Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 64 : Bersama Pelayan Lain


__ADS_3

Dua minggu berikutnya di pekarangan masionku aku mulai berlatih bela diri, jika lawanku adalah pahlawan yang bisa menanggulangi kesepuluh cincin yang sedang kukenakan maka bergantung pada sihir bukanlah hal yang bisa kulakukan.


Menjadikan Rin sebagai mentorku dia mampu mengajariku berbagai hal, selain latihan fisik dia juga terkadang melatihku untuk menangkis berbagai serangan pada akhirnya aku berpikir untuk menciptakan sihir baru yang bisa kubuat sendiri.


"Sekarang lawan aku dengan kemampuanmu."


"Dengan senang hati Rin."


Aku melesat ke arahnya selagi membagi pukulan dan tendangan secara bergantian, seperti yang kuduga darinya Rin bahkan tidak perlu serius untuk melawanku.


Sejak tadi dia hanya menyilangkan tangannya selagi menghindari setiap seranganku.


"Perhatikan kakimu juga."


Dengan sekali tendangan, aku kehilangan keseimbangan hingga tengkurap di rumput, saat aku membalikan badanku demi menatap langit sesosok benda putih menimpaku hingga aku kesulitan bernafas.


"Apa kau menyerah?"


Aku berusaha mengeluarkan kepalaku dari dalam rok Rin, tapi itu sia-sia sampai sebuah tendangan menghantam wajah Rin hingga ia berguling-guling di rumput sebelum jatuh memalukan.


"Sialan kau Gabriela, biarkan aku bersenang-senang."


"Aku pikir barusan terlalu berlebihan, biar aku saja yang akan menjadi mentor tuan yang baru dan aku akan memperlakukannya jauh lebih lembut darimu."


"Mau mati?"


"Coba saja."


Keduanya mulai bertarung satu sama lain di udara, kelakuan pelayanku memang seperti ini.

__ADS_1


Riel mendekat ke arahku selagi membawa handuk untukku.


"Silahkan tuan."


"Terima kasih."


Aku berdiri agar pandangan kami sejajar.


"Menurutku tuan sudah sangat kuat, jadi tak perlu mengikuti latihan seperti ini."


"Tidak juga, aku harus selalu berlatih."


Aku tidak bisa mengatakan hal sebenarnya pada Riel bahwa aku akan membunuh pahlawan yang telah menjadi jahat, dia adalah malaikat polos yang tidak harus tahu betapa kejamnya dunia ini.


Aku ingin menjaganya seperti itu, paling tidak jangan menjadi pelayan mesum seperti kedua orang itu yang sedang berbelanja ke pasar sekarang.


Hesna dan Nermia telah menyiapkan teh di kursi yang selalu kutempati, ada beberapa cemilan juga yang baru dibuat oleh Hesna di sana.


"Silahkan tuan."


"Kalau begitu permisi."


Ini yang kusebut kedamaian.


"Aneh kalian tidak berbuat onar hari ini, apa terjadi sesuatu?"


Hesna yang menjawabku.


"Kami sedang berusaha menjadi pelayan baik di masion ini, semua petunjuk telah di tulis dalam buku ini kami ingin mengikutinya sebaik mungkin."

__ADS_1


Aku menerima buku yang disodorkan Hesna, sampulnya cukup menggoda di mana terlihat foto pelayan yang dengan sengaja menunjukan ketidak senonohan.


Aku segera membanting buku itu ke meja.


"Ini buku dewasa."


Mereka sebenarnya mempelajari apa.


Tak lama kemudian Amnestha muncul dengan laporannya.


"Sekarang dungeon telah mulai beroperasi kembali, setiap hasil penambangan akan di bawa ke guild pedagang dan akan di distribusikan ke negara lainnya sebagai barang perhiasan."


"Kerja bagus Amnestha, mulai sekarang tolong awasi lagi soal perekonomian kita, kau bisa bekerja sama dengan Ronald untuk itu."


"Baik, dibanding bertarung aku lebih suka menjalani hidupku seperti ini."


Aku tersenyum ke arahnya selanjutnya Lolia lah yang muncul dengan bentuk wanita dewasa.


"Apa tuan memanggilku?"


"Benar Lolia, kita sudah membuat rumah untuk para ras naga dan manusia, aku ingin membuat perkebunan mulai sekarang bisakah kau ikut bersamaku nanti siang, kita akan mencari bibit tanaman yang mudah di tanah di dataran tinggi."


"Aku mengerti, aku akan kembali lagi ke sini nanti."


"Aah, aku mengandalkanmu."


Aku mengelus rambut Nermia layaknya seekor kucing.


"Tuan, ini memalukan."

__ADS_1


"Aku perlu seseorang untuk menghangatkanku dari udara dingin."


"Tolong jangan menganggapku sebagai tungku api," balas Nermia lemas.


__ADS_2