Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 192 : Mencari Uang


__ADS_3

Beberapa hari selanjutnya kami memutuskan untuk pergi ke kota suci Imperial untuk berjualan aksesoris terbuat dari kayu.


Karena Rin menjadi buronan pihak kerajaan, pemburu hadiah serta pahlawan, dia menyembunyikan wajahnya di dalam tudung merah, sementara untuk barang jualan semuanya tersimpan baik di sihir penyimpanan Gabriela.


Baru saja memasuki gerbangnya seorang pria beriman mendatangi kami lalu memperkenalkan diri serta menawarkan untuk bergabung di salah satu kultus Dewi dari kota ini.


Sebenarnya aku memuja Dewi Ristal karena itu aku tidak bisa pindah begitu saja, akan tetapi pria itu terus saja mengajak kami, dia berbicara dengan cepat hingga kepalaku pusing.


Rin yang kesal meninju wajah pria beriman tersebut hingga pingsan dan terkapar di lantai batu.


"Apa yang kau lakukan pada orang suci," teriakku frustasi.


"Orang ini menyebalkan."


"Tidak, tidak, itu bukan alasan untuk memukul seorang, kita akan dapat masalah."


Gabriela berjongkok lalu mengambil rambut pria itu yang terlepas.


"Lihat ini tuan, aku bisa memakai ini."


"Dia botak," teriakku kembali.


Lalu.


"Ah, di balik bajunya ada kantong uang sangat banyak," tambah Amnestha.


"Soal itu, mari sembunyikan di tempat aman," kataku dengan percaya diri.


Setelahnya kami mengikat orang pingsan itu dengan sulur tanaman lalu memasukannya ke dalam gentong kemudian mengirimnya dengan kereta kuda.


"Dengan ini semuanya aman, mari pergi."


Ketiga pelayanku menatapku selagi menyipitkan mata mereka.


"Dasar pengumpul uang haram."


"Berisik, aku perlu uang."

__ADS_1


Kami melanjutkan perjalanan ke area dimana wilayahnya dijadikan tempat berjualan, awalnya semuanya tampak biasa saja akan tetapi ada yang aneh.


"Silahkan beli ramen kami, jika bergabung dengan kultus Dewi Ristal potongan harga 50 persen."


"Sayap ayam, potongan 60% bagi yang mau bergabung dengan kultus Dewi Ariel."


"Tujuh puluh persen bagi yang mau mendaftar ke kultus Dewi Hecate."


"Delapan puluh persen, bagi kultus Dewi Amnesia."


Bahkan sebelum perang kami sudah kalah harga.


"Mari cari kota lain," aku hendak pergi namun Gabriela memegangiku.


"Kita sudah datang kemari jauh-jauh, paling tidak coba sebentar saja untuk menawarkan barang kita."


"Jika kau bilang begitu, apa boleh buat."


Kami menggelar tikar lalu menumpuk barang dagangan di atasnya, aku sudah menyiapkan penyamaran karena itu di saat jualan namaku bukan Beaufort Reymond melainkan Mr. Untung."


Penampilanku mengenakan setelan jas serta kumis hitam melingkar.


Ketiga pelayanku juga ikut menawarkan barang dagangan pada para pejalan kaki, beberapa orang mulai mengerumuni lapak kami


Kebanyakan adalah aksesoris yang bisa dipakai kebanyakan wanita tapi ada juga peralatan rumah tangga dari kayu sebagai tambahan.


"Gayung kayu, gayung kayu."


"Aku beli satu."


"Itu jadi 5 koin perak."


"Tidak masalah."


"Terima kasih sudah berbisnis, siapa lagi yang mau? Silahkan dipilih-dipilih, semua barangku sangat bagus dan murah, aku Mr. Untung Alim Rugi, menjamin kualitasnya."


"Mr Untung berapa ini?"

__ADS_1


"Sama, 5 koin perak."


"Jika beli tiga."


"Jadi 20 koin perak," jawabku singkat.


"Bukannya itu malah mahal."


"Kalau beli lima aku beri 25 koin perak, bagaimana?"


"Sepakat."


"Untung, untung, siapa lagi?"


Salah satu pria tampak kebingungan selagi memegangi jualanku.


"Apa ini Mr Untung?"


"Itu topi kayu, kau bisa memakainya di kepalamu."


Sebenarnya itu hanya mangkok berukuran besar.


"Begitu, apa aku terlihat keren?"


"Keren sekali, anda sangat tampan memakainya."


"Berapa?"


"Lima koin perak saja," kataku selagi memainkan kumisku.


"Itu terlalu mahal, sepuluh koin perak."


"Setuju, aku akhirnya bisa membelinya murah."


Orang ini berusaha melawak kah?


Sayangnya dia cuma amatiran tidak sebanding denganku.

__ADS_1


"Datang lagi, kami akan tinggal di sini selama tiga hari jadi jangan khawatir, di sini untung, di sana untung, di tengah-tengahnya ada untung untung, pembelinya bingung, penjualnya lebih bingung, tapi yang penting untung."


Ketiga pelayanku hanya menatapku dengan pandangan ikan mati.


__ADS_2