
Aku memanggil Bellatrix keruanganku.
"Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?"
"Aku ingin kau mengantarkan surat ini kepada petinggi di kota suci."
"Surat pentingkah?"
"Aku akan membayarmu dengan harga mahal."
"Rasanya jika aku mengantarkannya, aku akan mendapatkan masalah."
"Tiga kali lipat."
"Tidak, tidak, aku anti sogokan."
"Sepeti penuh koin perak."
"Aku terima."
Bellatrix menerima surat yang kuberikan padanya.
"Ngomong-ngomong apa isi surat ini?"
"Lain kali kau akan tahu, saat dalam perjalanan jika ada seseorang yang menyerangmu pastikan kau memperhatikan mereka tanpa membuatnya terluka."
"Sudah kuduga ini berbahaya," katanya lemas.
"Gunakan pintu?" teriakku.
"Repot ah."
__ADS_1
Bellatrix keluar lewat jendela tanpa memperdulikan peringatanku, dia memang naga bebas yang sulit dikendalikan akan tetapi dengan kecepatan terbangnya tidak akan ada masalah.
Aku punya alasan kenapa aku melakukannya? Jika aku mau aku bisa dalam sekejap pergi ke kota suci hanya saja, aku tidak akan tahu siapa saja lawan yang akan kuhadapi sekarang.
Aku memang memiliki urusan dengan raja dunia bawah akan tetapi ini berbeda, lawan yang kuhadapi bisa dibilang adalah musuh baruku yang tidak ada hubungannya dengan masa lalu. Karena itu mempunyai banyak informasi sangat dibutuhkan untuk melawannya.
Beberapa saat menunggu Mary dan Momoko masuk ke dalam ruanganku.
Mary tampak kebingungan lalu tanpa ragu bertanya.
"Bukannya aku seorang tahanan, kenapa kau melepas rantaiku?"
"Kurasa tidak ada alasan untuk terus mengikatmu, aku berniat memperkerjakanmu di desa ini.. tentu saja kau bisa menolak dan bergabung dengan raja dunia bawah... tergantung pilihanmu aku akan menerimanya, akan tetapi saat bertemu lagi aku tidak akan ragu membunuhmu."
Sebelumnya saat aku hendak membunuh Mary, dia tampak gemetaran serta menangis, sampai sekarang aku belum menanyakan apapun namun aku tahu ada sesuatu yang ia ingin lakukan.
Sampai dia mau berbicara aku akan menunggunya.
Keheningan terasa diantara kami berdua dan apa yang menjadi jawaban Mary ialah..
"Kenapa tidak, aku yakin dengan keputusanku."
Aku mengambil dua seragam dari laciku yang kuberikan pada keduanya.
"Apa ini tuan Kazuya?" tanya Momoko.
"Itu adalah seragam kalian, aku perlu sebuah kelompok untuk menjaga keamanan seluruh desa, aku menjadikan kalian berdua sebagai komandan dari kelompok yang akan kubuat.. tolong gunakan itu dan kembali lagi keruanganku."
"Baik."
Bukannya pergi mereka malah menggantinya tepat di depan wajahku.
__ADS_1
"Kalian berdua?"
"Tidak apa menunjukan tubuh telanjang kami pada tuan."
"Lebih cepat seperti ini."
Aku menghela nafas panjang.
"Kalian bisa memanggilku Kazuya saja."
"Tuan Kazuya."
"Terserah kalian saja."
Mereka melepaskan pakaian mereka dan hanya menyisakan pakaian dalam saja, pertama yang mereka pakai adalah sebuah kemeja putih dengan dasi kupu-kupu berwarna biru kemudian disusul rok pendek yang berwarna sama dan yang terakhir sebuah blazer setinggi pinggang.
Dibanding disebut baju kesatria itu lebih cocok seperti pakaian dari sebuah akademi sihir. Yang membedakannya hanya logonya.
"Kalian sangat cocok."
Wajah mereka memerah, harusnya dari awal mereka sudah malu karena dengan santainya menunjukan seluruh badannya di depanku.
Sekarang aku tidak bisa langsung berdiri dari kursiku.
Aku mengeluarkan dua pedang dari sihir penyimpananku. Momoko sudah memiliki dua pedang dan sekarang dia memiliki tiga pedang.
"Ambilah ini juga."
"Kalian bisa merekrut hanya 10 orang saja yang berpotensi dari setiap desa kemudian tulis biodatanya dan berikan padaku."
"Kami mengerti."
__ADS_1
"Untuk sekarang kita akan pergi ke suatu tempat dulu."
Keduanya mengangguk mengiyakan.