
Naga itu meraung untuk mengintimidasi kami berdua, dari dua kepalanya masing-masing menembakan sihir yang berbeda, antara es dan Api.
Di saat kedua serangan itu datang, sebuah perisai melindungi kami berdua.
"Nice Hecate, mari bergerak Kazuya."
"Aah."
Kami berdua berpencar ke samping, kulihat Dewi Amnesia mengeluarkan potion berwarna merah lalu meminumnya.
"Hora."
Dengan ayunan pedangnya HP Hell Dragon berkurang sepuluh ribu. Sayang sekali bos ini berada di HP satu juta hingga perjalanan mengalahkannya masih panjang.
Aku mengincar kepala di kiri, dengan skill kapak aku bisa memberikan damage dua lipat dari damage dasar. Itu jelas tidak cukup menumbangkannya akan tetapi bisa sedikit mengalihkan perhatiannya.
Tubuhku dihantam kaki depannya membuatku berguling-guling di lantai menabrak dinding, di saat aku membutuhkan sihir penyembuh di mana pendetanya.
"Nice Kazuya."
"Nice pala lu, naga ini memiliki Stun sampai efeknya hilang aku tidak bisa bergerak."
"Paling tidak kau bisa berbicara..
Hecate cepat sembuhkan Kazuya."
"Aku sedang mengumpulkan energi, aku sedang sibuk."
Ini di dunia game semua energi bisa didapatkan dengan meminum Potion, mana ada yang bermain cuma nunggu bar MP-nya terisi sendiri, keburu mati ituh.
__ADS_1
Dewi Amnesia telah mengirimkan tebasan dari pedangnya, aku pikir dia sudah meminum ramuan sebanyak 50 botol.
"Haha ini baru menarik, bos terakhir memang menantang."
DUAR.
Tubuhnya diinjak sampai gepeng, aku yang sudah bisa bergerak mulai kembali menyerang Hell Dragon dengan skill sihir seperti petir dari kapakku, sudah kuduga harusnya aku memilih palu biar keren.
Aku melompat selagi membacok memberikan tebasan yang sempurna, di saat aku melawannya sendiri tampak Dewi Hecate sedang memompa tubuh Dewi Amnesia supaya kembali sedia kala.
Aku terus menyerang selagi mengalihkan perhatiannya, terkadang aku mengeluarkan potion untuk mengisi bar Hp-ku sebelum menyerang kembali.
Kini kedua Dewi juga menyerang dari belakang, Dewi Hecate menancapnya tongkat ke lantai dan berkata.
"Paralysis."
Dalam sekejap Hell Dragon tidak bisa bergerak, di saat itu aku dan Dewi Amnesia menggunakan skill yang kami miliki hingga mengabiskan seluruh energi, meski begitu kami baru bisa menguras setengah dari bar statusnya, sebagai serangan balasan naga ini menginjakkan kedua kakinya untuk membuat gelombang yang menerbangkan kami semua.
"Kakiku lenyap."
Dia tidak akan bisa bergerak sementara waktu, di saat yang sama sebuah botol kecil menggelinding ke kakiku.
"Gunakan itu, aku memiliki banyak potion," kata Dewi Amnesia.
Orang ini tipe orang yang membeli sebanyak-banyaknya ramuan potion hanya untuk mengalahkan bos kecil.
Tapi, kurasa hal ini sangat membantu, ketika Amnesia menekan menu statusnya ribuan potion yang ditaruh di item penyimpanannya berjatuhan dari langit.
"Haha dengan ini gunakan terus skillmu tanpa batas."
__ADS_1
Dewi ini lebih parah dari yang aku kira.
Selagi aku mengisi diriku hingga batas full, secara bergiliran aku dan Dewi Amnesia menggunakan Skill kami secara terus menerus, hingga pada akhirnya kami mengalahkannya.
"Akhirnya aku berhasil, kerja bagus kalian."
"Itulah kehebatanku, ngomong-ngomong kenapa kakiku nggak tumbuh lagi?"
"Kau harus minum potion ini biar cepat pemulihannya."
"Ah, aku mengerti."
Aku yang memperhatikan hanya mendesah pelan, dan kulihat tubuhku mulai memudar juga .
"Sudah waktunya aku kembali."
"Ah sayang sekali, padahal aku masih punya game yang bisa kita mainkan bersama."
"Aku ini terlalu sibuk, mungkin lain kali."
"Terima kasih, aku menantikannya."
Aku hanya tersenyum kecil lalu saat membuka mata, istriku dan penghuni masion lainnya sudah mengerumuniku dengan spidol di tangan mereka.
"Tunggu, apa yang kalian lakukan? Ah, kemarilah, akan kucoret wajah kalian juga."
"Uwahh... Lari."
Mereka menghilang dengan cepat.
__ADS_1
Orang-orang di masion ini memang jahil.