
Dalam keributan ini sulit sekali bisa menemukan keberadaan Gabriela, sepanjang jalan utama aku telah menghabisi 100 iblis lewat tendanganku dan 50 iblis terbang lewat batu krikil.
Berbeda saat melawan Oni sepertinya para iblis ini tidak bisa menggunakan skill yang mampu menghilangkan sihir seseorang.
Seekor iblis berotot muncul di depanku, tanpa mengatakan apapun dia melemparkan kapak besar di tangannya, aku menangkapnya dengan tangan kosong kemudian membalasnya dengan satu pukulan untuk menumbangkannya.
Paling tidak kuharap ada musuh yang lebih kuat, aku bisa merasakan penderitaan seperti tokoh kepala plontos dari manga yang kusuka.
Selagi memasukan kedua tanganku ke dalam celana aku terus berjalan ke persimpangan jalan hingga kutemukan ketiga malaikat tinggi tampak babak belur di sana, masing-masing dari mereka hanya bisa terbaring di tanah.
"Kazuya."
"Tuan?"
Aku mengacak-acak rambutku lalu berkata.
"Seharusnya kalian membangunkanku."
"Kukira kami bisa mengatasinya, tak kusangka raja iblis juga malah datang kemari," kata Nal mengerenyitkan alisnya menahan rasa sakit.
"Kalian istirahat saja, biar aku yang menghadapinya."
"Jadi kau yang telah mengalahkan seluruh pasukanku," yang berkata itu adalah Raja Iblis Venosa.
Dia adalah pria berotot dengan zirah berat menutupi seluruh badannya, dia memiliki sayap dan tanduk di atas kepalanya serta kedua tangan memegang pedang serta perisai.
Senjatanya terlihat terkutuk, apalagi perisai itu memiliki mulut hiu yang dipenuhi gigi berjeruji.
"Seperti dugaanmu, akulah yang mengalahkan mereka.. aku pikir pasukanmu terlalu lemah."
__ADS_1
"Jika kau menghina mereka, mereka akan marah loh."
Tiba-tiba saja lima orang iblis tinggi muncul di depan Venosa, masing-masing dari mereka terlihat kuat.
"Mereka adalah seluruh komandan pasukan yang kumiliki... Serang dia."
"Baik yang mulia."
Kelimanya melesat maju lalu melompat di atasku secara bersamaan.
"Matilah."
Selanjutnya.
SRAK.
Darah menyembur ke udara bersama saat aku melangkah ke depan meninggalkan potongan mayat di belakangku, barusan aku menggunakan skill Time Over kemudian aku menebas mereka dengan pedang yang kuambil dari sihir ruang milikku.
"Cuma menebas mereka."
Bagi semua orang barusan aku terlihat seperti menghilang.
"Sialan... Akan kubunuh kau."
Venosa berlari ke arahku dengan kecepatan tinggi, dia ingin bertarung menggunakan pedang karena itulah aku melayaninya.
Sesuai dugaanku pedangku tidak kuat menahannya hingga hancur berkeping-keping.
"Aku sudah banyak membunuh orang-orang kuat yang berani menantangku, bahkan jika kau pahlawan kau tidak apa-apanya."
__ADS_1
Aku mengirim tinjuku sementara Venosa langsung menahannya dengan perisai miliknya, dalam sekejap tangan kananku terpotong lalu ditelannya.
Darah menyembur dari lenganku bertepatan saat aku melompat ke belakang.
"Tuan."
Ketiga malaikat hendak bangkit namun aku segera menghentikan mereka.
"Jangan bergerak, dia musuhku."
Aku menggunakan sihir penyembuh untuk menghentikan pendarahannya. Yang barusan di makannya terdapat cincin Immortal Different Ring, jika aku mati sekarang aku pasti tidak akan bisa hidup lagi.
Dengan arogan Venosa mengambil potongan tanganku yang dimuntahkan oleh perisainya selagi menggoyang-goyangkannya di udara, dia juga melemparkannya seperti sebuah mainan.
"Bagaimana rasanya kehilangan tanganmu?"
"Sakit sekali."
"Jangan khawatir serangan selanjutnya akan terasa lebih menyakitkan."
Aku melirik ke arah Gabriela yang terlihat khawatir, jika begini aku tidak perlu memikirkan dua kali untuk menggunakan Extra Skill, kubuka jendela menuku lalu menekan [Tranformasi Iblis].
Saat Venosa tepat di hadapanku, aku memukul wajahnya sebelum dia bisa menahan dengan perisainya hingga dia berguling-gulung di tanah sebelum menghantam bangunan di belakangnya.
Aku memperhatikan tangan kiriku yang tampak besar serta di penuhi bulu hitam atau sejujurnya seluruh tubuhku juga berbulu, karena penasaran aku berjalan ke salah satu bangunan untuk melihat diriku di cermin.
Kukira aku akan sedikit menakutkankan sayangnya tidak begitu. Wajahku menyerupai serigala dengan dua ekor di belakangku.
"Tuan sangat imut, boleh aku mengelusmu."
__ADS_1
"Berisik... ini bentuk terkuatku."
Ferida dan Nal tampak menahan tawa mereka.