
Malam hari itu aku membuat sup untuk kami berdua dengan bahan-bahan yang bisa dengan mudah kutemukan di sekitar sini.
"Tolong tambah lagi tuan?" suara Gabriela terdengar lebih berat dari pertama aku bertemu dengannya.
"Besok kita akan mulai latihan dan tinggal di sini selama tiga bulan, karena itu hanya hari ini saja kau bisa makan sepuasnya."
"Mustahil?"
"Kau perlu diet dan aku perlu berlatih, karena itu agar kau tidak menjadi beban nantinya."
"Tuan benar-benar kejam."
"Ini demi kebaikan kita, aku memutuskan untuk pergi ke suatu tempat tapi sebelum itu aku perlu singgah di beberapa tempat," atas pernyataanku Gabriela hanya bisa menjatuhkan bahunya lemas.
Dia mungkin akan merasa hidup di neraka untuk tiga bulan berikutnya.
Keesokan paginya kami berdua latihan fisik bersama selama 8 jam, kemudian 8 jam lagi kugunakan untuk berlatih menggunakan tinjuku ke sebuah pohon dan itu terus kulakukan setiap harinya.
Hujan maupun panas kulalui terus menerus dan terkadang aku berlatih sampai tengah malam.
Perlahan tubuh Gabriela juga semakin mengecil.
"Tuan, Anda berlebihan... tolong berhentilah sehari."
"Tidak, aku harus bertambah kuat."
"Meski Anda bilang begitu, aku sedikit khawatir."
__ADS_1
"Tak usah memikirkanku, kau juga berlatihlah sendirian."
Suara dentungan pukulan terdengar semakin keras saat aku meninju pohon tersebut, dan baru satu bulan aku berhasil menumbangkannya, selanjutnya berlatih dengan batu.
Aku melirik ke arah Gabriela dan ia telah tumbang ke tanah, aku bisa melihat dadanya kembang-kempis karena kelelahan.
Dia harus berjuang demi dirinya sendiri.
Setelah dua bulan perubahan kami berdua tampak terlihat jelas, tubuh Gabriela mengecil hingga dia tampak lebih muda serta terlihat kekanak-kanakan, rambut pirangnya dia ikat bergaya twintail jika sedikit berbicara penampilan yang mencolok darinya yaitu mata kiri Gabriela berwarna hijau sementara mata kanannya berwarna biru.
"Lihat ini tuan, aku tumbuh menjadi gadis seksi."
"Maaf membuatmu kecewa tapi tubuhmu lebih mirip anak-anak."
"Kejam sekali, padahal aku sudah berjuang keras, paling tidak tuan tutup mata dan bilang tubuhku bahenol."
Di bulan ketiga Gabriela lebih memfokuskan dirinya berlatih sihir sementara aku berlatih dengan pedang kayu yang lebih berat dari pedang aslinya.
"....1001, 1002, 1003.... 1010... 1200."
Aku menjatuhkan diriku ke tanah selagi menatap langit oranye, matahari telah tenggelam sepenuhnya membuat sinar bulan terlihat jelas.
Gabriela berjongkok di sampingku selagi menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Latihannya telah selesai, apa besok aku bisa pergi ke kota untuk membeli cemilan serta pakaian dalam yang lebih imut."
Aku menutup mataku lalu mendesah pelan.
__ADS_1
"Kita bisa membeli apapun di kota namun setelah kita punya uang."
Wajah Gabriela memucat.
"Mustahil, berarti tidak ada hadiah bahkan setelah aku bisa diet seperti ini."
Sejak itu Gabriela agak sedikit kejam padaku.
"Gabriela?"
"Apa?"
"Bukan apa-apa, mau mandi bersama?"
"Aku tidak ingin menunjukkan tubuhku padamu."
Padahal dulu dia yang selalu memaksaku.
Aku hanya menatapnya dengan pandangan bermasalah, entah penampilannya atau gaya bicaranya semuanya benar-benar berubah, aku pasti akan merindukan sosok Gabriela yang dulu.
Selagi memakan apel di tanganku, aku dan Gabriela meninggalkan hutan yang telah kami tinggali selama tiga bulan, tujuanku adalah dataran tinggi Utara tapi sebelum ke sana aku harus pergi ke kota yang berada di barat.
"Saat tiba di kota kita harus mencari pekerjaan," kata Grabiela menegaskan.
"Kau masih marah? Nanti akan kubelikan semua cemilan yang kau suka."
"Humph," dia menyilangkan tangannya di depan selagi membuang wajahnya ke samping.
__ADS_1