah, aku meninju salah satu wajah orang hingga dia membentur ke salah satu bangunan, di saat yang sama aku mengayunkan kakiku menendang tiga orang sekaligus hingga terkapar.


"Kenapa kalian mundur?"


Mereka mendecapkan lidahnya dan kembali menyerangku, salah satu melompat ke arahku dan aku menggunakan lututku untuk mengenai perutnya lalu memukul wajahnya ke samping.

__ADS_1


Beberapa orang dari mereka bisa menembakkan sihir namun aku dengan mudah mementalkannya dan membalas dengan sihir yang sama.


Dalam hitungan menit semua orang telah terkapar.


Bersamaan itu, suara terompet terdengar dari belakang, ada sosok pria besar duduk di tandu yang dibawa oleh empat orang.


"Ini adalah tempat kekuasaan kami, bahkan guild tidak ingin main-main dengan kami... akan kubuat kau menyesal karena membuatku marah."


Dia berlari ke arahku dan aku menendang wajahnya hingga dia berguling-guling di trotoar.


Semua orang terkejut.


"Kau? Akan kubuat kau."


Aku meninju wajahnya hingga dia terlempar ke langit, para bawahannya berlarian untuk mengejarnya.


"Aku baru saja melihat perkelahian yang tidak seimbang," suara itu berasal dari belakangku, saat aku memastikan asal suaranya di sana ada Iris receptionis guild yang sedang membawa tas belanjaan.


Ia mengenakan gaun panjang putih yang terlihat cocok dengannya.


"Kau tidak bekerja?" tanyaku selagi berjalan di sampingnya.


"Hari ini aku kurang sehat jadi kuputuskan untuk tidak bekerja beberapa hari, oh yah, mau mampir ke rumahku?"


"Mungkinkah ini ajakan untuk melakukan itu."


"Jika dipikirkan lagi, lupakan saja yang akan kukatakan."

__ADS_1


"Hal yang sudah dikatakan tidak bisa ditarik lagi, biar aku bawa belanjaannya bukannya kau sedang tidak sehat."


"Terima kasih."


Iris tinggal sedikit jauh dari lokasi guild, dia tinggal di sebuah tempat mirip apartemen berlantai dua dan kamarnya berada paling ujung dari tangga.


Iris mengeluarkan kunci dari gaunnya lalu membuka pintu tersebut hingga sebuah ruangan yang sederhana tampak dalam bidang pandangku.


Hanya ada ruangan tengah dan dapur saja di sini, hingga aku mengerenyitkan alis.


"Tidak ada kamar mandi di sini, mungkinkah Iris tidak pernah mandi."


"Hilangkan pikiran anehmu, aku selalu mandi di pemandian umum."


"Begitu."


"Biaya di sini sangat murah, jadi sayang untuk pindah."


Aku tersenyum kecil lalu membawa belanjaan ke dapur.


"Kau istirahat saja dulu, biar aku yang memasak."


"Tidak, aku ingin segera memaksamu pergi dari sini."


"Tapi aku belum melakukan itu."


"Jangan menghasut diriku," teriak Iris imut dan aku mulai memotong-motong sayuran tanpa memperdulikan protesnya.

__ADS_1


__ADS_2