
Keesokan paginya keduanya menuruni lantai lebih jauh, mereka menghadapi para serigala bertanduk yang mana setiap tubuh mereka dikalahkan itu berubah menjadi koin-koin emas.
"Enchanter.... Double Slash."
Menggunakan pedang serta belati. Len mengayunkan senjatanya seolah menari-nari di udara, bilah yang dia kirim memotong seluruh target di sekitarnya, tepat saat seekor serigala yang lebih besar siap menerkam Len.
Sihir Falena melumpuhkannya.
"Lightning Saber."
Wuss.
Tubuh itu terbakar dalam sekejap hingga koin emas bergelinding di bawah kaki Len.
"Satu lagi jatah untukku."
"Jangan diumpetin," teriak Falena.
Setiap kelipatan 10 mereka akan berjumpa dengan bos dan sekarang mereka menghadapinya untuk sekian kali, sekarang lawan yang mereka akan hadapi adalah serigala hitam dengan tiga kepala.
"Kabold."
Len melesat maju, sebelum dia bisa mengeluarkan sihirnya sebuah celah dari bawah tanah menahan kakinya.
"Celaka."
Len menyilangkan tangannya kendati demikian tubuhnya di terbangkan jauh menabrak dinding gua dengan dentuman keras.
__ADS_1
"Len."
"Jangan kemari, fokuslah pada musuh kita."
"Tapi."
"Aku tak apa."
"Beraninya kau menyakiti Len, akan kuhajar kau."
Falena yang selalu diam di garis belakang sekarang menerjang maju, dia menggunakan petir untuk menghancurkan setiap celah yang dibuat dari sihir itu.
Saat tepat berhadapan dengan serigala tersebut, tongkatnya bersinar terang yang mana meledakan kepala serigala hingga mengerang kesakitan.
Len yang sudah bangkit berlari dengan sihir percepatan lalu menyelinap ke bawah tubuh musuhnya dan berkata.
Sekitar lima lingkaran sihir muncul di pedangnya saat dia mengayunkannya sebuah bilah api merobek di bawah perut kemudian memotong menjadi dua bagian sebelum akhirnya berubah jadi puluhan keping emas yang berjatuhan menimpa tubuh Falena dan Len yang berbaring di bawahnya.
Mereka berdua tertawa.
"Kita berhasil mengalahkannya."
"Ini semua berkat dukunganku," potong Falena dan Len memilih untuk tidak membalasnya dan mulai mengumpulkan koin tersebut sebelum kembali ke asrama.
Len menjatuhkan tubuhnya di ranjang begitu pula Falena, untuk sementara waktu mereka memilih untuk tidak pergi ke dungeon lagi.
***
__ADS_1
Merasakan hembusan angin dingin menerpa wajahku aku bersama istri dan putriku telah siap di ladang persawahan, ini adalah panen pertama kami jadi semua pekerjaku ikut membantu juga bersama para demi human.
Kami mengenakan pakaian kasual dengan topi dari anyaman bambu serta sandal jepit dari jerami, semua hal tampak tradisional di sini.
Berbekal sabit kami mulai memotong bagian bawah padi kemudian mengumpulkannya di satu tempat beralaskan plastik hingga menggunduk, setelah itu kami mulai dengan perontokan padi dengan memukul-mukulnya hingga butir-butir padi berjatuhan dan kami masukan ke dalam karung yang telah di sediakan setelah membersihkannya.
Dari sini langkah selanjutnya masih terbilang panjang.
Kami akan melakukan pengeringan dengan cahaya matahari sebelum akhirnya digiling menjadi butiran beras, dengan sistemku aku sudah membuat mesin yang bisa membantu semuanya dengan mudah.
Kami hanya akan menyerahkan sisanya pada para demi human.
"Semuanya sudah beres, terima kasih atas kerja kerasnya."
Tepuk tangan mewarnai akhir dari panen ini.
Beberapa minggu selanjutnya udara yang dingin telah berubah menjadi butiran salju yang berjatuhan, di mansionku kami telah bersiap-siap dengan pakaian yang hangat serta sebuah perayaan besar.
Para pelayanku telah membuat semua olahan daging serta makanan pelengkap bagi seluruh penghuni mansion, maksudku seluruh adalah semuanya.
Dari lantai atas Yuki yang selama ini terus mengurung dirinya dalam kamar es akhirnya turun, dia melirik ke arah kami yang sudah menyambutnya dengan senyuman.
"Setahun ini pasti banyak hal yang kulewatkan, rasanya seperti tertinggal sendirian."
"Tentu saja tidak, kami akan pelan-pelan menceritakan semuanya," balasku demikian.
"Itu pasti menyenangkan," katanya tersenyum senang.
__ADS_1
Berbeda dengan kami, Yuki adalah roh salju dan hanya bisa keluar pada musim dingin seperti ini saja.