
Beberapa hari semenjak kepergian Rima untuk mengikuti pertandingan yang dia inginkan, aku memanggil Momoko, Mary, dan Koko ke ruanganku.
Ketiganya adalah pemimpin yang bertugas bersama serigala Wolfbeast yang menjaga keamanan desa.
Momoko adalah seorang yang berasal negeri sakura.
Mary seorang dari dunia bawah sementara Koko gadis kecil yang sangat kuat dan memiliki keadilan tinggi.
Ketiganya memberikan laporan seperti biasanya dan semuanya masih terkendali. Tidak ada orang yang cukup bodoh untuk membuat keributan di desa ini.
"Kerja bagus."
"Kalau begitu kami permisi."
Aku hanya melihat kepergian mereka bertiga dari tempatku duduk sampai seorang menerobos masuk.
Iris yang mengenakan pakaian pelayan tampak berusaha menghentikannya.
"Nyonya, tolong tunggu sebentar."
Iris tampak kesulitan jadi aku mengatakan tidak apa-apa hingga orang yang menerobos itu, langsung mencengkeram bajuku.
"Cepat berikan pedangku."
Yang mencengkeramku adalah Yumia, ratu Siren yang kutemui waktu itu. Dia tampak kesal jadi aku segera memberikan pedang miliknya.
"Kukira kau akan mempermainkanku dulu sebelum memberikannya."
"Alasanku memintamu datang ke sini untuk menunjukan bahwa manusia tidak sejahat yang kau pikirkan."
__ADS_1
"Meski begitu, pikiranku tidak akan berubah, aku masih tetap akan mengambil jantung para pelaut."
"Begitu, sayang sekali."
Aku menyandarkan punggungku di kursiku.
"Kau tidak mengatakan apapun lagi?"
"Kurasa tidak ada yang perlu dikatakan, tadinya aku ingin menawari ras Siren tinggal di desaku tapi sayangnya kau masih tidak bisa berubah... di sini ada pakaian, makanan yang berlimpah bahkan ras Siren bisa bekerja dengan baik dengan bayaran cukup menyajikan... Iris, tolong antar dia kembali."
"Silahkan nyonya."
Tepat saat Iris mengajak Yumia pergi para Siren yang pernah menjadi bawahannya muncul di depannya dengan seragam serupa.
"Kalian semua?"
"Kuharap ratu bisa mempertimbangkannya, bukannya lebih menyenangkan tinggal di sini, di sini ada cokelat yang tidak ada di laut."
"Benar."
"Kalian semua? Aku tidak akan merubah pikiranku."
Yumia melirik ke arahku seolah berkata, apa yang telah kau lakukan pada Siren yang sebelumnya melayaniku.
Aku berkata.
"Kau bisa mencoba tinggal di sini selama tiga hari, jika kau merasa nyaman, kau bisa mengatakan bahwa ras Siren akan pindah kemari tapi jika sebaliknya..."
"Pikiranku tidak akan berubah."
__ADS_1
Aku mengangkat kedua bahuku ringan selagi berkata.
"Mau dicoba?"
"Baiklah, ini hanya untuk membuktikan bahwa aku tidak akan berubah pikiran."
"Iris tolong layani Yumia selama dia berada di sini."
"Tentu, serahkan padaku... mari ikuti aku."
"Ah iya."
Mereka semua akhirnya pergi.
Masih pagi keributan sudah terjadi, apalagi saat ini seseorang sedang berusaha membuka jendela.
Dia mengetuk-ngetuk selagi mengembungkan pipinya.
"Kenapa malah dikunci."
Yang mencoba masuk itu adalah Katharina, seorang vampir yang bertanggung jawab di desanya. Aku akhirnya membuka jendela tersebut hingga Katharina bisa masuk lalu duduk di sofa.
"Kenapa kau datang kemari?"
"Tentu saja untuk menggodamu, lagipula aku suka suasana di sini."
Orang yang tidak tahu malu meskipun dia memang tidak mengenakan apapun, kuharap lain kali dia bisa menggunakan pintu semestinya.
Aku kembali duduk di kursiku lalu mengisi beberapa dokumen yang masih belum kuselesaikan, rencananya di pusat desa akan dibangun akademi karena itu, aku harus segera mempersiapkan semuanya dengan baik.
__ADS_1
Dibanding membuatnya dengan skillku aku lebih suka mempekerjakan orang-orang untuk melakukannya.